Musik Etnik untuk Nyanyian Jemaat

Upaya menghadirkan musik kontekstual untuk keperluan liturgi telah mengemuka di gereja-gereja ekumenis Asia dan Afrika sejak tahun 1970-an. Di Indonesia sendiri semangat itu mulai marak sejak 1980-an ditandai dengan munculnya cukup banyak buku nyanyian dengan musik etnik, baik yang diterbitkan secara nasional maupun sinodal.

Kita mengenal misalnya lagu Nyanyianlah Nyanyian Baru (NKB No. 7, PKJ No.27) sebagai lagu yang bernuansa Batak Toba, atau Bersabdalah Tuhanku (NKB No. 117) yang kental nuansa Jawa-nya, hingga Mari Masuk Rumah-Nya (PKJ No. 18) yang memperlihatkan langgam Bali. Tak jarang pula kita mengadopsi lagu-lagu etnik yang bernuansa Timur-Tengah, India, Amerika Latin atau Keltik.

Semangat ini memang menjadi bukti akan kekayaan ciptaan Tuhan, serta betapa luasnya cakupan Injil dan kekristenan. Beragamnya nyanyian jemaat dalam etnik tertentu menandakan kekristenan telah hadir dalam kelompok etnik tersebut. Hal ini patut diapresiasi dengan cara memunculkan idiom etnik pada nyanyian jemaat.

Namun, penggunaannya dalam ibadah sering mengalami sejumlah kendala. Kendala pertama adalah terkait instrumennya. Idealnya memang memainkan musik etnik tersebut hendaknya dengan memakai instrumen yang bersangkutan. Akan tetapi tidak semua instrumen tersebut mudah ditemukan. Lagipula instrumen musik etnik memang amat beragam, kadang tanpa standar tertentu.

Hal yang lazim dilakukan adalah dengan cara imitasi instrumen dominan dari musik tersebut dengan alat-alat yang ada di combo band. Entah dengan menggunakan alat yang mirip, semisal bunyi cuk pada musik keroncong didekati dengan bunyi gitar dengan tidak memetik senar 1 dan 2, sembari memetik senar di fret XII atau lebih. Atau terkadang memang harus ditiru dengan synhesizer, seperti instrumen logam di karawitan yang diimitasi dengan vibrafon atau xylofon.

Persoalan lain adalah terkait penyederhanaan dan harmoni. Seringkali ritme yang menjadi ciri musik etnik jadi dibuat seragam dalam combo band. Demikian pula nada hias (cengkok) kelewat direduksi demi harmoni dalam nyanyian bersama, padahal ini merupakan kekuatan yang menghadirkan nuansa musik etnis tersebut.

Musik etnis Nusantara umumnya tidak mengenal konsep harmoni diatonis. Ini lebih kepada melodi yang saling bersahutan dan saling melengkapi. Meski demikian sejumlah musik akluturasi nusantara seperti keroncong, gamad atau dangdut, telah menggunakan akor-akor diatonis sehingga menciptakan nuansa tersendiri. Saat dimainkan dalam combo band, tentu harus menggunakan akor diatonis, biasanya akor sederhana dengan menghilangkan interval ketiga dari akor.

Untuk hal-hal seperti ini pengetahuan dan wawasan musik para pemusik gerejawi memang perlu diperluas. Terkadang kaca-mata musik Barat perlu sesekali dilepas untuk menemukan “roh” permainan musik etnik.

Disarikan dari: Makalah Mengiringi Nyanyian Jemaat Menggunakan Combo Band dalam Musik Etnik pada PRPI 2018.

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA