Angka 9 sering dianggap angka keberuntungan dalam Tradisi Tionghoa. Konon, Kasiar Giok (Jade Emperor, Yu Huang Da Di) lahir di tanggal sembilan bulan pertama kalender Tiongkok. Pengucapan angka 9 juga dekat dengan makna “panjang umur”.

Orang Indo-Aryan Eropa juga menganggap sakral angka sembilan. Bagi masyarakat Goth dan Norse Kuno, memang ada sembilan lapisan dunia. Manusia ada di lapisan keempat (earth, midgard), masih ada tiga lapisan dunia di atas dan lima lapisan di bawahnya.

Agak senada dengan saudara Indo-Aryan mereka di Asia yang meyakini ada sembilan pembentuk suatu unsur. Hal yang kemudian berkembang dalam praktik Yoga, yaitu ada sembilan saluran hawa (hawa sanga dalam tradisi Jawa).

Nampaknya bagi tradisi tertentu angka sembilan sering juga dipakai melambangkan satu kesatuan yang lengkap. Meski unsurnya berbeda-beda, namun satu kesatuan, dan baru sempurna saat semuanya ada.

Hal yang senada dengan ini ternyata beberapa kali ditampilkan dalam Alkitab. Dalam 49 kali kemunculannya di Alkitab, angka sembilan sering dipakai untuk menunjukkan kelengkapan dalam kesatuan yang demikian.

Contoh paling terkenal tentulah sembilan karakter untuk buah roh dalam Alkitab, yaitu: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri (Galatia 5). Patut dicatat meski ada sembilan, sebutannya tetap menggunakan bentuk tunggal, buah (Yun: karpos), bukan bentuk jamak. Menunjukkan kalau kesembilannya adalah kesatuan yang utuh.

Contoh lain yang sangat sering diulas dalam gereja-gereja bercorak kharismatik adalah adanya sembilan karunia Roh Kudus yang mengesankan makna adikodrati, yaitu karunia berkata dengan hikmat, berkata dengan pengetahuan, iman, menyembuhkan, mengadakan mujizat, bernubuat, membedakan bermacam-macam roh, berkata-kata dalam bahasa roh dan menafsirkan bahasa roh (1 Korintus 12).

BACA JUGA  Tokoh Alkitab Terkaya

Meski demikian, angka sembilan ternyata punya beberapa pemaknaan lain.

Ada makna kesedihan, karena dalam tradisi Yahudi, dua kali penghancuran bait Allah terjadi pada tanggal yang sama yaitu 9 Av. Hari yang kini diperingati sebagai Tisha B’Av itu adalah momen umat Yahudi menjalani puasa dan ratapan. Mengenang kehancuran Bait Allah dan segala bentuk persekusi umat Yahudi di masa-masa setelahnya (Revolusi Bar Khokba, penganiayaan abad pertengahan hingga Holocaust).

Di sisi lain Alkitab mencatat beberapa peristiwa penting untuk momentum kekristenan, terjadi pada jam kesembilan. Dalam perhitungan waktu Yahudi yang dimulai dari jam enam pagi, ini berarti pukul tiga sore. Waktu itu adalah wafatnya Kristus, momen penyembuhan yang dilakukan di Bait Allah oleh Petrus, serta momen pertobatan Kornelius, orang non-Yahudi yang menjadi titik tolak pekabaran Injil pada bangsa non-Yahudi. Ini adalah perlambang kelengkapan, suatu akhir sekaligus awal yang sempurna. **arms