“Saya yang paling nakal? Justru, itu makin membuktikan kalau saya anaknya Gus Dur.”

Inayah Wulandari Wahid, putri keempat mendiang Gus Dur itu, dengan santai membalas candaan yang dilontarkan SELISIP. Dijumpai di sela acara Simposium 88 Tahun Sumpah Pemuda, Jumat (28/10), Inay tak sungkan berbaur dengan peserta. Beberapa kali wawancara kami harus terpotong oleh permintaan foto bersama dan ajakan agar ia turut menari di panggung. Semua permintaan itu selalu dituruti, meski ia hampir tidak sempat untuk sekedar minum.

Publik Indonesia kini mungkin lebih mengenalnya sebagai Naya, seorang pengemudi ojek online, di salah satu sitkom televisi. Namun, selain kesibukannya di dunia akting, Inayah terus aktif mengelola Positive Movement. Gerakan yang digawangi anak-anak muda itu berfokus untuk menyebarkan nilai-nilai positif seperti kebahagiaan, harapan, semangat dan kemauan untuk maju.

Inayah menilai ini adalah celah yang perlu dirambah oleh orang-orang yang memperjuangkan perdamaian dan kebhinekaan di Indonesia. Tidak melulu harus berlabel toleransi, lintas agama atau dialog teologis seperti yang dibiasakan selama ini.

“Kalau dengan model pendekatan selama ini, yang datang ke acara bertema toleransi biasanya orang-orang yang sudah paham. Yang nggak paham biasanya langsung nolak. Nah ini (positive movement)… bisa jadi yang melengkapi. Karena di balik perbedaan yang ada, kita perlu disadarkan bahwa kita semua, berbagi harapan dan mimpi kebahagiaan yang sama. Jadi ini ya peace movement juga, cuma pendekatannya yang berbeda,” jelas pemudi kelahiran 31 Desember 1982 ini.

inayah-2

Nampaknya keluarga alm. Gus Dur sudah berbagi lapak dalam menggarap isu kebangsaan Indonesia. Publik lebih mengenal Bu Sinta Nuriah di gerakan pemberdayaan perempuan dan Yenny di dunia politik. Lalu ada sang putri sulung Alissa Wahid di isu sosial budaya dan Anita menggarap socio-preneur. Sedangkan Inayah tengah menempatkan diri lebih dekat ke kaum muda dan isu keseharian.

BACA JUGA  Pdt. Ima: Jangan Sampai Telat Menjangkau Anak Muda!

Mungkin ini pula yang membuat Inay lebih banyak tampil di publik. Ia konsisten dengan gayanya yang slengean dan gaul, sembari sesekali suka nyinyir, namun tetap mengedepankan optimisme. Pernah membuat kontroversi dengan gaya rambut dan keterlibatannya di dunia akting, Inay merasa tetap perlu menginspirasi kaum muda agar menggeluti passion-nya dengan sepenuh hati serta tanggung jawab. Tidak terlalu merisaukan hal-hal yang terlalu mengekang.

Positive Movement sendiri kini menyasar kaum muda usia 17-25 tahun. Salah satu programnya adalah mengembangkan kebiasaan positif dalam mewujudkan kehidupan keseharian yang bahagia. Lewat camp dan kelompok berbasis peer-group gerakan ini lebih mengena bagi kaum pelajar dan mahasiswa.

“Salah satu indikator kebahagiaan itu kan kedewasaan saat menghadapi konflik. Jadi anak muda sejak dini dilatih untuk bisa mengatasi konflik. Tidak menggantungkan kebahagiaan dirinya pada orang lain atau lingkungan. Mereka harus menciptakan kebahagiaan dari diri sendiri sehingga bisa membuat lingkungan dan orang lain tumbuh dalam damai,” tambah Inay makin bersemangat. **arms