Intune… click

Kata-kata itu belakangan lebih populer di generasi milenial untuk menyebut kondisi dimana orang merasa gerak mereka nyambung, selaras, cocok atau klop satu sama lain. Memang istilah bisa saja macam-macam. Tapi kedua istilah tadi memberi nuansa yang lebih dinamis. Dimana orang-orang yang intune atau click tadi, sebenarnya masing-masing sudah bergerak, lantas saat bertemu, mereka sadar kesenadaan geraknya.

Agaknya istilah-istilah tadi tepat untuk mewakili apa yang kini tengah dilakukan anak-anak muda GKI di Sinode Wilayah Jawa Barat. Persoalan pemuda yang mereka hadapi belakangan punya kesamaan latar, sebab mereka menghadapi generasi dengan transisi yang begitu cepat, sementara respon struktur gereja sering tertatih dan lembam mengejarnya. Mereka berbagi kegelisahan yang sama, juga semangat untuk memperbaiki yang sama besarnya.

Setidaknya hal itulah yang tergambar saat pemuda-pemudi dari tiga klasis di Sinode Wilayah Jawa Barat GKI bertemu di hari Sabtu (8/4). Bertempat di salah satu kafe di pusat perbelanjaan Jakarta Utara, empat belas orang pengurus komisi pemuda dari Klasis Bandung, Klasis Jakarta Timur dan Klasis Priangan ini semangat dalam berbagi ide dan pemikiran terkait pelayanan pemuda.

Umumnya membahas tentang peran pelayanan pemuda dalam keseluruhan jemaat, pentingnya mengembangkan pelayanan pemuda berbasis komunitas, juga permasalahan regenerasi di tengah kesibukan anak-anak muda masa kini. Dari ketiga bahasan tadi kita mendapati fenomena yang hampir mirip, jadi sangat memungkinkan untuk berbagi hal-hal apa yang sudah dilakukan juga kemungkinan untuk bekerjasama,” simpul Otniel salah pendamping pelayanan pemuda di Klasis Bandung.

Meski sebagian dari mereka masih baru pertama kali berjumpa, pemuda-pemudi ini merasa yakin pertemuan seperti ini memberi dampak besar dalam membantu pelayanan pemuda. Apalagi dalam format yang lebih santai, diskusi seperti ini tentu menampung input yang lebih luas dan efektif hadap-masalah.

BACA JUGA  Yang Unik di Pra-Paskah GKI Bekasi Timur

Wingky, pemuda dari GKI Harapan Indah juga mengakui dalam tataran seperti ini pembelajaran yang sifatnya peer-group akan cukup banyak dialami. Persoalan-persoalan di tingkatan lokal bisa ditelaah apakah menjadi fenomena umum, hal yang bervariasi atau persoalan teknis semata di jemaat.

Kita butuh konsultasi dalam tataran yang melampaui jemaat kita masing-masing, tapi juga nggak sebesar TRP (Temu Raya Pemuda se-GKI). Antar klasis seperti ini atau selevel Sinode Wilayah mungkin perlu. Biar isu-isu bisa digodok lebih matang dan sesuai,” saran pemuda yang jemaatnya ada di Klasis Priangan ini.

Semangat anak-anak muda ini tentu patut diapresiasi. Mereka punya inisiatif untuk melakukan dengan praktis dan sederhana, apa yang di kalangan orang tua mungkin sering disebut dan dirancang dengan istilah rumit seperti studi banding, survei-evaluatif atau konsultasi. Dimulai kontak sederhana, pertemuan langsung terwujud, juga banyak kemungkinan kerjasama langsung menunggu.

Geliat TRP 2017 nampaknya turut mendorong para pemuda-pemudi ini serius membicarakan hal-hal apa saja yang bisa diangkat sebagai pokok pembicaraan sentral terkait pelayanan pemuda. Mereka menginginkan forum seperti ini, juga forum sebesar TRP, menjadi sarana agar semakin banyak menciptakan dan memfasilitasi click dan intune antar gerak pelayanan pemuda.

Saya sendiri sangat terbekati dengan inisiatif sederhana ini. Selain menambah relasi, ini juga jadi sarana belajar. Saya kira bisa berdampak baik buat pemuda GKI,” harap Wingky di akhir pertemuan. **arms