SELISIP.com – “Suatu ketika saya  terlibat dalam kegiatan mengajar anak jalanan di Stasiun Manggarai. Awalnya mereka bermalas-malasan, bikin ribut, berantem dan sama sekali tidak memperhatikan saat saya mengajar. Ketika saya tanya kenapa, akhirnya ketahuan bahwa alasannya karena mereka lapar.

Sementara saat itu saya hanya punya duit lima belas ribu rupiah. Akhirnya saya bilang sama mereka, “Sekarang mari pikirkan bagaimana caranya dengan uang lima belas ribu ini kita bisa beli nasi, lauk dan sayur. Lalu jangan sampai ada yang tidak makan. Bisa nggak?” Eh, ternyata mereka bilang, Bisa!”

Mereka kembali dengan membawa empat bungkus nasi, pake usus dan lemak ayam trus pake mentimun dan sambel. Saya akhrinya makan bersama dengan mereka. Dan ini menjadi titik awal kami menjadi lebih akrab sehingga kegiatan belajar mengajar pun jadi lebih cair dan menyenangkan.”

******

Kisah menarik di atas adalah pengalaman Pdt. Ima Frontantiana Simamora. Ia menceritakan kisah ini pada penghujung wawancara bersama tim selisip di serambi GKI Gatot Subroto, Bandung pada Selasa, (11/10). Disadari atau tidak, pendekatan seperti ini ternyata justru diadopsinya tatkala ingin merangkul anak-anak muda agar kembali terlibat di dalam Gereja.

“Dari zaman ke zaman lahir generasi dengan pola pikir yang beragam. Alhasil, pendekatan kita juga harus bisa mengikuti. Kalau ditanya bagaimana cara mendekati anak muda di zaman sekarang? Saya harus mulai dengan ngopi bareng, ikut ngumpul-ngumpul dan memanfaatkan media sosial sebagai alat untuk bisa menjalin komunikasi.”

“Dengan ngobrol, banyak mendengar dan tidak banyak intervensi, akhirnya saya mulai bisa menerjemahkan apa sesungguhnya yang mereka inginkan dari gereja selama ini.” terang pendeta berusia muda yang juga merupakan Ketua Klasis Bandung ini sembari memegang gelas minumannya.

Klasis Bandung kini sedang bereksperimen dengan menstimulus Komisi Pemuda Klasis Bandung (KPKB) agar bisa menghimpun ide-ide baru. Diluar dugaan, akhirnya bisa juga terbentuk komunitas bertajuk Community of Youth (COY).

“Saya dengan pengurus yang lain memilih untuk menjadi stimulan bagi anak-anak muda agar melahirkan program yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Nah untuk mempermudah sharing, konsultasi atau menyampaikan apa-apa saja yang mereka butuhkan kami membentuk Steering Committe. Tujuannya agar ada tim pendamping dalam mewujudkan ide-ide kreatif yang mereka godok bersama.”

“Kedepannya kegiatan anak muda ini akan difasilitasi, salah satunya, dengan memberi mereka base camp sebagai tempat berkumpul agar pemuda lebih akrab satu sama lain. Harapannya dari sini akan lahir ide-ide dan proyek-proyek yang lebih berdampak dan bisa menjadi berkat bagi banyak orang,” jelas pendeta lulusan STT Jakarta ini.

Upaya untuk menjangkau dan mengembangkan anak muda kini merupakan prioritas utama bagi Klasis Bandung. Majelis gereja setempat juga diajak untuk membuka ruang keterlibatan dan mendorong anak-anak muda menjadi pemimpin-pemimpin gereja.

“Sedikit saja kita terlambat menjangkau anak muda maka konsekuensinya kita akan kewalahan di masa depan karena tidak ada generasi penerus yang melanjutkan perjalanan gereja,” tegas wanita yang kerap disapa Ima ini.

17Di sisi lain, menurutnya setiap elemen gereja yang memiliki semangat dan perhatian khusus dalam pengembangan pemuda sedang terus dicari dan dikumpulkan. Mereka adalah para pemimpin yang tidak menduduki posisi struktural namun jelas sekali menunjukkan dampaknya demi menciptakan pemimpin-pemimpin yang baru.

“Orang-orang seperti ini perlu diberdayakan untuk bekerja sama menelurkan ide-ide baru dan mengaplikasikan kegiatan-kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan pemuda,” tambahnya.

Sebenarnya selama ini pengurus Klasis Bandung sudah berusaha menjangkau anak-anak muda. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa program yang sudah ada perlu bertransformasi menyesuaikan dengan perubahan zaman. Kini saatnya meninggalkan program-program yang sifatnya top down dan mengubahnya menjadi program yang bersifat bottom up.

Jangan lupakan bahwa pemuda di era dewasa ini sangat unggul dalam berkreasi dan berinovasi. Mereka punya banyak potensi dan terbiasa dengan mobilitas yang tinggi. Hanya saja mereka lebih banyak berkontribusi di luar gereja.

Ini artinya, tren penurunan pemuda di GKI bukan karena ketiadaan pemuda melainkan karena kurangnya ruang dan kegiatan yang mengakomodasi kebutuhan mereka.

Ima juga menambahkan bahwa memberikan keleluasaan anak muda untuk menggagas ide dan program untuk mereka sendiri bukan upaya untuk lepas tangan. Ini sebagai wujud memberi kepercayaan kepada anak muda namun tetap siap siaga berperan sebagai kakak, sahabat, penasehat bahkan konsultan disesuaikan dengan kebutuhan.

“Kita harap gereja tidak sekedar menjadi tempat ibadah, melainkan bisa menjadi media, laboratorium dan rumah bagi anak-anak muda untuk berkreasi sesuai potensi mereka. Namun, kita tetap mengarahkan bukan dengan mengintervensi program tapi mengingatkan mereka akan pentingnya melibatkan Tuhan dalam seluruh kehidupan kita dan kewajiban mereka untuk menjadi berkat bagi lingkungannya,” tutupnya. ***jfs

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.