Penatua: Sebuah Panggilan Yang Profesional (1)

Seorang anak sekolah minggu pernah mengutarakan keinginan kepada ibunya. Tiba-tiba ia menanyakan, “Ma, gimana caranya menjadi Penatua? Aku ingin jadi Penatua…” Sontak, sang ibu terkejut, sebab tidak terpikirkan sedikitpun apa yang disampaikan anaknya.

Beberapa waktu kemudian, saat berjumpa dengan anak sekolah minggu ini dalam suatu pelayanan kebaktian minggu, dengan bangga dan senang ia mengutarakan bahwa seharian ini dirinya melayani bersama paduan suara. Bukan itu saja, ia juga menjadi seorang lektor (sesuai kategori usia anak dalam ibadah khusus bulan keluarga), lanjutnya.

Terlepas dari berbagai latar belakang dan “celoteh” anak kecil, setidaknya yang hendak diperhatikan dan menjadi pembelajaran adalah kerinduan dan kesungguhan anak ini. Boleh jadi ia belum memahami apa dan bagaimana menjadi Penatua. Namun setidaknya, dalam kepolosan seorang anak, nampak kerinduan dan diikuti oleh kesungguhan dan kegembiraan dalam setiap pelayanan yang dikerjakan.

Tentu pada saat ini jemaat-jemaat dalam lingkup GKI sedang berproses dalam pemilihan para calon Penatua. Kita menyadari bahwa semakin hari pergumulan untuk mendapatkan para pekerja (baca: Penatua) di ladang-Nya bukanlah hal mudah. “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu (Lukas 10 : 2).” Begitulah gambaran Alkitab.

Situasi ini terjadi di hampir semua konteks jemaat. Alasan klise yang senantiasa diutarakan adalah merasa belum layak, belum waktunya, atau bahkan masih terlalu sibuk dengan banyak urusan. Di tengah tantangan dan pergumulan ini, masihkah kita temukan pribadi sebagaimana anak sekolah minggu tadi yang penuh kerinduan dan kesungguhan bahkan sukacita menyambut panggilan sebagai seorang Penatua untuk bersama-sama membangun tubuh Kristus?

Sebagai gereja Tuhan, kita pun tidak perlu dikuasai kekuatiran tentang siapa yang akan menjadi para pekerja di ladang-Nya. Gereja ini milik Tuhan, maka Dia selaku Sang Empunya akan mengirim para pekerja. Tugas kita selaku gereja adalah mempersiapkan segala sesuatu dengan maksimal sesuai instrumen yang ada. Selanjutnya tentu adalah bagian Sang Empunya.

Agar semakin memantapkan dan meneguhkan kita (gereja dan para bakal calon Penatua) maka ada tiga hal yang perlu kita renungkan, hayati dan dalami bersama. Kita perlu menyadari penatua sebagai panggilan, anugerah yang dipercayakan dan panggilan yang profesional.

Penulis: Pdt. Semuel Akihary (Ketua Bidang Persekutuan BPMK GKI Klasis Jakarta Utara)

Lihat bagian 2

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA