Peran Gereja di Indonesia dalam Pandangan Pdt. SAE Nababan

Pdt. DR. SAE Nababan masih sangat lugas dalam menjawab pertanyaan. Di usianya yang sudah menginjak 85 tahun, ia tetap tampil dengan nada bicara yang berat dan mendalam. Ia terlihat bersemangat saat menanggapi pertanyaan SELISIP terkait isu-isu yang kini dihadapi gereja-gereja di Indonesia. Sesekali ia pun berbagi tentang pengalamannya.

Selalu harus kita tanya: ‘Apakah gereja masih diperhitungkan dalam pengambilan keputusan di negara ini?’” Ia mengaku agak kecewa dengan perkembangan peran gereja di Indonesia belakangan ini. Secara khusus ia mengkritik PGI, lembaga yang juga pernah dipimpinnya di era 1984-1987. Pdt. SAE Nababan mengangkat contoh isu terbaru soal pengaturan sekolah minggu dan katekisasi di RUU Pesantren dan Pendidikan Keagamaan.

Sebagaimana kita ketahui RUU itu memang memuat syarat jumlah 15 orang dan izin dari kantor kementerian agama untuk penyelenggaraan katekisasi, sekolah minggu dan sejumlah pembinaan kategorial yang dikerjakan gereja. Hal yang tentu saja mencerminkan ketidaktahuan penyusun soal bagaimana gereja mengerjakan pembinaannya. Namun, di sisi lain jika diterapkan, berpotensi menghambat kegiatan pembinaan di kekristenan.

Jelas sekali PGI dan lembaga Kristen tidak ditanya, tidak dipedulikan dalam pengambilan keputusan RUU itu. Berbeda di zaman dulu, meskipun pemerintahannya otoriter, suara gereja tetap diperhitungkan. Misalnya saat penyusunan Undang-undang Perkawinan, ada dialog yang intens dan cukup lama antara pemerintah dengan Dewan Gereja-gereja di Indonesia,” ujar Pdt. SAE Nababan membandingkan.

Dalam wawancara yang berlangsung di kediamannya Selasa lalu (30/10), pendeta lulusan program doktoral Univeristas Heidelberg itu sejak awal mewanti-wanti ia tidak mau menghakimi kondisi yang dialami gereja-gereja di Indonesia saat ini. Meski dikenal sebagai sosok yang kritis pada pemerintahan Orde Baru, ia sadar dalam tiap zaman tantangannya berbeda. Untuk itu perlu dirumuskan lagi sikap yang relevan meninjau hubungan negara dan gereja.

Kita yang dipengaruhi tradisi pietis mungkin kerap mengambil sikap tidak peduli terhadap apa yang terjadi di dunia politik, di negara atau di masyarakat. Bahayanya, sikap ini membuat gereja akan terus tertinggal tidak relevan dengan zamannya. Tapi ada pula sikap yang hanya sekedar ikut-ikutan. Misalnya mayoritas gereja di Jerman pada zaman Hitler, mereka hanyut dalam zaman, tidak bisa menyuarakan firman Tuhan bagi masyarakatnya,” paparnya mengingatkan.

Menurut pria yang juga pernah menjabat sebagai Ephorus HKBP ini, gereja, dalam hubungannya dengan masyarakat dan negara perlu terus merumuskan empat sikap. Yang pertama sikap positif, dalam arti menyambut segala hal yang baik darimana pun itu berasal. Juga perlu bersikap kreatif, siap menggumuli dan menciptakan hal yang baru serta menanggalkan hal yang sudah usang. Gereja pun perlu bersikap kritis, menilai perubahan yang terjadi dalam terang firman Tuhan. Yang terakhir ia mengingatkan agar gereja tetap realistis, tidak sekedar mimpi di siang bolong dengan jargon-jargon yang tidak terimplementasi.

Lantas bagaimana ia mengamati sikap positif, kreatif, kritis dan realistis itu kini diterapkan di gereja-gereja di Indonesia?

Sayangnya, kebanyakan gereja-gereja sejauh ini sibuk dengan dirinya sendiri, juga larut dengan tradisinya tanpa menoleh pada perubahan zaman. Para pelayan di gereja, terutama pendeta, kurang mampu memperlengkapi diri, supaya tahu mengenal zaman,” kritiknya. Sikap introvert, eksklusif dan puas dengan diri sendiri seperti itu tidak memungkinkan gereja melihat dirinya terpanggil untuk memberi kontibusi bagi masyarakat maupun bangsanya.

Pdt. SAE meyakini hal ini perlu dijawab dengan memunculkan kepemimpinan gerejawi yang kolaboratif dan bisa mengenali kondisi zaman. “Doakanlah datang pemimpin-pemimpin gereja yang sadar mengenai tantangan di bangsa ini. Sebab memang tidak bisa orang diputar dalam waktu dua puluh empat jam langsung berubah,” ungkapnya menumbuhkan harapan. **arms

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA