Pulang ke rumah dengan berjalan kaki sepanjang 7 mil, yang ditempuh minimal 2 jam, tentulah melelahkan. Apalagi jika perjalanan itu disertai perasaan tertekan. Setiba di rumah, bisa dimengerti kalau orang enggan untuk melakukan apa pun, apalagi untuk bepergian lagi.

Itulah yang terjadi pada diri Kleopas dan kawannya. Mereka merasa terpukul dan tertekan oleh peristiwa Yesus beberapa hari itu. Belum lagi mampu memahami alasan mengapa Guru dan Tuhan mereka harus mengalami penderitaan amat hebat dan wafat dengan cara yang hina, muncul persoalan baru; tubuh Yesus telah raib dari kuburan-Nya. Padahal, Yesus adalah tumpuan harapan mereka selama ini.

Perjalanan sepanjang sore sampai malam hari dari Yerusalem menuju Emaus itu ditempuh oleh mereka dengan perasaan tak karuan. Hati mereka diliputi kesedihan mendalam. Pikiran mereka sulit untuk mencerna alasan di balik semua peristiwa yang terjadi. Dalam bahasa gaulnya, mereka sedang galau.

Bukankah pengalaman mereka menggambarkan diri kita juga? Seseorang dapat saja tabah dan tetap bertahan menghadapi sulit dan kerasnya kehidupan bila masih memiliki keyakinan. Sebab dengan memiliki keyakinan, orang masih berharap akan suatu perubahan yang baik sekecil apa pun itu.

Dengan keyakinan yang dimiliki, orang masih bisa melihat masa depan, sekalipun mungkin perjalanan yang harus ditempuhnya begitu berat dan menyakitkan. Bayangkanlah jika orang sudah tidak lagi memiliki keyakinan dan harapan?

Jadi kita bisa mengerti, mengapa seorang ibu memberi racun kepada anak-anaknya terlebih dahulu lalu membunuh dirinya sendiri. Kita bisa mengerti mengapa seorang pemuda, sekalipun punya calon istri yang cantik dan pekerjaan yang mapan, menjadi putus asa lalu loncat dari jembatan layang untuk bunuh diri.

Tanpa memiliki keyakinan, orang kehilangan motivasi dan arah hidup. Hidup dijalani tanpa gairah. Mengapa? Sebab Tuhan yang diyakininya seolah-olah mati dan tidak lagi hadir dalam hidupnya. Hatinya menjadi kosong. Hidupnya terasa hampa.

Adakalanya, dalam kondisi demikian, orang masih bisa menjalani hidup sehari-hari, namun tanpa semangat dan motivasi yang kuat.

Seperti halnya kedua murid Yesus itu, kita pun sulit untuk mengenali Yesus yang telah bangkit itu, sekalipun sepanjang perjalanan itu Tuhan Yesus selalu bersama-sama dan bercakap-cakap dengan kita. Seakan ada ‘selubung’ yang menutupi mata kita karena kita membiarkan diri tenggelam dalam kegalauan, kekecewaan dan kesedihan.

Hal penting yang bisa kita renungkan bersama adalah dalam kemurungan hidup, bisa saja kita tidak mampu mengenali Tuhan, sekalipun sebenarnya Ia sangat dekat dengan kita, bahkan “berjalan bersama-sama” dengan kita. Kita sudah terlalu tenggelam dalam kemurungan hidup.

Akhirnya, sampailah mereka di Emaus. Lalu Yesus bersikap seolah-olah hendak terus berjalan. Sesuai dengan adat yang lazim, mereka mengundang-Nya untuk makan dan bermalam. Bahkan mereka bukan hanya mengundang, melainkan “sangat mendesak-Nya”.

Mereka berkata, “Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari t’lah menjelang malam…” Yesus menerima ajakan itu. Mereka duduk makan bersama. Sesaat ketika mereka mulai menyadari dan mengenali siapa yang selama ini menemani mereka dalam perjalanan, Tuhan Yesus sudah tidak berada lagi di tengah-tengah mereka. Kata mereka seorang kepada yang lain:

“Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?” – Lukas 24:32

Ketika kita mau kembali ke sumber hidup kekuatan kita, yakni Firman Allah, hati kita akan berkobar-kobar dan mendapatkan semangat hidup yang baru. Melalui Sabda Tuhan itu, kita diingatkan dan diteguhkan kembali, bahwa Sang Mesias, Juru Selamat itu hidup.

Apa yang terjadi kemudian? Pada saat itu juga, di malam yang sudah mulai larut, mereka memutuskan untuk kembali ke Yerusalem. Dengan penuh semangat, mereka menyusuri kembali jalan yang beberapa saat lalu baru saja mereka lalui. Bukankah mereka masih sangat lelah? Bukankah lebih enak diam di rumah saja?

Ternyata, pengalaman perjumpaan mereka dengan Yesus telah mengubah diri mereka. Segala kelelahan tidak lagi diperhitungkan. Yang semula sedih dan tertekan, kini diri mereka dipenuhi sukacita dan semangat. Dan setelah bertemu dengan kesebelas murid Yesus lainnya, Kleopas dan temannya menceritakan pengalaman perjumpaan yang indah itu. Mereka menshare kabar sukacita itu.

Hidup adalah suatu perjalanan yang panjang. Mungkin ada yang menjalaninya dengan perasaan bahagia dan keyakinan yang bulat, namun kembali ke kehidupan rutin, namun tanpa iman dan pegangan hidup, tanpa semangat dan motivasi yang kuat.

Ingatlah, adalah hal yang sangat penting untuk mengenali dan menghayati Yesus yang bangkit. Sekalipun Anda tidak pernah melihat-Nya secara fisik, namun Anda dapat mengalami perjumpaan secara pribadi melalui Firman-Nya. Yesus Kristus benar-benar telah bangkit dan hidup selamanya di antara manusia.

Dengan demikian, kita mampu untuk kembali ke Yerusalem dengan penuh keyakinan, semangat dan motivasi yang kuat, dan mampu mempersaksikan pengalaman perjumpaan yang berkesan dan indah itu kepada yang lain sebagai berita yang indah dan membahagiakan.

Betapa pentingnya penghayatan akan perjumpaan dengan Tuhan Yesus yang hidup itu. Penghayatan ini sangat bermakna, yang membuat setiap orang percaya mampu melakukan sesuatu dengan penuh semangat dan tanpa beban.

Tepatlah kiranya apa yang dikatakan Rasul Paulus. Jika Kristus tidak dibangkitkan, sia-sialah iman kita, dan sebenarnya sia-sialah juga semua yang kita kerjakan dalam hidup ini. Sebab, hanya jerih payah di dalam Tuhan (yang hidup itu) yang akan membuat semuanya tidak sia-sia.

Sebaliknya, jika tanpa menghayati akan Tuhan yang hidup, yang selalu hadir dalam kehidupan kita, maka apa pun yang kita lakukan dalam hidup seakan tiada makna yang berarti.

Penulis: Pdt. Wee Willyanto

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.