Menjadi Penolong

Pada tahun 1951, ada seorang anak yang berasal dari Australia yang bernama James Harrison harus menjalani operasi besar. Dokter harus mengangkat salah satu paru-parunya yang berlangsung selama berjam-jam. Ia dirawat di rumah sakit selama tiga bulan. Setelah operasi tersebut, Harrison mendapatkan transfusi darah dari banyak penolong dalam jumlah yang cukup banyak (13 unit darah). Ini yang membuat Harrison masih tetap bertahan hidup sampai saat ini.

Pada saat itu Harrison berjanji kepada dirinya bahwa dia akan menjadi pendonor darah ketika ia sudah cukup umur nanti. Pada saat Harrison telah cukup umur sehingga dapat mendonorkan darahnya ternyata diketahui bahwa dia memiliki antibodi di aliran darahnya.‎ Antibodi tersebut dapat membantu bayi-bayi melawan anemia dan wabah yang disebut wabah Rhesus. Sikap untuk menolong sesama itu setidaknya telah menyelamatkan sebanyak 2,2 juta bayi di seluruh dunia.

Menjadi Domba dengan Menjadi Penolong
Kita melihat dalam Matius 25: 31-46 ada pembedaan antara domba dan kambing. Kambing adalah hewan yang sangat individualis, tidak punya kebiasaan untuk saling berdempetan yang bertujuan untuk dapat saling menghangatkan. Mereka baru mau melakukannya jika sang gembala memaksa, karena jika ada pilihan maka mereka lebih suka untuk bertindak semaunya sendiri dan saling menjauhi. Ini berbeda dengan domba dimana mereka dapat ditaruh di tempat terbuka karena mereka akan secara otomatis saling menghangatkan satu dengan yang lain dengan cara saling berdempetan.

Kisah di Injil Matius ini juga bercerita tentang penghakiman kepada kelompok manusia yang memilih untuk menjadi kambing, sehingga mereka mendapatkan hukuman yang berat akan pilihannya tersebut. Kita sebagai pengikut Kristus masih berada dalam dua segi yaitu seperti kambing dan domba. Cerita tentang penghakiman menurut John Polkinghorne dimaksudkan untuk meningkatkan kadar “ke-domba-an” dan mengurangi “ke-kambing-an” di dalam hidup kita masing-masing.

Menurut Tuhan Yesus, salah satu caranya adalah dengan membantu orang yang paling hina. Seorang yang paling hina adalah orang yang dibantu oleh kita namun orang tersebut dalam kondisi yang tidak mungkin dapat membalas kebaikan kita secara langsung.

Melakukan sesuatu kepada orang yang paling hina ini maka engkau telah melakukan untuk Aku.” Yesus menginginkan kita pada saat membantu orang lain tidak mengharapkan sesuatu apapun bahkan sekedar ucapan terima kasih sekalipun. Mengapa? Karena menjadi penolong memang merupakan kewajiban kita sebagai pengikut-Nya. Perlu kita ingat bahwa Yesus Kristus telah terlebih dahulu menebus umat manusia, sehingga kita sebagai pengikut-Nya wajib menunjukkan sikap kita.

Menjadi penolong dimulai dari hal yang paling kecil sekalipun. Sama seperti slogan PMI, bahwa setetes darah adalah nyawa bagi sesama. Hal-hal yang kecil yang dapat menjadikan penolong bagi sesama kita adalah hal yang berdampak bagi sesama. Marilah kita belajar dari James Harrison yaitu hidup menjadi penolong bagi sesama.

Penulis: Pdt. David Roestandi (GKI Kebonjati)

Foto: Euronews

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA