SELISIP.com – Karyawan merupakan mitra kerja dan aset perusahaan. Oleh karenanya, kesejahteraan mereka harus menjadi prioritas perusahaan. Dasar pemikiran inilah yang mengilhami pimpinan PT Bhineka Ciptabahana Pura (BCP) Ir. David Surtandi dalam mengelola perusahaan yang didirikannya bersama teman kuliahnya sewaktu di jurusan Teknik Sipil Universitas Trisakti.

Sebisa mungkin ia akan berupaya membantu agar seratusan karyawan tetap di perusahaannya bisa memiliki rumah dengan fasilitas pinjaman dari perusahaan. Setiap akhir tahun, ketika ada laba perusahaan pun selalu dibagi-bagikan sebagian untuk karyawan. Pendekatan kekeluargaan dijadikan warna tersendiri dalam tata kelola perusahaan. Walhasil pola ini membuat relasi pimpinan dan karyawan menjadi cair. Karyawannya pun betah dan awet bekerja sampai puluhan tahun.

“Saya sungguh terkesan karena fasilitas pinjaman dari perusahaan, kini saya dan istri saya bisa mendapat rumah. Di perusahaan ini juga kami merasakan secara langsung bagaimana suasana kekeluargaan itu benar-benar terbangun antara Pak David dan kami karyawannya,” papar seorang karyawan yang bersama dengan istrinya sudah lama bekerja di perusahaan yang dikelola David.

Pria yang merupakan mantan Ketua Umum Komisi Pemuda Sinode GKI Wilayah Jawa Barat ini menyadari bahwa eksistensi perusahaannya yang sudah menjalani lebih dari seperempat abad ini tak lepas dari penyertaan tangan kasih Tuhan. Perusahaan ini sengaja dibesarkan Tuhan untuk menjadi berkat bagi karyawan dan keluarganya.

Sebagai wujud syukur, suami dari Srijanti Sutedjo yang dikaruniai dua putri dan seorang putra ini selalu menyediakan waktu untuk keluarga dan pelayanan di gereja. Sang istri yang juga turut membantu perusahaan dalam urusan keuangan tetap bisa menjadi partner dalam mendidik dan membesarkan anak-anak dengan baik.

Kini anak pertamanya Tirza Gracia telah menamatkan master degree di bidang akuntansi dari Melbourne University di Australia, menikah dengan orang Indonesia dan menetap di negeri Kanguru itu. Anak kedua Filia Christy jebolan arsitektur di universitas yang sama, kini bekerja pada salah satu perusahaan konsultan di Melbourne, Australia. Tinggal si bungsu Hosea Ivan yang masih berkuliah di jurusan teknik sipil pada universitas yang sama dengan kakak-kakaknya.

BACA JUGA  Pdt David Roestandi dan Ketionghoan yang Sensitif bagi Gereja

Dalam bidang pelayanan, di tahun 1998 bersama teman-teman, mereka mendirikan poliklinik hasil kerjasama GKI Puri Indah dengan GKI Kedoya yang sampai sekarang tetap melayani masyarakat yang kurang mampu.

David dan teman-teman juga memprakarsai pendirian Sarana Tempat Ibadah (STI) GKI Puri Indah yang memadai bagi pertumbuhan jemaat dan simpatisannya. Pada akhir tahun 2010, dengan pertolongan Tuhan mereka berhasil membeli kavling seluas 1200m2 di blok E Taman Permata Buana (TPB).

Namun Tuhan punya rencana yang lebih baik. Pada akhir tahun 2014 Bapak Jokowi yang waktu itu masih menjabat Gubernur DKI mengeluarkan SK Gubernur untuk pemanfaatan lahan fasos/fasum sebagai sarana ibadah bagi GKI Puri Indah di Blok N2 TPB seluas 2300m2 dan bisa dibangun gedung 4 lantai. Keberhasilan ini tak lepas dari berkat Tuhan yang luar biasa serta kerja keras pokja STI, majelis & jemaat GKI Puri Indah.

Setelah urusan bisnis terberkati, pelayanan gereja yang tak pernah terabaikan ditambah lagi bersedia mengurusi warga sebagai Ketua RT, masih ada mimpi yang bergejolak di benak David Surtandi. Pria berusia 58 tahun ini rindu suatu hari kelak bisa menjadi berkat bagi pelayanan untuk daerah-daerah tertinggal di pelosok-pelosok Indonesia. Semoga saja Tuhan membuka jalan untuk pencapaian mimpi-mimpinya.

*disarikan dari rubrik Profil pada Majalah Selisip Edisi Oktober-Desember 2014 dengan judul CEO Yang Bekerja Dengan Hati