Fundamentalisme Kaum Muda di Tengah Revolusi Industri 4.0

Dua hal yang sepertinya bertolak belakang kini terjadi bersamaan. Revolusi industri digital yang dikenal dengan Revolusi 4.0 kini sudah sedang berjalan. Yang paling terlihat tentu saja model bisnis yang amat menekankan kekuatan informasi. Kita pun melihat munculnya sekian banyak kebutuhan dan peluang yang baru. Kebebasan, keterbukaan, kesetaraan, kreativitas dan inovasi adalah ciri yang amat didengung-dengungkan disana.

Namun, ternyata revolusi industri 4.0 tidak selalu linear dengan pemikiran dan sikap hidup yang terbuka, sebab gejala menguatnya primordialisme dan fundamentalisme justru semakin menunjukkan trend. Banyak kemungkinan pertentangan yang mengarah pada konflik.

Dua hal yang sepertinya bertolak belakang ini ternyata kini berjalan beriringan. Terus memborbardir keseharian, termasuk juga keseharian pemuda masa kini. Lantas bagaimana langkah menghadapinya?

Bahasan itu menjadi pembicaraan hangat di Rubrik SEKATA RPK FM pada Rabu lalu (3/10). Pemerhati dan praktisi pendidikan, Christian Freddy Naa, praktisi industri digital Firman Priatno, aktivis sosial dan pemimpin redaksi SELISIP Basar Daniel, serta Pdt. Albertus Patty mendiskusikannya bersama host Martine Dian.

Menurut Christian, ada sejumlah kecakapan yang kian dibutuhkan di era sekarang. “Kemampuan mengolah informasi dan pengerahuan menjadi wisdom, kemampuan melahirkan ide, daya kritis dalam literasi, menghayati rasa, serta hal-hal lain yang semakin menunjukkan ciri manusia, rasanya tidak akan tergantikan oleh mesin, termasuk di era revolusi industri 4.0,” paparnya.

Ia menyorot bahwa hal-hal itu harus semakin ditekankan di pendidikan masa kini. Sebab ke depannya akan kian banyak pekerjaan teknis dan rutin, akan kian tergantikan oleh teknologi. Justru manusia akan banyak dibutuhkan di bidang-bidang baru yang semakin menonjolkan ciri manusia. Upaya yang semakin memanusiakan manusia ini pula niscaya yang akan membentengi kaum muda dari semangat ekstrim dalam beragama. Yang hanya menganggap diri atau kelompoknya saja yang benar.

Talkshow di Studio RPK FM Rabu (3/10)

Meski demikian, sumber daya manusia Indonesia mungkin masih agak tertinggal dalam hal-hal teknis semisal pengetahuan, kemampuan teknologi serta strategi baru dunia pendidikan dan bisnis. Kaum muda Indonesia masih banyak yang masih berkutat di kebutuhan mengakses hal primer seperti pendidikan dan kesehatan. Ada pula yang masih sekedar mengejar penghidupan dan kerja rutin. Meski sudah mulai banyak yang sudah ada di ranah kreativitas menghasilkan karya dengan konten otentik.

Bagi Firman, demikian pula menurut Pdt. Albertus Patty, ketertinggalan ini harus dikejar terlebih dahulu. Harus ada affirmative action yang memungkinkan sumber daya manusia kita mampu menghadapi revolusi industri 4.0, juga bonus demografi di 2030, dengan kompetensi yang mumpuni. Dalam hal ini, peran institusi pendidikan, termasuk pendidikan keagamaan, dituntut untuk kian relevan dengan kebutuhan itu.

Institusi pendidikan dan keagamaan belum menjawab kebutuhan besar itu. Sekedar contoh kebanyakan institusi pendidikan masih berkutat mengarahkan nara didik pada profesi-profesi yang kemungkinan besar akan ditinggalkan seperti pekerjaan yang sifatnya rutin dan non-kreatif. Sementara kebutuhan besar, untuk data scientist misalnya, di hampir semua start-up Indonesia kebanyakan diisi oleh orang luar,” papar Firman.

Hal serupa juga terjadi di gereja. Basar mencontohkan masih sangat sedikit rohaniwan dan media Kristiani yang merambah dunia digital sebagai sarana pelayanan. Padahal kebutuhan itu sudah sangat menganga di kaum muda. Pun ruang ekspresi untuk kaum muda sangat terbatas di gereja.

Masak pemuda yang mahir sistem informasi atau perintis start-up digital, diharapkan jadi pelayan di gereja sekedar menjadi kolektan atau mengklik slide lagu,” demikian para pemateri ini menimpali permasalahan masih sedikitnya ruang yang diciptakan gereja untuk kebutuhan tersebut.

Pdt. Patty berharap institusi pendidikan dan keagamaan bisa merespon untuk menciptakan ruang baru itu dengan kreatif. Sekaligus juga melampaui egosimenya yang primordial. Menghayati bahwa kita semua interdependen, harus saling membangun bukan dengan meniadakan yang lain. Jika tidak demikian, ancaman fundamentalisme yang besar kemungkinan akan mengoyak kemanusiaan. **arms

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA