Seri Tokoh: Menelusuri Spiritualitas Pdt. Kuntadi (1)

Warga GKI, tentu ingat Selusur Spiritual adalah judul atas beragam refleksi khas Pdt. Em. Kuntadi Sumadikarya. Di dalamnya, orang bisa melihat kedalaman teologis atas sejumlah persoalan keseharian dan yang dihadapi gereja. Meski demikian, Pak Kun tetap berbeda gaya dengan para penulis GKI lain, sebutlah Pak Eka atau Pak Andar, sebagai contoh.

Meski sama-sama sederhana, tulisan-tulisan Pak Kun, tetap bergaya unik. Di dalamnya memang sama-sama ada unsur penggembalaan dan refleksi, tapi sepertinya tulisan Pak Kun sangat cocok direnungkan sembari memikirkan persoalan yang dialami gereja dan aktivisnya.

Pengalamannya tiga periode menjadi ketua Sinode GKI SW Jawa Barat, tentu sedikit banyak memberi warna itu. Pun sejumlah refleksi yang dikembangkan di Selusur Spiritual, awalnya memang merupakan pemandangan umum untuk persidangan gerejawi. Pak Kun ada diantara seruan di mimbar gereja, seruan di persidangan jemaat, serta seruan untuk masyarakat. Ada semangat untuk menghadirkan refleksi kehidupan Kristen, sekaligus ketegasan koreksi di dalamnya. Ini yang membuatnya seolah ada diantara gaya Pak Andar yang amat keseharian dan egaliter, atau gaya Pak Eka yang kritis, konseptual dan filosofis.

Macan yang Jadi Begawan
Pria kelahiran Jakarta, 3 November 1949, agaknya memang disiapkan untuk penggembalaan yang khas, yang kadang menyentuh hal-hal pelik di tubuh gereja.

Pdt. Sheph Davidy Jonazh, ketua umum BPMSW GKI SW Jabar saat ini, pernah memberi komentar selaku orang yang lama bekerja bersama Pak Kun. Pdt. Davidy menilai, ada dua gaya Pak Kun yang ia kenal: “Pak Kun muda dan Pak Kun tua.

Bagi Pdt. Davidy, Pak Kun muda (pertengahan 1970-an sampai pertengahan 1990-an) adalah sosok yang dikenal sebagai macan rapat. Cerdas dan jeli melihat permasalahan serta punya fighting spirit yang tinggi. Ia adalah organisator yang handal. Cukup banyak perubahan organisasi yang fundamental dan efektif, yang dilakukannya selama Pak Kun aktif di kepengurusan majelis Sinode Wilayah. Pak Kun paham hal praktis maupun konseptual dan bagaimana keduanya diselaraskan lewat persidangan dan keseharian bergereja.

Di masa-masa inilah sangat terlihat sisi tegas Pak Kun. Misalnya saja, saat ia meredakan perdebatan soal dilibatkannya Klasis Priangan dalam penyatuan GKI (sebelum 1988). Bagi sebagian pihak kala itu, warna Priangan yang lebih evangelikal, dianggap kurang sesuai dengan ciri Sinode GKI yang ekumenikal. Pendekatan hitam-putih seperti itu memang gampang dimengerti, namun bukanlah ciri GKI.

Saat itulah Pak Kun yang menjabat sebagai Sekum BPMSW mengajukan pertanyaan retoris: “Kalau ibaratnya orang mau kawin, salah satu pasangannya meminta agar pasangan yang lain memotong tangannya dulu, kira-kira perkawinan itu akan jadi atau tidak?” Perdebatan itu pun selesai. Hingga kini Klasis Priangan tetap menjadi satu kesatuan dengan GKI.

Contoh lain adalah saat sebagai Wasekum (1980-an) ia ngotot menggagas pembinaan untuk mahasiswa teologi. Baginya sangat penting sinode mengurus pembinaan mahasiswa teologi yang disiapkan untuk menjadi pendeta ini. Meski dengan sumber daya yang terbatas kala itu, Pak Kun tetap jalan bersama Pdt. Robby Chandra. Pembinaan khusus inilah yang menghasilkan sejumlah kader pendeta GKI yang kini dikenal sebagai pimpinan gerejawi dan sejumlah keahlian yang spesifik (misal: Pdt. Arliyanus Larosa, Pdt. Yos Soleiman, Pdt. Rasid Rachman, dll).

Ciri yang segera menonjol dari Pak Kun muda ini adalah bicara yang tajam serta gaya yang efektif. Mungkin Pak Kun disini jadi terlihat jarang senyum atau bercanda. Sementara Pak Kun tua (selepas tengah 1990-an), nampaknya adalah orang dengan pembawaan yang matang, tenang serta sangat mendalam. Ia tetap mengkritisi gereja, namun dengan gayanya yang matang dan sosok kebapaan.

Ia semakin suka menulis dengan gaya pengajaran. Ini yang menjadikan refleksinya selalu menjadi hal yang ditunggu. Ia menjadi seperti seorang begawan, guru pertapa yang tajam sekaligus lembut dalam memberi ajaran.

Di era ini Pak Kun jauh lebih dikenal sebagai penggagas dan penginspirasi untuk gerakan kemanusiaan (GKI Humanitarian/Gerakan Kemanusiaan Indonesia, Yayasan KAUM, Gerakan Oikotree), hal yang lebih menyentuh persoalan fundamental di masyarakat. Refleksi-refleksinya pun kian bernas dan kaya.

**
Dua gaya itu tetaplah bersumber dari pribadi dan semangat yang sama. Satu kali Pak Kun pernah berujar: “Orang semakin tua, semakin sedikit berbuat kesalahan.” Nampaknya, ia membuktikan ucapan itu dalam Selusur Spiritual hidupnya sendiri. **arms

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA