Berani Menyampaikan Suara Ilahi

Dalam keseharian berkomunitas, setidaknya kita bisa melihat ada kategori kehadiran seseorang di tengah kita, terkait bagaimana mereka berani menyampaikan pendapat dan memberi dampak.

Ada orang yang kurang terasa dampaknya di komunitas. Tidak berani menyampaikan pendapat. Orang tipe ini sering dikenal lewat kata-kata, “Udah ndak usah ngomong diem aja, saya mah ikutan aja, jangan tanya saya.” Ketika ditanya, orang tipe ini tidak memberikan pendapat ataupun tanggapan apalagi pertimbangan. Demikian pula saat bekerja hanya sekderanya. Hadir tidak hadir, nyaris tidak ada bedanya karena tidak akan mengubah apapun.

Demi kemudahan, kebanyakan orang mungkin memilih kategori ini ketika ia hadir dalam sebuah komunitas. Sayangnya sebagai orang Kristen kita tidak bisa sekedar memilih kategori ini. Kehadiran kita diminta untuk memiliki dampak dan bukan sekedar ikut-ikutan saja. Kita harus berani menyampaikan kebenaran.

Ada pula orang yang punya dampak negatif. Pernah tidak bertemu dengan orang yang kehadirannya selalu membawa dampak negatif? Rasanya kalo ketemu orang tersebut pengen marah, kesal dan curiga sebab kalo dia hadir pasti akan ada masalah yang terjadi. Tentu kita berharap jangan sampai kehadiran kita membawa dampak seperti ini.

Tentu saja ada yang menyampaikan pendapat dan memberi dampak positif. Ini dampak yang diharapkan muncul ketika kita hadir dalam sebuah komunitas. Jelas inilah panggilan hidup kita sebagai gereja, yaitu membawa dampak positif bagi orang lain. Ketika ada orang yang kehilangan harapan, maka sebagai gereja kehadiran kita diharapkan dapat memulihkan dan membawa harapan baginya. Kehadiran orang yang berdampak positif tentu sangat diharapkan kedatangannya.

Soal menyampaikan harapan dan memberi dampak kita dapat belajar dari Maelakhi dan Yohanes Pembaptis yang mengingatkan kedatangan Tuhan yang akan menghakimi setiap perbuatan orang Israel.

Pada zaman Maleakhi orang Israel hidup dalam kekacauan. Mereka tidak memberikan persembahan dengan benar, korban yang diberikan bukanlah korban yang terbaik. Para pemimpin hidup tidak bertanggungjawab, terjadi penyalahgunaan ibadah, bahkan hal-hal yang jahat – dipandang sebagai hal yang berkenan di hadapan Tuhan.

Dalam situasi inilah Maleakhi memberitakan kedatangan Tuhan yang akan menyucikan layaknya api tukang pemurni logam. Situasi yang juga analog ketika Yohanes Pembaptis hadir.

Di masa Yohanes Pembaptis orang Yahudi hidup tanpa tuntunan nabi. Oleh sebab itu, orang Farisi berperan dalam hal menafsir, membentuk, mengawasi sistem dan aturan keagamaan yang menjadi pegangan serta tuntunan kehidupan bangsa itu. Orang Lewi (para imam) bertanggungjawab untuk mengurus Bait Allah. Keduanya, orang Farisi dan para imam dipercaya untuk mengelola sistem keagamaan dengan segala aturan yang sudah rinci sebagai pengganti tuntunan nabi.

Persoalan muncul ketika mereka yang dipercaya justru hidup jauh dari kebenaran dan memanipulasi seluruh aktivitas keagamaan demi kekuasaan dan keuntungan duniawi. Penindasan, pemerasan, eksploitasi terhadap Bait Allah dan haus kekuasaan. Hal ini yang membuat hidup beragama menjadi formalitas dan munafik. Itu sebabnya Yohanes menyebut mereka (orang Farisi dan ahli taurat, ketika mereka datang, sebagai keturunan ular beludak; berbahaya dan licik!).

Di tengah situasi itu, kehadiran Yohanes menjadi disruption (gangguan, kekacauan). Dia mengganggu dengan seruan bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis, di tengah kekacauan hidup keagamaan pada masa itu. Disrupsi adalah interupsi bagi situasi yang sedang berlangsung. Disrupsi adalah inovasi yang akan mengganti seluruh sistem lama dengan cara-cara baru.

Maka seruan Yohanes merupakan disrupsi dalam mempersiapkan jalan bagi Tuhan. Seruannya: “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis!” Bertobatlah berarti sikap penyesalan dan berbalik kepada kehendak Allah. Baptisan merupakan tanda dan materai bahwa kita adalah milik Allah.

Kita pun dipanggil untuk melakukan disrupsi di tengah kehidupan kita saat ini. Bukan disrupsi yang seenaknya sendiri, tetapi disrupsi seperti kehendak Allah dan demi kemuliaan-Nya. Disrupsi yang berani menyampaikan suara Ilahi. Jadilah suara yang berseru-seru menyampaikan suara Ilahi dalam keutuhan hidup. Kiranya Tuhan menolong dan memampukan kita.

Penulis: Pdt. Debora Rachelina (GKI Perniagaan)

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA