Siapakah istri Nuh? Siapakah istri Potifar yang menggoda Yusuf? Siapakah dua orang yang disalibkan disamping Yesus? Siapa nama sida-sida Etiophia yang dibaptis oleh Filipus, sehingga menjadi cikal-bakal kekristenan di ujung Tanduk Afrika itu?

Setidaknya lebih dari 50 tokoh yang kisah personalnya terlintas di Alkitab, namun tidak disebutkan siapa namanya. Sebagian tokoh-tokoh tersebut memang hanya diceritakan selintas lalu, tidak begitu berperan dalam penceritaan keseluruhan, semisal sejumlah perempuan di masa kuno (istri Kain, Ibu dari Abraham, Istri dan anak perempuan Lot, serta banyak yang lain). Namun, ada juga yang punya peran besar, misalnya mampu menyelamatkan satu kota seperti perempuan bijak di Abel-Bet-Maakha yang bernegosiasi dengan Yoab saat memberantas pemberontakan Seba bin Bikri (2 Samuel 20:16).

Kecenderungan bahwa tokoh yang sering tak dituliskan namanya itu adalah perempuan memang wajar, mengingat budaya Yahudi yang terbilang amat patriarkis. Tapi ada saja sejumlah laki-laki yang diceritakan, namun tak ditulis namanya, semisal abdi Allah yang menegur Yerobeam dan nabi tua yang menjamunya (I Raja-raja 13, 2 Tawarikh 12). Atau para gembala dan orang Majus yang mengunjungi Yesus.

Sepanjang sejarah, teks-teks Yudaisme, hagiografi Kristen maupun riwayat nabi Islam telah berusaha mengisi celah narasi tersebut dengan memberikan sejumlah nama pada tokoh-tokoh ini. Ada sejumlah kasus dimana nama-nama tersebut saling bersesuaian, namun di banyak kasus lain nama-nama tersebut mengandung banyak variasi.

Contoh kesesuaian yang paling menarik adalah terkait nama para penyihir Firaun yang juga mampu mengubah tongkat menjadi ular (Keluaran 7). Dalam hal ini nama para penyihir yang muncul dalam narasi dari tradisi Yudaisme, justru diteguhkan oleh kesaksian Perjanjian Baru, saat Paulus menyebut nama penyihir itu sebagai Yanes dan Yambers (2 Timotius 3:8).

BACA JUGA  Semua Baik Meski dalam Keadaan Tersulit

Nama Zulaikha, untuk istri Potifar adalah contoh dimana nama dalam narasi Yudaisme cukup sesuai dengan nama yang dipakai dalam riwayat Islam. Meski demikian, dalam tradisi Islam, Potifar suaminya hanya disapa dengan gelar Aziz.

Tapi, nama untuk Ratu Seba yang mengunjungi Salomo, justru mengandung variasi yang amat besar. Tradisi Yudaisme Diaspora lewat Josephus menyebut nama sang ratu sebagai Nikaula, yang agaknya merupakan Helenisasi dari nama Mesir atau Semitik. Tradisi ini diikuti di Kekristenan Barat. Sementara tradisi kekristenan Ethiopia menyebut namanya Makeda. Berbeda lagi dengan tradisi Islam yang menyebut namanya sebagai Bilqis.

Menelusuri bagaimana tokoh-tokoh ini akhirnya diberi nama dan disajikan kisahnya di luar yang dituliskan dalam Kitab Suci adalah tindakan dialogis yang terbilang menarik. Kita dapat melihat bagaimana Yudaisme, Kekristenan dan Islam berusaha dengan narasi masing-masing, namun kadang beririsan, meriwayatkan dan melengkapi pemahaman teologisnya sendiri. **arms

foto: Jack Dorsey