Dunia luar mungkin lebih banyak mengenal Libanon dari tokoh-tokoh diasporanya. Nama-nama tenar seperti penyair Khalil Gibran, aktris Salma Hayek, penyanyi Shakira, hingga presiden Brazil saat ini Michel Temer, adalah contoh-contoh tokoh publik yang berdarah Libanon namun sudah tinggal di luar wilayah yang dikenal sebagai Swiss-nya Timur Tengah itu.

Libanon merupakan wilayah di Timur Tengah dengan persentase umat kristiani terbanyak (sekitar 40%). Bahkan dalam konstitusi negara yang beribukota Beirut ini, ada pembagian khusus agar sejumlah kursi pemerintahan dipegang oleh pejabat yang beragama Kristen, semisal presiden yang harus berasal dari jemaat Gereja Maronit dan wakil juru bicara parlemen yang harus berasal dari Gereja Ortodoks.

Kekristenan memang sudah menjadi bagian panjang dari sejarah wilayah ini. Bahkan dalam karya Yesus, beberapa kali tempat ini dikunjungi-Nya. Kota Tirus dan Sidon adalah contoh tempat di Libanon yang pernah dikunjungi Yesus. Di situ Ia melakukan mujizat mengusir setan dari anak seorang perempuan Siro-Fenesia yang begitu beriman (Markus 7:24-26). Kedua kota ini bahkan dijadikan contoh oleh Yesus, betapa bangsa-bangsa non-Israel ternyata lebih mudah menerima Injil yang diberitakan-Nya (Matius 11:21-22).

Dalam perkembangan berikutnya, wilayah ini juga menjadi tempat yang sering dilalui oleh para rasul. Rasul Petrus dan Paulus menjadi tokoh yang juga turut andil dalam pekabaran Injil di Libanon, sebelum kemudian gereja-gereja di wilayah ini banyak dilayani oleh jemaat Antiokhia yang ada di wilayah Syiria.

Meski demikian, kekristenan baru benar-benar menyebar luas di seluruh Libanon (terutama di wilayah pegunungannya) selepas abad keempat Masehi. Bermula dari karya monastik biarawan St. Maron, yang banyak membangun biara di wilayah pegunungan Libanon dan Syiria yang waktu itu umumnya dihuni oleh warga yang belum menganut kekristenan. Biara-biara itu sampai kini masih memegang peran penting dalam kehidupan kekristenan di Libanon.

Selama ratusan tahun di bawah pemerintahan Khalifah Islam, wilayah-wilayah yang dominan Kristiani di Libanon memang mendapatkan status otonomi khusus. Ini yang menyebabkan kekristenan dan ekspresi liturgis khas kekristenan yang mempertahankan Bahasa Aram masih tetap berkembang di Libanon. Hal yang membedakannya dengan ekspresi kekristenan Aramaik di Syiria maupun Koptik di Mesir.

Gereja Katolik Maronit yang merupakan salah satu gereja terbesar dalam rumpun Katolik Timur, merupakan gereja dengan jumlah jemaat terbanyak di Libanon, disusul Gereja Ortodoks Timur dan Gereja Katolik Melkit. Protestanisme cukup banyak dianut di masyarakat perkotaan dan umumnya merupakan karya misionaris Amerika dan Eropa selepas abad ke-19. **arms

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.