Kita beri….. wuzzz dahsyat…,” seruan itu berkali-kali menggema di ruang A, B, C, GKI Maulana Yusuf Bandung. Saat memulai sesi, saat menyerukan semangat dan saat tiap peserta selesai memberikan komentarnya. Para peserta yang kebanyakan kaum muda tampak antusias menyerukannya. Sama seperti mereka juga semangat meneriakkan yel-yel: “Leader, Grace and Serve!

Sabtu (12/11) kegiatan bertajuk Leadership Development Program (LDP) kembali digelar di GKI Maulana Yusuf. Pelatihan kepemimpinan yang telah mencapai angkatan kesebelas ini direncanakan akan diselenggarakan setiap Sabtu selama empat minggu bulan November. Setiap pertemuan akan diisi dua sesi. Sesi pembuka kali ini diawali dengan materi dasar-dasar kepemimpinan serta materi visi dan misi.

Wellsa, salah seorang panitia menyatakan peserta tahun ini memang didominasi kaum muda. Berbeda dengan beberapa angkatan sebelumnya, yang kadang diikuti pula oleh peserta berusia di atas 30 tahun. Wellsa menilai itu sebagai hal yang positif, mengingat peran GKI Maulana Yusuf sebagai gereja yang banyak dihadiri mahasiswa. Ia menyadari bahwa program Bina Jemaat ini menjawab sejumlah hal yang menjadi kebutuhan pemuda.

Banyak hal yang bisa dipelajari kaum muda. Saya jadi peserta di angkatan ketujuh, lalu aktif membantu angkatan setelahnya. Saya merasakan dampak positif pelatihan ini. Apalagi sekarang setelah masuk dunia kerja,” jelas Wellsa bersemangat.

Sesi pelatihan ini sendiri diisi sejumlah modul materi yang interaktif. Beberapa kali materi diselingi dengan simulasi, musik dan pemutaran video yang relevan. Termasuk contoh-contoh video terkini. Tidak mengutamakan pemateri yang bermonolog, namun sangat menekankan partisipasi peserta.

Kita sengaja disebut fasilitator atau co-fasilitator, bukan pemateri. Itu artinya materi pembahasan kita pelajari bersama. Fasilitator dan co-fasilitator hanya memfasilitasi agar peserta menemukan sendiri potensi kepemimpinan dalam dirinya, juga bersama-sama menjadi pemimpin dalam pelayanan,” demikian papar Wimanda, salah seorang fasilitator di pelatihan ini.

Wellsa dan Wimanda sepakat bahwa gereja tidak boleh ketinggalan memperlengkapi warga jemaat dengan hal-hal bertema soft skill seperti ini. Hal-hal yang sedemikian mungkin tidak langsung terlihat kebutuhannya. Namun saat melihat peran yang bisa diemban warga jemaat di luar gereja, apa yang disajikan dalam pelatihan seperti ini menjadi relevan.

Kita membantu peserta untuk juga melihat bahwa hal itu dibutuhkan. Kadang selagi muda, kita kan tidak bisa langsung melihat pentingnya hal seperti ini. Tapi saat kita konsisten melakukannya, ada terlihat buah. Dampaknya gereja pun bisa melihat alumni pelatihan ini ternyata bisa memberikan wacana dan sikap yang lebih matang,” tambah Wimanda.

ldp-2

Fasilitator dan co-fasilitator yang masih berusia muda ini turut menjadi daya dorong tersendiri bagi LDP. Mereka sebelumnya telah jadi peserta, kini semakin bersemangat untuk terus belajar, saat mereka memfasilitasi peserta baru. Dengan demikian regenerasi pelayanan akan semakin berimbas pada meluasnya sikap dan semangat kepemimpinan yang mereka coba sebarkan.

Seiring seruan: “Wuzzz dahsyat,” yang menyemangati para peserta. Pemuda-pemudi di GKI Maulana Yusuf ini pun terus bergerak menyebarkan semangat kepemimpinan yang melayani. Juga untuk semakin mantap menapaki panggilan pelayanannya. **arms

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.