Seri Tokoh: Mengurai Selamat dari Pdt. Andar Ismail (1)

SELISIP sempat bertanya pada sejumlah warga jemaat GKI, tentang apa yang paling mereka ingat dari sosok Pdt. Andar Ismail. Umumnya mereka langsung menjawab, “Selamat…

Jawaban yang mengacu pada serial buku-buku Pdt. Andar itu, tidak beda jauh dengan jawaban kebanyakan umat Kristiani lain. Umumnya orang kenal buku Selamat Natal dan Selamat Paskah yang rampung pada 1981-1982. Juga Selamat Pagi Tuhan yang ditulis sepuluh tahun kemudian, disusul oleh 26 buku Selamat lainnya.

Bulan lalu (14/8), Pdt. Andar menerima penghargaan sebagai tokoh insipratif dari Panitia Festival Sastra & Rupa Kristiani 2018. Penghargaan tersebut mengapresiasi tulisan-tulisannya di Seri Selamat yang dinilai telah menginspirasi gereja, jemaat, dan pendidikan teologi.

Seri Selamat merupakan buku pendidikan iman Kristiani. Di dalamnya tentu terdapat renungan dan ayat Alkitab. Namun, yang membedakannya dengan kebanyakan buku pembinaan iman lainnya adalah bentuknya yang dikemas dalam konsep bacaan populis. Orang akan menemukan tuturan khas Andar, begitu ringan dan mengalir, di balik konsep tema besar yang ia siratkan di dalamnya.

Dalam tulisannya, pendeta kelahiran Bandung, 27 Januari 1940 ini, berbicara sekian banyak tema dan banyak sekali konsep yang sangat filosofis. Namun, begitu dekat dengan keseharian. Hampir tidak ada kosakata dan pengalimatan rumit dalam tulisan-tulisannya. Agaknya ia dikaruniai kemampuan khusus untuk meramu semuanya menjadi bentuk yang begitu bersahaja.

Barangkali kebersahajaan itu tak lepas dari latar belakang masa kecilnya yang sangat sederhana…

Andar dan Imajinasi Menulis
Pada usia-usianya yang paling belia, Siem Hong An, Andar kecil, hampir tidak punya mainan dan sarana bermain. Di kitaran usia tiga tahunan, tiap hari selama berjam-jam, ia bermain seorang diri. Andar memainkan apa saja yang ada di dekatnya, termasuk daun kering dan patahan ranting yang berserakan di halaman rumahnya yang sempit.

Mama, tadi owe ketemu gajah, main dengan gajah,” lapornya pada ibu. Laporan itu bukanlah sekali dua kali, namun sang ibunda senantiasa memberikan tanggapan positif, sembari bertanya lebih detil, “Berapa ekor gajahnya? Belalainya panjang yah? Siapa namanya?

Bocah itu mulai bercerita panjang lebar tentang si gajah. Lengkap dengan penggambaran akan rupa dan gerak-geriknya. Ibunda pun tetap mendengarkan semua cerita-cerita dari Andar. Tanpa mereka sadari ini menjadi titik awal si kecil Andar untuk mengembangkan ketajaman konsentrasi, kemampuan berimajinasi, dan kebebasan berekspresi.

Imajinasi itu semakin kaya, saat ia mengenal dunia baca-tulis. Sejak kelas 4 SD, demi membantu biaya sekolah, Andar menjalani pekerjaan sampingan sebagai pengantar koran. Disitulah ia menyaksikan betapa orang ternyata membutuhkan tulisan.

Ketika antar itu koran, saya lihat ada pelanggan yang sudah tunggu, saya jadi semangat. Saya berpikir, wah penting ini, saya jadi orang penting karena antar koran. Kalau orang yang ngantar koran saja penting karena ditunggu orang, apalagi yang nulis di koran. Sejak saat itu saya mau jadi penulis,” ungkap Andar dalam satu wawancara.

Benih Kecil di Gereja
Namun, ini bukan soal keahlian mengarang dan menulis semata. Dalam seri yang berjudul Selamat Bergereja (2010), Andar mengungkapkan dirinya bagaikan benih kecil yang ditanam di gereja. Sejak umur 4 tahun Andar sudah mengikuti kegiatan sekolah minggu di GKI Kebonjati, Bandung. Sedangkan SD Kristen tempatnya pertama kali mengecap pendidikan berada di belakang gereja. Singkat kata, Andar tumbuh dan besar di gereja.

Entah sengaja atau tidak, ibu menanam saya di pelataran gereja. Saya merupakan benih kecil yang ditanam, di situ saya bertumbuh. Dari anak diakoni menjadi pendeta, dari murid sekolah minggu menjadi dosen teologi, dan dari bocah yang belum bisa membaca jadi penulis buku,” tulisnya.

Tak hanya bergumul dengan kegiatan. Andar pun masuk ke dalam seluk-beluk pemikiran Kristiani. Sejak usia remaja ia hampir setiap hari mengunjungi toko buku Badan Penerbit Kristen di Jl. Pasir Kaliki, Bandung. Disitulah ia berkenalan dengan sejumlah pemikir Kristen seperti Verkuyl, Leimena, Notohamidjojo dan Kraemer. Pengetahuan Andar ini, membuat dosen-dosen di Sekolah Teologi Balewijoto kaget dan terpesona, saat mereka menguji Andar di ujian masuk tahun 1957.

Di sekolah teologi, Andar semakin melihat panggilan khusus untuk diemban. Selama studi itu, Andar seringkali bosan dengan ceramah ataupun khotbah serta catatan kuliah dari pengajar-pengajarnya yang ia anggap terlalu bertele-tele. Inilah yang makin memacu Andar untuk menjadi pengajar dan penulis.

Jadi saya menulis, terdorong oleh keinginan untuk menjelaskan sesuatu yang susah secara mudah, tidak panjang lebar tetapi singkat-singkat. Tidak membosankan tapi memikat, kalau perlu ada humornya,” jelas Andar.

**
Cita-cita Andar untuk dikenal dan menggembalakan lewat tulisan, memang baru mulai terwujud puluhan tahun kemudian. Namun, jika kita kini membaca dan mengurai lagi Seri Selamat, akan jelas terlihat jejak-jejak tadi. Keluasan wacana pemikiran dan imajinasi, kesederhanaan yang gigih di keseharian, serta kecintaan Andar yang amat dekat dengan gereja, hadir di setiap kalimat-kalimat refleksinya di Selamat. **arms

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA