Persekutuan Kasih Bersama Allah

Bayangkan seandainya suatu ketika ibu Teresa datang ke gereja kita dan beliau memaparkan program-program pelayanannya untuk membantu dan menolong begitu banyak jiwa di India. Menceritakan niat untuk membangun persekutuan kasih bersama Allah dan para penderita kusta.

Apa kira-kira tanggapan anda? Apakah anda tertarik, tertantang, atau anda berpikir bahwa itu hanya seorang utopia yang mempunyai semangat menggebu-gebu namun tidak diimbangi dengan pemikiran yang realistis, “impossible” untuk dilaksanakan!

Namun kenyataannya usaha ibu Teresa yang sangat menginspirasi banyak orang, saat ini sudah meng-India bahkan mendunia. Apa yang membuat ibu Teresa dapat melaksanakan program “cinta kasih”-nya itu? Selain beliau memiliki semangat yang luar biasa, beliau juga menjalin persekutuan kasih yang erat bersama Allah yang memungkinkannya untuk tetap teguh meskipun badai pencobaan melanda, tekun meskipun banyak hambatan, dan setia dalam pelayanan yang sungguh tidak mudah itu sehingga membuahkan hasil yang luar biasa.

Demikian juga ketika Yesus menantang para murid untuk memberi makan orang-orang yang mengikuti perjalanan pengajaran-Nya sampai malam hari di sebuah kota kecil. Para murid berpikir bagaimana mungkin dapat memberi makan lima ribu orang laki-laki dewasa, belum termasuk perempuan dan anak-anak. Impossible! Yang paling realistis adalah menyuruh mereka pulang atau masing-masing membeli makanan untuk mereka sendiri.

Para murid hanya melihat kemampuan mereka sendiri dan melupakan bahwa Yesus adalah Mesias sekaligus Anak Allah yang mempunyai relasi khusus dengan Allah. Ia berkuasa menjadikan air dalam tempayan menjadi air anggur yang lezat, menyembuhkan berbagai penyakit, menghidupkan orang mati, maka ia mampu membuat lima roti dan dua ikan untuk mencukupi kebutuhan makan lima ribu orang dewasa tersebut.

Hari ini kita merayakan Minggu sesudah Epifania atau dikenal sebagai “Minggu Yesus Dibaptis”. Mengapa Yesus harus dibaptis padahal Dia sama sekali tidak berdosa? Yohanes Pembaptis memang membaptis umat Israel sebagai undangan untuk bertobat dan dengan memberikan diri mereka untuk dibaptis supaya Allah mengampuni dosa mereka (Luk.3:3) karena sesungguhnya tidak ada manusia yang tidak berdosa; namun Yesus menerima baptisan tersebut sebagai sebuah ketaatan kepada Bapa dan tindakan untuk menandai awal pelaksanaan misi Allah dengan melakukan perendahan diri menjadi sama dengan manusia.

READ  Pesan Natal 2017 dari Sinode GKI

Dalam baptisan yang dijalani Yesus, ada keunikan yang terjadi yang merupakan tanda hubungan yang intim antara Yesus dengan Allah, yaitu ketika Yesus dibaptis dan sedang berdoa, terbukalah langit dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atas-Nya. Dan terdengarlah suara dari langit, “Engkaulah Anak yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.” (Luk.3:21-22).

Frasa “Anak yang Kukasihi” menunjukkan hubungan erat antara Bapa dengan Anak, sebuah persekutuan Ilahi yang istimewa untuk mengemban misi Allah guna mendamaikan hubungan antara Allah dengan manusia yang selama ini terhalang oleh tabir dosa.

Sementara frasa “kepada-Mulah Aku berkenan” menunjukkan bahwa Bapa mempercayakan tugas kemesiasan kepada diri Yesus. Tidak ada hamba Allah yang lain yang dipercaya dan mampu menyelesaikan misi penyelamatan Allah bagi umat manusia selain Anak yang dikasihi-Nya.

Gereja yang merupakan kumpulan orang percaya, yang melalui pembaptisan dan siditelah menjadi anak-anak Allah, menjadi milik Allah dan bukan lagi milik dunia, juga harus membina persekutuan kasih bersama Allah, dengan menyatakan kasih Allah kepada dunia dan setia berpegang pada firman-Nya.

Sumber: Tim Bina Jemaat GKI Kota Wisata

Selisip

About Selisip

SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.

KOMENTAR ANDA