Kesempurnaan Keluarga

Keluarga berarti tidak ada orang yang akan ditinggalkan atau dilupakan.”— David O. Stiers

Drama mengenai penganiayaan seorang tokoh perempuan baru-baru ini berakhir “bahagia.” Bayangkan betapa mengerikannya masyarakat kita jika berita mengenai penganiayaan terhadap wanita separuh baya itu benar adanya. Tapi sudahlah, tidak ada gunanya membayangkan pepesan kosong yang tidak terjadi, setidaknya kita bisa berbahagia untuk hal itu.

Cerita penganiayaan yang terus berkembang karena dibumbui imajinasi yang luar biasa ini membuat beberapa pihak terkena dampak, tidak hanya para sahabat yang membelanya mati-matian, namun juga keluarga yang bersangkutan.

Ada banyak orang yang merasa prihatin pada kerabat karena membayangkan betapa malunya mereka jika berada pada situasi tersebut. Di media sosial pun orang ramai-ramai berseloroh dengan membuat tagar #saveanakmantu, #mantutertabah, atau ungkapan: “Yang mengeluh soal mertua…belum ngerasain jadi mantu…”  untuk menyatakan bahwa apa yang diperbuat beliau benar-benar mempermalukan keluarga.

Pandangan masyarakat yang beredar ini cukup menarik. Mari kita bayangkan, jika tokoh perempuan ini adalah anggota keluarga kita. Apakah kita akan malu pada keberadaannya dan fakta bahwa ia adalah bagian dari kita? Apa yang akan kita lakukan? Meninggalkannya, tidak mau tahu, tidak mau mengakui keberadaannya, atau justru sebaliknya?

Berjalan bersama sebagai sebuah keluarga dalam segala keterbatasan yang ada harusnya membuat kita menghidupi sebuah kenyataan mendasar untuk selalu disyukuri. Keluarga kita sempurna bukan karena tidak memiliki kekurangan atau pergumulan apa pun, namun karena setiap anggotanya mau menerima, saling membangun, dan berkomitmen untuk mengasihi dalam kelemahan dan kebaikan yang ada.

Tidak hanya tokoh tadi saja yang pernah melakukan hal-hal yang dianggap memalukan. Kita pun pernah melakukannya dengan cara yang berbeda. Kita juga mungkin mempunyai anggota keluarga yang membuat kita “bergumul”, sanak yang harus ditopang karena memiliki keterbatasan, cela atau sejumlah hal lain.

Lantas apa respons kita terhadap keberadaan mereka? Apakah kita malu? Jika kita merasa malu pada keberadaan sanak saudara yang memerlukan perhatian dan bantuan khusus, harusnya kita sendirilah yang malu. Bagaima pun terbatasnya, keluarga kita adalah orang-orang yang Tuhan anugerahkan dalam kehidupan.

Jika kita bergumul dengan keberadaan mereka, lakukanlah sesuatu untuk menghasilkan kebaikan dan pertumbuhan bersama, bukannya tidak bertanggung jawab dengan malu dan meninggalkan mereka.

Penulis: Pnt. Maria Sindhu (GKI Samanhudi)

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA