Malam Natal di GKI Cibadak

Hari belum begitu gelap di Senin maghrib (24/12). Namun, hampir seluruh bangku panjang di ruang kebaktian GKI Cibadak sudah penuh terisi. Sejumlah kursi-kursi tambahan pun ditaruh di sisi kiri dan kanan gedung gereja. Ada seratusan lebih warga jemaat dari berbagai wilayah di kecamatan yang dulu dikenal sebagai Kota Nayor itu, yang berkumpul mengikuti kebaktian Malam Natal.

Dekorasi Natal di gedung gereja terbilang sederhana, namun nuansa Natal yang hangat begitu terasa. Kebaktian malam natal ini dipimpin oleh pendeta jemaat, Pdt. Naya Widiawan, dengan khotbah yang mengacu pada narasi Natal dari Injil Lukas.

Dalam khotbahnya Pdt. Naya menjelaskan bahwa kelahiran Kristus adalah juga berarti perubahan dan seruan untuk berubah. Dalam Injil Lukas narasi soal kekuasaan imperium Romawi (Pax Romana) sengaja ditekankan untuk dibandingkan dengan damai baru yang tengah datang lewat Kristus (Pax Christi). Kekuasaan duniawi yang menindas yang lemah, mencari keuntungan sendiri, memanipulasi dan mementingkan hal-hal materi semata, sedang digantikan oleh kekuasaan kasih, kebenaran, keadilan dan spiritual.

Pesan Natal itu pun mengajak warga jemaat GKI Cibadak untuk memaknai Natal sebagai seruan perubahan dan rekonsiliasi. Pdt. Naya mengingatkan kembali bahwa kebaktian dan perayaan Natal GKI Cibadak pada 25 Desember tahun ini, memang sengaja dipindah ke sore hari. Tujuannya agar warga jemaat punya kesempatan untuk merenungkan kembali bersama keluarga, makna Natal yang mengubah hidup. Juga agar punya kesempatan untuk bersilaturahmi dengan tetangga sekitar, membawakan pesan Natal yang menguatkan perdamaian dan rekonsiliasi.

Bagi jemaat yang masuk dalam lingkup GKI Klasis Jakarta Selatan ini, momen kebaktian malam Natal selalu menjadi hal yang ditunggu-tunggu. GKI Cibadak memang selalu merayakan Natal bersama-sama tidak secara kategorial.

Di perayaan Natal seperti ini, bahkan warga jemaat yang dari wilayah gunung, sampai menginap di rumah warga jemaat lain. Mereka semua sama-sama senang, ini jadi momen kebersamaan. Demikian pula banyak sanak-keluarga yang datang berkunjung, jadi lumayan ramai,” papar Pdt. Naya saat ditemui SELISIP usai kebaktian.

Secara khusus ia merasa sangat bersyukur di Natal kali ini semakin banyak jemaat yang ambil bagian untuk melayani. “Di tengah keterbatasan finansial dan sumber daya manusia seperti yang dialami GKI CIbadak, namun ada orang-orang baru, yang semula tidak kita duga, ternyata mau memberi diri melayani. Buat saya itu kado spesial di Natal kali ini,” ungkap Pdt. Naya penuh syukur. **arms

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA