Setelah Meninggal Kemana?

Pada umumnya, pada saat kita menghadiri ibadah tutup peti atau pemakaman, kita selalu diberi keyakinan terkait kemana hidup kita setelah meninggal. Bahwa sebagai anak-anak Kristus, kita tidak usah menguatirkan apa pun juga, karena kita pasti masuk ke surga.

Tetapi benarkah demikian? Ataukah semua orang yang meninggal sebenarnya masih berkumpul di suatu tempat dan menunggu sampai Yesus kembali lagi ke dunia pada akhir zaman dan Hari Penghakiman itu dilaksanakan?

Beragam posisi tentang hal ini sering menjadi perdebatan. Apalagi jika dikaitkan dengan pemahaman terkait kebangkitan dan akhir zaman. Bagaimana ajaran GKI sendiri terkait permasalahan ini?

Kalau mau dirunut, pertanyaan tentang apa yang terjadi setelah meninggal adalah pertanyaan dari semua yang hidup. Kita ingin tahu, karena kita tahu pada suatu ketika kita akan meninggal. Sayangnya, tepat disitulah ketidakpastiannya. Apa yang terjadi setelah meninggal tetap sebuah misteri. Kita hanya bisa mencari jawabannya dalam keyakinan.

Pandangan inilah yang juga hendaknya mendasari saat kita mencari jawaban dari Alkitab atau ajaran gereja. Ada satu hal yang harus kita sadari terlebih dahulu. Alkitab dan ajaran-ajaran itu adalah panduan buat orang yang hidup, bukan petunjuk buat orang yang sudah mati. Karena itu, kesaksian Alkitab tentang dunia orang mati, selalu dalam hubungannya dengan yang hidup. Kesaksian semacam itu tentu punya keterbatasan karena tidak menguraikan secara rinci tentang dunia orang mati itu sendiri.

Sejauh yang GKI ajarkan sebagai refleksi keyakinan Alkitab, kita meyakini satu hal. Yaitu, ketika seseorang percaya meninggal, maka ia tetap dalam persekutuan dengan Kristus (Roma 8:38-39). Dalam persekutuan dengan Kristus, maka kasih Allah itu akan selalu dialami. Entah dimanapun orang yang telah meninggal itu berada, sepanjang kasih Allah selalu hadir, bukankah ini yang disebut ‘sorga’?

Dalam kerangka berpikir semacam inilah, maka para pendeta yang memimpin ibadah penghiburan ‘berani’ mengatakan bahwa yang meninggal itu sudah berada di dalam sorga. Maksudnya, dalam naungan kasih dan anugerah Allah. Dalam pelukan kasih dan persekutuan dengan Allah. Pun haruslah diyakini ini adalah lebih merupakan bahasa pastoral, sebagai penghiburan dan harapan bagi keluarga dan umat yang hadir.

Kita menyadari Alkitab memang tidak secara jelas menegaskan soal adanya suatu tempat penantian bagi yang telah meninggal. Namun, memang ada kecenderungan, jika kita memperhatikan kesaksian Alkitab tentang penghakiman terakhir, nampaknya orang yang telah meninggal itu masih menunggu di suatu tempat (Wahyu 6:9-11). Namun, dimanapun tempat itu, yang jelas mereka tetap bersekutu dengan Kristus, Juruselamatnya.

Disarikan dari Pastoralia bersama Pdt. Rudianto Djajakartika

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA