Anak-anak Perempuan Zelafehad

Kisah ini mungkin agak jarang diangkat saat kita mengisahkan perjalanan bangsa Israel selama di padang gurun. Dalam Bilangan 27 diceritakan saat akan memasuki Kanaan, Musa dijumpai oleh lima orang anak perempuan dari Zelafehad, seorang pria yang merupakan anggota klan di Suku Manasye. Saat itu Zelafehad sudah tiada. Sementara itu bangsa Israel segera akan tiba di Kanaan dan akan melakukan pembagian tanah berdasarkan jumlah keluarga yang ada saat mereka tiba. Tentu saja diwariskan secara patriakal pada anak laki-laki.

Zelafehad tidak mempunyai anak laki-laki. Ia mempunyai lima putri Mahla, Noa, Hogla, Milka dan Tirza. Secara aturan yang ada kelima anak perempuan ini tentu tidak akan mendapatkan jatah tanah Kanaan yang merupakan bagian suku Manasye. Hal yang terasa begitu memberatkan untuk kehidupan mereka ke depannya.

Musa kemudian menyampaikan perkara itu pada Tuhan, lalu muncullah solusi bahwa mereka boleh mengambil bagian tanah atas nama ayahnya. Tidak hanya itu, peraturan itu pun berlaku secara umum jika seorang pria Israel wafat tanpa anak laki-laki, maka milik pusakanya beralih pada anaknya yang perempuan (Bilangan 27:7-11). Namun, demi keteraturan agar milis pusaka satu suku tidak beralih pada suku lainnya, maka anak-anak perempuan itu diminta menikah dengan orang-orang dari satu kaummnya (Bilangan 36:6-7).

Kitab Bilangan menceritakan, kelima perempuan ini mengajukan perkaranya di depan persidangan besar yang dihadiri Musa, Imam Besar Eleazar, para pemimpin kaum dan segenap umat. Hal yang tentunya agak jarang terjadi dalam masyarakat yang sangat patriakal seperti bangsa Israel. Besar kemungkinan perkara ini sudah mereka perjuangkan sejak dari level yang lebih kecil di tengah tetangga, klan, suku, hingga seluruh bangsa. Para perempuan ini sangat mungkin kekeuh dengan yang mereka perjuangkan, hingga perkaranya dibawa ke level persidangan satu bangsa (Lihat Keluaran 18:21-22).

READ  Kisah Martir Pertama

Lebih jauh, Allah dinarasikan berkomentar bahwa “… perkataan anak-anak perempuan Zelafehad itu benar” (Bilangan 27:7). Ini mengindikasikan bahwa apa yang mereka perjuangkan sesuai dengan semangat keadilan dan kasih Allah Israel pada umat-Nya.

Kelima perempuan ini merupakan teladan, bagaimana perempuan dengan gigih dan berani mengadvokasi kesetaraan dan hak-haknya, meski harus melewati jalan yang panjang. Semuanya didasari semangat bahwa Allah memang menghargai keadilan dan kasih. **arms

Ilustrasi: YCMI

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA