Kapal Ekklesia di 50 Tahun GKI Pengadilan

Berbagai lapis usia hadir dalam satu drama musikal. Mereka mengenakan kostum dengan sejumlah pakaian daerah di Nusantara serta pakaian bergaya awak kapal. Drama musikal ini memang menganalogikan perjalanan GKI Pengadilan Bogor sebagai kapal yang tengah berlabuh di lautan. Judul dramanya sendiri adalah Kapal Ekklesia.

Sabtu lalu (3/11) GKI Pengadilan Bogor menggelar dua kali kebaktian syukur dalam rangka memperingati 50 tahun berdirinya jemaat ini. Drama musikal Kapal Ekklesia itu menjadi bagian yang utuh dari keseluruhan refleksi di dua kebaktian itu. Acara ini merupakan puncak dari seluruh kegiatan perayaan 50 tahun GKI Pengadilan.

Lewat refleksi ini, jemaat meyakini bahwa keberadaan GKI Pengadilan Bogor senantiasa dibawa untuk terus bergerak berlayar dalam anugerah Tuhan. “Saat kapal berhenti berlayar, kita akan diombang-ambingkan oleh angin dan kehilangan tujuan. Sama seperti di gereja, kita akan terhenti dan terombang-ambing jika kita sibuk dengan diri kita sendiri,” demikian Pdt. Tri Santoso menyampaikan refleksinya di tengah drama musikal itu.

Sejak dirintis dari tahun 1967, lantas didewasakan menjadi jemaat di lingkup GKI Jawa Barat pada 31 Oktober 1968, GKI Pengadilan memang telah melabuhi sejumlah persinggahan. Bermula dari jemaat keluarga yang berada di wilayah Pecinan Bogor, Jl. Surya Kencana 116, jemaat ini terus bertumbuh hingga kemudian harus membangun gedung ibadah baru di Jl. Pengadilan pada tahun 1970. Demikian pula sejumlah pos penginjilan dirintis oleh jemaat di kota hujan ini. Pun gedung gereja di Jl. Pengadilan harus beberapa kali direnovasi dan diperluas, menyesuaikan diri dengan pertumbuhan anggota jemaat.

 

Pdt. Em. Jefta Chandra Widyaatmaja merefleksikan pertumbuhan itu tidak hanya terkait jumlah. Sama seperti di banyak GKI lain, GKI Pengadilan pun menjadi jemaat yang terbuka. Kini diisi beragam etnis yang ada di Indonesia.

Sekarang kapal ini para penumpangnya ber-bhineka. Tapi walaupun para penumpangnya ber-bhineka, semuanya telah belajar untuk taat dengan Sang Pemilik kapal itu sendiri. Sebab Sang Pemilik kapal ini adalah penuh dengan cinta kasih, menerima para penumpang apa adanya dan bahkan menghargainya,” ungkap Pdt. Jefta dengan gaya alegoris.

Ia pun meyakini kesinambungan visi lintas generasi adalah hal yang Tuhan juga karuniakan dalam perjalanan kapal GKI Pengadilan Bogor. “Biarkanlah penumpang-penumpang muda untuk naik ke kapal kita ini. Sebab para penumpang muda inilah yang akan terus memacu semangat kita dengan kreativitas dan ide-ide yang cemerlang,” tutupnya tetap bernada puitis. **arms

Foto: Rully Utama, Sri Rahayu

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA