Melayani Wisolo dan Rogo

Kabar kehadiran pelayanan pengobatan Tim GKI di desa Jono Jinji rupanya didengar desa tetangga, Desa Wisolo. Mereka pun meminta tim datang untuk melakukan pelayanan yang sama. Seusai ibadah Minggu (7/10) dan pendistribusian makan siang di Desa Jono Jinji (nama yang biasa disebutkan warga setempat di Kecamatan Dolo Selatan itu) tim dibagi dua.

Satu tim melanjutkan pelayanan medis di Jono Jinji dan kemudian melanjutkan perjalanan ke Desa Wisolo, satu tim lagi melakukan survei ke Desa Jono Oge di Kecamatan Sigi Binomaru. Tim mendapatkan kabar bahwa warga desa Jono Oge mengungsi ke Desa Pombewe di Kecamatan Sigi Binomaru.

Desa Wisolo juga terdampak cukup parah. Tim GKI dan Bala Keselamatan harus menempuh perjalanan dengan jalan kaki melewati kebun cokelat dari titik terakhir yang dapat dilalui kendaraan roda empat. Ketika kami datang, masih belum ada bantuan. Di Wisolo ada sekitar 100 keluarga dengan lebih dari 600 jiwa. Cukup memprihatinkan. Gubuk-gubuk pengungsian sangat memprihatinkan. Tidak ada MCK. Mereka buang hajat di bawah pohon coklat.

Di Wisolo, Tim GKI menemukan ada pasien yang menderita pendarahan pasca melahirkan. Ia melahirkan tepat pada saat gempa terjadi. Bersyukur, kami dapat bekerja sama dengan Pak Camat Dolo Selatan dan Tim Medis dari PT Timah Belitung untuk menanganinya. Pasien kemudian dirujuk ke RS Undata untuk ditangani lebih lanjut. Tidak jauh berbeda dengan di desa Jono Jinji, paling banyak keluhan infeksi saluran pernapasan. Dokter juga menangani pasien yang mengalami luka. Di desa Wisolo Tim GKI menemukan kasus anak usia 13 tahun menderita TBC kelenjar yang kondisinya mengenaskan.

Desa Rogo
Desa Rogo, berada di Kecamatan Dolo Selatan, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, termasuk daerah yang 99 persen terdampak ketika gempa bumi dan tsunami melanda Palu dan sekitarnya pada 28 September 2018. Desa itu belum bisa ditembus karena ada jembatan yang putus. Tim Gerakan Kemanuiaan Indonesia dan Bala Keselamatan mendapatkan informasi itu pada 8 Oktober, satu hari setelah melayani warga terdampak bencana di Desa Wisolo. Desa Rogo hanya berjarak 15 kilometer dari Desa Wisolo, atau 55 kilometer dari Kota Palu. Tetapi, lain cerita jika berbicara jarak tidak terlalu jauh itu dalam kondisi tidak normal seperti saat ini.

 

Dari informasi yang diperoleh, Desa Rogo berpenduduk sekitar 1.800 jiwa, rata-rata petani atau pekebun, dan buruh tani. Dari jumlah itu, seperti dikemukakan Mayor Suprayitno, Komandan Divisi Wilayah Palu Barat Gereja Bala Keselamatan Palu, anggota jemaat Bala Keselamatan di Rogo tercatat 30 keluarga dengan jumlah total 120 jiwa. “Banyak anak-anak yang sakit dan trauma di sini,” kata Suprayitno.

Berdasarkan informasi dari warga setempat bahwa jalan menuju Desa Rogo belum bisa dilalui roda empat, Pnt. Agus Satyakrama, anggota Tim GKI, didampingi pengurus setempat mengupayakan menyewa sepeda motor untuk sampai di Rogo. Namun, pada saat bersiap-siap menuju Rogo, datang informasi jembatan sudah dapat dilalui. Warga berusaha secara swadaya mengakali agar jembatan itu dapat dilalui kendaraan roda empat. Tim pun menyiapkan mobil. Tim GKI dan Bala Keselamatan akhirnya sampai di jembatan yang patah di bagian ujungnya itu. Warga menimbunnya dengan batang kelapa supaya dapat dilalui kendaraan.

Kuatkah jembatan darurat itu? Mendebarkan juga, saat mengemudikan salah satu mobil. Semua menahan nafas. Berdoa. Akhirnya bisa lewat juga. Meskipun gardan mobil menyentuh bagian jembatan patah yang menyembul. “Mungkin kendaraan kamilah yang pertama kali melaluinya,” itulah yang ada dalam benak kami…

Tim GKI Gempa Sulawesi Tengah Kloter-1

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA