“PA mah belajar jadi murid…” ujar Helna salah satu peserta Penelahaan Alkitab (PA) GKI Pasir Koja sembari tersenyum.

“PA belajar jadi pemimpin loh Bu, kalau muridnya Tuhan Yesus memang iya tapi jadi pemimpin jemaat gitu loh…” Pdt. Abdiel Bopha Djentoro  menanggapi dengan logat khas jawanya. Begitulah percakapan sebelum Penelahaan Alkitab (PA) dimulai.

Rabu, (4/10) Kegiatan PA yang diadakan setiap seminggu sekali di GKI Pasir Koja itu berlangsung mulai dari pukul lima sore. Helna memimpin doa pembuka sekaligus pujian diikuti peserta PA lainya. Tema yang diambil dalam PA kali ini adalah Pemimpin Yang Melayani.

Yohanes 13:1-17 menjadi dasar firman, dengan judul perikop Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya yang dibaca secara bergantian oleh para peserta PA. Sebelum membahas jauh lebih dalam, Pdt. Bopha membuka pertanyaan kepada para peserta tentang maksud dan tujuan tema yang diusung  serta apa yang diharapkan bagi peserta PA pada kesempatan kali ini.

“Seorang pemimpin itu harus dilandasi dengan kasih, karena itu dasarnya, tidak ada yang lain. Nah, sayangnya ketika kita menggunakan kata pemimpin yang melayani, sering kali kita lalu menganggap bahwa mereka ini sejatinya pelayan. Karena pelayan, maka kemudian diperlakukan tidak baik,” papar Pdt. Bopha mulai memantik ide.

Pendeta GKI Ayudia ini mencontohkan pada kenyataan yang sering dialami dalam pelayanan gereja, penatua sering kali berkerja keras sedemikian rupa, melakukan banyak hal, mengorbankan waktu, tenaga dan pikiran. akan tetapi, kerap terus dihujani kritik. Menurutnya, pada dasarnya menjadi penatua adalah pekerjaan sosial, melayani Tuhan, akan tetapi masih mendapatkan perhatian yang kurang.

Sedikit menyinggung tentang sistem kependetaan di GKI, Pdt. Bopha menyoroti bagian lain di dalam Alkitab dimana pemimpin dimaknai sebagai sahabat. Ada konsep kesetaraan. Sehingga dalam kemajelisan misalnya, ada pendeta dan penatua. Itu konsepnya setara karena memang ada hal-hal yang khusus tidak bisa dilakukan itu wajar, karena GKI menganut sistem primus inter pares, yang artinya pendeta itu dianggap yang terutama dari yang sama.

BACA JUGA  Menarik Diri dalam Kebersamaan di Konven Pengerja Klasis Priangan

Dalam kaitan dengat nats Alkitab yang dirujuk, pemimpin yang dimaksud bukan hanya sebatas pemimpin dalam gereja, akan tetapi berlaku untuk semua, dan bahkan tidak hanya kepada yang dianggap sebagai pemimpin dalam pengertian umum. Karena apa yang diajarkan Tuhan Yesus saat membasuh kaki muridnya merupakan teladan yang kemudian tidak bisa dilakukan oleh murid kepada gurunya.

Pertanyaannya adalah kenapa Tuhan Yesus melakukan hal tersebut? Agar para murid-murid mampu membasuh sesamanya, yang kemudian berarti para murid dan siapapun yang mengaku murid Tuhan Yesus, maka ia harus bersedia melayani sesamanya. **id