Pak Pendeta, bukankah menerima orang lain yang terpinggirkan, sebagai sesama manusia…, sebagai sesama orang berdosa, terlepas kita setuju atau tidak dengan orientasi atau perilaku mereka adalah sikap yang sangat Kristiani?

Yah, mau bagaimana lagi? Kita itu ‘sangat Kristiani’-nya kan sering kali situasional…

Kami tertawa kecil sembari merefleksikan sikap gereja.

Pdt. Samuel Adi Perdana, yang menjadi rekan diskusi SELISIP Senin (17/10), mencoba menjelaskan kompleksitasnya sebagai seorang pendeta GKI dalam menggumuli sikap Kristiani pada kaum Lesbian, Gay, Biseks dan Transgender (LGBT).

Awalnya saya ada di posisi yang tegas menentang LGBT. Sampai sekarang pun saya tetap tidak bisa membayangkan, jika seandainya jemaat tempat saya bertugas memberlakukan pemberkatan pernikahan sejenis… Tapi ada pengalaman yang membuat saya harus mengatur ulang pemikiran saya tentang LGBT.

Pendeta GKI Taman Cibunut ini lantas menceritakan keikutsertaannya di Konven Pendeta GKI 2011, Malang. Konven kali itu bertema “Aku Punya Sahabat.” Di sesi kunjungan, para pendeta dibagi ke dalam beberapa tim, menjumpai sejumlah kelompok masyarakat. Pdt. Samuel ada di tim yang mengunjungi komunitas waria. Ia bertemu dengan Merlyn Sopjan, dari Ikatan Waria Malang (IWAMA), orang yang pernah jadi Miss Waria Indonesia 2006.

Lahir di tengah keluarga Kristiani yang taat, serta tetap mengamini diri sebagai seorang Kristen, Merlyn menggemakan satu pertanyaan yang terus digumuli oleh Pdt. Samuel:

Tidak bisakah kami juga dilihat sebagai orang yang tengah memikul salib? Katakanlah, dalam versi Bapak-Ibu Pendeta kami masih perlu ‘bertobat’, kami berdosa… tapi tidakkah kami juga manusia, sama seperti Bapak-Ibu… yang tengah memikul salibnya di dunia, mengupayakan diri untuk bertobat? Tidak bisakah kami diterima, sama seperti gereja menerima orang lain?

BACA JUGA  Pdt. Hendra dan PR Gereja untuk Kolaborasi (1)

Sejak itu ada pergeseran pada pemikiran dan sikap saya…,” aku pendeta lulusan Universitas Kristen Duta Wacana ini. “Saya belajar, berdiskusi dan mencoba berjumpa dengan kaum waria, atau yang lain, yang mengakui punya orientasi seksualitas dan ekspresi gender yang berbeda. Saya memahami kaum LGBT tidak bisa sekedar dihakimi dan disalahkan. Sekalipun katakanlah, kita tidak setuju dengan perilakunya.

Lantas apa dampaknya bagi pelayanan Pdt. Samuel?

Pria yang pernah menjabat sebagai Sekum BPMSW GKI SW Jawa Tengah ini mengakui ada tantangan besar saat mulai mencoba menganjurkan sikap yang lebih menerima dan lebih terbuka terhadap kaum LGBT. Ia sering dianggap aneh, kurang Kristiani.

Biasanya saya langsung diberondong dengan ayat-ayat yang nadanya keras terhadap LGBT. Seperti soal Sodom dan Gomora, Perbuatan Noda di Gibea, juga surat penggembalaan Rasul Paulus yang merujuk pada pemburit. Kecaman dalam ayat-ayat itu sebenarnya bisa dipahami dalam konteks kecaman terhadap penyembahan berhala atau kecaman atas penindasan terhadap orang asing dan yang lebih lemah. Bukan perilaku homoseksualitas karena rasa suka atau kebutuhan. Tapi tentu tidak berguna juga kalau malah jadi perang tafsir ayat semata…

Sikap gereja yang sering reaksioner dalam menanggapi isu ini, menurut Pdt. Samuel, akan membuat penerimaan itu menjadi hal yang amat sulit. Persoalan ini sering digeluti terlalu emosional dan naif. Umumnya karena jemaat khawatir penerimaan pada LGBT akan berbuntut pada gereja akan memberkati pernikahan sejenis.

Ada pula yang khawatir kalau kaum LGBT diterima, perilaku dan orientasi mereka akan segera menular ke warga jemaat. Padahal kedua kekhawatiran tadi boleh dikatakan terlalu berlebihan. Apalagi untuk konteks Indonesia.

BACA JUGA  Bangkrut Malah Jadi Berkat

Pdt. Samuel mengajak warga GKI untuk lebih peka terhadap pergumulan kaum LGBT, juga untuk orang yang sekedar ekspresi gendernya tidak sama dengan kebanyakan warga jemaat, misalnya lelaki yang tampil lebih feminim atau perempuan yang tampilannya agak maskulin. Mereka sering tersingkirkan dalam pergaulan, lapangan pekerjaan dan kesempatan melayani. Pendeknya, gereja kurang adil dalam memberi ruang bagi mereka.

“Kita perlu upaya sinambung, tidak sekedar reaksioner. Kebiasaan diskusi, perjumpaan, serta sikap terbuka dan terus belajar membuka diri perlu ditumbuhkan. Sehingga kita bisa dewasa dalam iman… beriman dengan akal sehat, terkait isu ini…,” tutupnya. * * arms