Manfaat Dedaunan

Cerita tentang kejatuhan manusia di Kejadian 3 mau mengingatkan kita tentang dosa. Namun ada sisi lain yang terbilang jarang diangkat saat membahas perikop ini.Akibat dosa, manusia tahu bahwa dirinya telanjang dan karena itu mereka merasa malu. Lalu, apakah yang mereka pakai untuk menutupi rasa malu itu? Dedaunan.

Alam memberikan dirinya dipakai untuk menutupi rasa malu manusia. Bagaimana jika tidak ada dedaunan untuk menutupi ketelanjangan mereka? Rasa malu tidak akan bisa tertutupi, bahkan mereka akan menanggung rasa malu seumur hidupnya.

Ketika Allah menemui mereka yang menutupi ketelanjangan dengan dedaunan, Allah membuat baju dari kulit binatang sebagai gantinya. Lebih permanen. Lagi-lagi, alam menyediakan diri untuk menutupi manusia. Sekali lagi untunglah ada alam yang menyediakan dirinya untuk memenuhi kebutuhan manusia.

Kisah manusia yang jatuh ke dalam dosa memberikan beberapa nuansa menarik dan tak terduga seperti uraian di atas. Kejadian 3:1-7 menceritakan peristiwa yang mengubah total kehidupan manusia. Manusia jatuh ke dalam dosa karena melanggar perintah dan kehendak Allah. Kejatuhan ini membawa rasa malu karena kesadaran akan ketelanjangan mereka. Kita bisa membayangkan bahwa mereka bingung, takut, cemas dan malu. Daun bagaikan dewa penolong mereka saat itu.

Namun yang terjadi dalam sejarah manusia berikutnya amat memprihatinkan. Kerakusan dan keserakahan manusia akhirnya membuat alam semesta rusak dan menderita. Alam yang diwakili oleh dedaunan yang awalnya menolong manusia untuk sementara mengurangi rasa malu yang ada dalam dirinya, justru dirusak oleh manusia. Dosa manusia berakibat pada tindakan buruk manusia terhadap alam itu sendiri.

Panggilan pertobatan mencakup panggilan untuk membaharui alam semesta. Pohon yang menyediakan daunnya dan binatang menyediakan kulitnya untuk dipakai menutupi ketelanjangan manusia selayaknya mendapatkan perlakuan yang baik dari manusia–bukannya malah perilaku buruk manusia. Panggilan kita saat ini adalah merawat, menumbuhkan dan mengembangkan alam ini.

READ  Ketelepasan

Satu pertanyaan untuk kita renungkan bersama: bagaimanakah keserakahan manusia berdampak pada kerusakan lingkungan alam? Kiranya renungan sederhana ini boleh terus memperbaharui sikap hidup kita.

Penulis: Ev Wahyudi Kurniawan (GKI Citra Raya)

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA