Lihat Bagian 1

Ada kesamaan yang saling menguatkan antara temuan Bilangan Research Center (BRC) dengan sejumlah fenomena yang pernah diteliti di lingkup GKI. BRC – satu lembaga yang berfokus pada penelitian tentang kekristenan dan gereja di Indonesia – baru-baru ini mengunggah sejumlah temuannya terkait perkembangan terkini gereja di Indonesia, termasuk terkait perkembangan kaum muda dan penggunaan internet oleh gereja.

Terkait perkembangan kaum muda, meski kelihatannya sangat banyak gereja yang semarak dengan kegiatan menjangkau generasi ini, BRC mencatat pertumbuhan jemaat yang berasal dari kaum muda dan anak secara keseluruhan masih kalah jauh dibandingkan jumlah jemaat dewasa. Temuan ini tentu senada dengan apa yang dikeluhkan oleh GKI belakangan ini termasuk soal seberapa relevannya GKI bagi pemuda, remaja dan anak.

BRC juga mencatat bahwa alasan kaum muda datang ke gereja bukanlah karena khotbah atau sesuatu yang lebih spiritual. Sebagian besar lebih merupakan alasan yang sifatnya personal seperti pertemanan (5%), apresiasi (5%), program yang menarik (10%) atau karena desakan keluarga (50%).

Ini senada dengan hal yang pernah diteliti oleh Pdt. Stephen Suleman yang mengungkapkan bahwa sebagian besar alasan pemuda hadir di kebaktian minggu di GKI adalah seputar: ada teman yang mengajak, jarak gereja yang dekat atau sudah bergereja di gereja disana sejak kecil. Bukan karena pemenuhan kebutuhan spiritual seperti khotbah minggu yang relevan bagi pemuda.

Lebih jauh BRC mengungkap hal yang lebih material dan terbilang sensitif, yaitu soal anggaran gereja. Hampir 70% dari 4.394 pemimpin gereja yang disurvey mengaku anggaran untuk kegiatan generasi muda (total anak, remaja dan pemuda) tidak mencapai 20% dari anggaran gereja. Bahkan 23% mengakui anggarannya ada di bawah 3%. Meski perhatian pelayanan tidak selalu terkait hal material, namun ketimpangan seperti ini tentu bisa diajukan sebagai salah satu sebab.

Respon gereja terkait perkembangan teknologi yang lekat dengan generasi muda juga menunjukkan kelembaman. Hampir semua gereja yang disurvey menyakini bahwa lebih dari 75% anggota jemaatnya sudah memiliki akses telepon genggam dengan teknologi internet. Bahkan lebih dari 60% gereja-gereja pedesaan yang disurvey mengaku mereka tetap bisa mengakses internet. Namun hanya sepertiga dari gereja yang disurvey yang telah memasang akses internet yang stabil di kantor gereja.

BRC memang tidak meneliti soal pemanfaatan situs atau media sosial gereja. Namun apa yang pernah diteliti oleh SELISIP terkait gereja-gereja di GKI SW Jawa Barat agaknya memberi gambaran senada. Hanya ada sekitar 23% dari seluruh jemaat GKI SW Jawa Barat yang terwakili dan cukup update di dunia maya.

Kesesuaian data dan simpulan dari sejumlah penelitian yang berbeda cakupan ini, agaknya bisa menjadi alarm yang cukup baik untuk memperingatkan gerak gereja terkini. Termasuk gerak GKI. **arms

Sumber data: Summary Seminar Hasil Temuan Survei Nasional Dinamika Gereja di Indonesia (BRC-30 Januari 2018)

Author

  • SELISIP berarti sisipan. Media ini meyakini kehadirannya mampu menyelisip di tengah derasnya arus informasi di masyarakat.