Serba-serbi Natal (1)

Natal telah tiba. Amat banyak serba-serbi yang kemudian mengisi perayaan umat Kristiani di bulan Desember ini. Mulai dari hal-hal yang terlihat biblikal seperti bintang terang atau scene keluarga Yesus di kandang, hingga hal-hal dari tradisi berikutnya seperti cemara bersalju, lampu terang, sosok Sinterklass atau bahkan berbagai hiasan yang kini begitu komersial.

Menelusui serba-serbi dari berbagai sisi perayaan Natal akan membawa kita melihat bagaimana momen biblikal kelahiran Yesus itu telah diadopsi oleh sekian banyak budaya umat manusia, tidak terbatas hanya lingkungan Yudeo-Kristiani di Palestina saat itu. Hampir semua budaya, dimana masyarakat Kristiani hadir, telah memberi warna tersendiri dalam merayakan Natal.

Istilah
Bahasa Indonesia menggunakan kata Natal, untuk menyebut hari raya kelahiran Kristus. Kata itu berasal dari bahasa Latin “natalis” yang berarti kelahiran. Sama seperti kata gereja dan minggu, bahasa Indonesia menyerapnya lewat bahasa Portugis.

Di bahasa lain, serba-serbi istilah ada yang lebih menekankan pada “kelahiran” ini sering dipakai untuk menyebut perayaan Natal. Semisal Noel, Nadal atau Natal di bahasa-bahasa Roman, Nativity di Bahasa Inggris, atau Idul Milad (hari raya kelahiran) di negara-negara berbahasa Arab dan Sheng Dan (kelahiran agung) di bahasa Mandarin.

Format lain yang juga umum adalah dengan menyebutnya sebagai masa atau hari-rayanya Kristus, semisal Christmas (dari kata Christ dan mass) di Bahasa Inggris, atau Krestfeest (perayaan Kristus) di sejumlah bahasa Eropa Barat. Lebih jauh, karena luasnya penggunaan bahasa Inggris, bahasa-bahasa Asia dan Afrika lebih sering menyerap kata christmass untuk menyebut Natal. Semisal kirismas (Somalia), krisamas (Hindi), kurusimasu (Jepang), dll.

Uniknya, di sejumlah bahasa Eropa Utara, momen Natal di bulan Desember sering disamakan dengan perayaan Jul (Yule) yang berasal dari tradisi musim dingin bangsa Germanik kuno. Sehingga Natal di Bahasa-bahasa Skandinavia, Scott dan Estonia disebut dengan Jul.

Tanggal
Kita tentu tahu 25 Desember adalah tanggal yang lazim digunakan untuk merayakan Natal di banyak negara dan tradisi gereja. Dalam tradisi paling klasik di Gereja Barat, masa raya Natal berlangsung dari malam 24 Desember hingga sebelum Efifani (6 Januari).

Namun, di sejumlah wilayah yang umat Kristennya menggunakan kalender Gerejawi Julian (seperti Rusia, Serbia, Montenegro, Georgia, Mesir, Etiopia, Eritrea, sebagian Palestina, Syiria dan Libanon), 25 Desember-nya jatuh pada 7 Januari kalender kita. Hal itu karena kalender Julian saat ini berselisih 13 hari dengan kalender Gregorian yang lazim kita pakai.

Tradisi Gereja Armenia, punya ciri tersendiri, dimana mereka menyatukan perayaan Natal dengan Efifani, sehingga Natal baru dirayakan pada 6 Januari. Hampir semua gereja dengan tradisi Armenia kini merayakan Natal pada 6 Januari. Namun Gereja Armenia di Yerusalem, karena masih menggunakan kalender Julian, merayakannya pada 19 Januari.

Bagi sebagian kecil kelompok Kristiani yang menolak klaim 25 Desember (semisal Saksi Yehowah, Kaum Advent, dan sejumlah gerakan non-denominasional) tidak merayakan Natal, atau terkadang memillih perayannya di sekitar musim semi. **arms

Foto: viva.co.id

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA