Ketika melakukan suatu pekerjaan masing-masing dari kita tentu memiliki cara dan strategi sendiri-sendiri. Strategi yang dipakai tentunya akan menentukan arah yang jelas untuk tujuan kita dan memberi petunjuk untuk presentase keberhasilan kita di masa depan.

Nehemia adalah salah satu dari tokoh di Alkitab yang memiliki perencanaan dan strategi yang baik. Nehemia dikenal karena kerja keras, ketekunan dan kesetiaannya kepada Tuhan. Ia dipercayakan menjadi seorang juru minuman yang merupakan posisi penting kala itu di Kerajaan Persia yang dipimpin oleh Arthasasta.

Di tengah kemapanannya, Nehemia memiliki panggilan untuk membangun kembali tembok Yerusalem. Dia terlihat fokus dengan panggilannya itu dan meluangkan lebih banyak waktu untuk mewujudkannya. Lalu strategi seperti apa yang Nehemia lakukan dan apa yang bisa ita teladani dari seorang Nehemia?

Doa dan Puasa
Dalam Nehemia 1:4 ditulis bahwa Nehemia memanjatkan doa kepada Tuhan dan memohon pengampunan. Ia duduk menangis dan berkabung selama beberapa hari sembari berpuasa dan terus berdoa kepada Tuhan. Nehemia percaya akan kuasa doa.

Perencanaan yang Matang
Sebelum berangkat ke kota nenek moyangnya itu, ia mohon untuk undur diri sejenak dari pekerjaannya sebagai juru minuman ke hadapan sang raja. Tak hanya meminta cuti, ia mengajukan permintaan agar raja memberikannya surat-surat penting agar para bupati-buoati di daerah yang akan dilaluinya membiarkan ia pergi. Ia bahkan mendapat bantuan material berupa kayu untuk memasang balok-balok pada pintu gerbang Bait Suci. Selain itu, raja jg memberikan panglima-panglima perang untuk menjaganya sampai ketujuan.

Berlaku Bijaksana
Untuk memujudkan panggilan itu, Nehemia tentu memiliki banyak tantangan baik dari luar maupun dari dalam. Banyak orang yang mencoba menghasut dengan laporan-laporan palsu yang melemahkan semangat para pekerja yang sedang giat membangun. Namun, Nehemia tak langsung panas hati ia memilih diam dan melanjutkan pekerjaannya dengan bijaksana.

Teguh Memegang Prinsip
Untuk pengerjaan tembok itu, tentu Nehemia membutuhkan orang-orang yang memiliki sumber keuangan yang besar. Singkatnya, Nehemia membutuhkan bantuan dana dari orang kaya. Namun, ternyata kekayaan mereka didapat dari cara yang tak berkenan di mata Tuhan yaitu dengan pemerasan melalui bunga yang tinggi kepada rakyat miskin. Nehemia berani menegur orang kaya itu sekalipun resikonya ia tidak akan dibantu. Nehemia memang ingin tembok Yerusalem kembali dibangun, tapi ia tidak ingin dana untuk membangun tembok itu diambil dari cara yang tidak berkenan bagi Tuhan.

Selalu mendahulukan Allah
Sekedar mengingat pembangunan menara Babel, strategi pembangunannya kala itu sudah baik namun tujuannya hanya untuk kepuasan dan memuji diri sendiri. Nehemia, membangun tembok Yerusalem bukan ingin mengagung-agungkan dirinya sendiri. Ia percaya keberhasilan itu hanya karena pekerjaan Tuhan saja dan untuk kemuliaan-Nya.

Strategi ini mungkin biasa saja, namun kenyataannya seringkali dalam banyak kegiatan kita lupa untuk menjalankannya. Di tengah perjalanan kehidupan ini seringkali kita merasa puas dan lupa bahwa berkat ini hanya datang dari Tuhan dan lupa mengucap syukur. Bahkan terkadang godaan duniawi mampu membuat kita goyah, namun Nehemia tidak demikian. Ia selalu mendahulukan Tuhan diatas segalanya, hingga ia terhindar dari hal-hal yang merusak atau negatif. Marilah menjadi Nehemia, yang membuat perencanaan yang baik agar sampai pada tujuan yang baik. 🙂  **yst

Author

  • Selisip

    SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.