Zakheus dan Keadilan

Zakheus orang pendek, kecil betul dia
Dia panjat pohon Ara hendak melihat Yesus

Penggalan lagu sekolah minggu itu seringkali membekas pada gambaran banyak orang Kristen tentang sosok Zakheus. Pria yang dinarasikan bertubuh pendek ini sering pula diceritakan sebagai orang yang serakah dan suka memeras bangsanya. Namun, akhirnya Yesus datang menumpang makan di rumahnya dan singkat cerita ia pun bertobat.

Gambaran itu memang bisa mewakili sebagian sisi dari pemungut cukai ini. Dalam tradisi cukai dan perpajakan Romawi, para pemungut cukai biasanya adalah orang dari bangsa setempat yang memenangkan tender atas target penerimaan pajak terbesar. Tak jarang mereka memperolehnya dengan cara memeras dan memaksa. Wajar jika di mata orang Yahudi, para pemungut cukai dibenci dan dianggap sebagai pengkhianat bangsanya.

Demikian pula dalam tradisi masyarakat Israel yang komunal, orang yang kelewat kaya juga bukanlah hal yang terpuji. Meski dihormati dari segi tampilan, namun kebanyakan mereka kurang disukai saat dibicarakan di belakang. Mereka dianggap sebagai orang yang mengambil lebih dari jatah yang adil atau dianggap tidak cukup peduli untuk berbagi.

Zakheus adalah kepalanya para pemungut cukai. Wajar jika dia memang sangat kaya serta paling dibenci oleh warga Yahudi lainnya. Tak heran saat Yesus menyebut bahwa ia akan makan di rumahnya, Injil Lukas secara totem pro parte menyebut, “… semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut.” (Lukas 19:7).

Pdt. Yolanda membawakan PA tentang Zakheus terkait Perdamaian dan Keadilan di PMSW GKI SW Jawa Barat, Jumat (28/9).

Melihat dari Sisi Zakheus
Meski demikian, Injil Lukas juga mengajak pembaca untuk melihat dari sisi Zakheus. Tubuhnya yang pendek mungkin sedari kecil menjadikan ia sebagai obyek yang terkucilkan. Barangkali ini pula yang membuat orang yang namanya berarti murni/polos itu (Ibrani: ‘zakkay’), harus mengejar kekayaan demi beroleh penghargaan dari masyarakat.

Dalam seruannya, Zakheus bahkan menyebut ‘akan’ memberikan setengah hartanya bagi yang miskin dan ‘akan’ membayar empat kali lipat sekiranya dia telah memeras seseorang. Seruan ini meski punya konotasi futuristik sesungguhnya juga bernuansa present sehingga membuka kemungkinan bahwa ia juga sedang membuktikan diri (vindication) bahwa dirinya bukanlah pemeras yang tamak.

Jika mengaitkannya dengan narasi sebelumnya di Lukas 18 (doa pemungut cukai yang diterima, anak-anak yang terhalang datang ke Yesus, orang kaya yang tidak bisa lepas dari kekayaannya dan orang buta yang berseru pada Yesus), narasi Zakheus dapat dilihat sebagai kontinuitas gambaran orang yang selama ini terhalang datang pada Tuhan karena stigma masyarakat juga karena keterbatasan fisik, namun punya hati yang murni untuk mencari Tuhan.

Zakheus Masa Kini
Siapakah Zakheus di tengah kita saat ini? Ia bisa jadi orang yang dianggap asing dan pengkhianat di tengah masyarakat, ia bisa jadi ada diantara orang yang selama ini dianggap curang dan tamak oleh sekitarnya, atau orang-orang dengan fisik yang berbeda dengan sekitar, namun tetap mengusung kerinduan yang murni akan Tuhan di hatinya. Disinilah gereja perlu mengusahakan keadilan untuk hadir dan berjuang bersama orang-orang seperti ini.

Lebih jauh lagi, gereja bisa saja mengalami apa yang juga dialami Zakheus. Sematan yang tidak adil dari sekitarnya. Disinipun gereja perlu meneladani sosok yang gigih ini,  untuk berjuang membuktikan dan membela diri sembari menyadari kasih Allah yang memampukannya. **arms

[Disarikan dari PA Perdamaian dan Keadilan, Pdt. Yolanda Pantou, disampaikan di Sesi PA PMSW GKI SW Jawa Barat Jumat (28/9)]

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA