Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi, besar kesetiaan-Mu!

Nats Alkitab ini sering sekali dinyanyikan dalam himne Kristiani klasik maupun kontemporer. Namun, kebanyakan orang mengira ayat tersebut diambil dari kitab Mazmur. Padahal tidak. Ayat itu merupakan bagian dari Kitab Ratapan, tepatnya di Ratapan 3:22-23. Kesalahan asosiasi seperti itu memang wajar terjadi, mengingat kitab Ratapan memang tidak terlalu sering dijadikan bacaan harian dalam jemaat.

Mirip dengan kitab-kitab Taurat, kitab Ratapan tidak memiliki nama spesifik dalam Alkitab Ibrani. Kitab itu hanya disebut lewat kata pertamanya Eykhoh, yang kira-kira berarti seruan keheranan: Oh betapa atau Oh bagaimana. Nama yang tidak spesifik ini juga dikarenakan Ratapan dianggap sebagai bagian dari Kitab Nabi Yeremia, yang secara tradisional disebut sebagai penulis Ratapan.

Secara umum Ratapan berisi nyanyian duka terkait kehancuran Yerusalem. Meski kepenulisan Yeremia diragukan sejumlah pakar Alkitab modern, nampak jelas bahwa kitab ini ditulis dari perspektif orang yang tetap tinggal di Yerusalem, sementara banyak bangsa Yahudi saat itu ikut ke pembuangan Babel.

Kitab ini tersusun dalam bentuk yang terbilang unik. Ada lima nyanyian ratapan dengan tema yang berbeda. Nyanyian pertama, kedua, keempat dan kelima terdiri dari 22 baris. Sementara nyanyian ketiga merupakan nyanyian paling panjang, terdiri dari 66 baris. Nyanyian pertama hingga keempat tersusun dalam susunan akrostik, sesuai dengan 22 urutan abjad Ibrani. Untuk nyanyian ketiga ada tiga baris dengan huruf awal yang sama, sehingga membentuk susunan 3×22 baris. Sementara itu nyanyian kelima, meski tetap terdiri dari 22 baris, tidak disusun secara alfabetis.

Nyanyian pertama menganalogikan kota Yerusalem duduk laksana seorang janda yang menangis karena ditinggalkan dengan kesengsaraan. Sementara dalam nyanyian kedua kesengsaraan itu dikaitkan dengan dosa-dosa bangsa dan tindakan Allah atasnya. Nyanyian ketiga berbicara panjang lebar tentang harapan bagi umat Allah, bahwa hukuman ini adalah demi kebaikan mereka. Akan ada hari yang lebih baik, akan ada fajar bagi mereka.

BACA JUGA  Ester Tidak Menyebut Kata Tuhan

Nyanyian keempat meratapi kehancuran dan kesedihan atas kota dan bait suci, sembari memeriksa diri akan dosa pribadi dan dosa bangsa. Sementara bagian terakhir lebih merupakan doa agar cela Sion dapat diangkat lewat pertobatan dan pemulihan bangsa.

Dalam Liturgi Yudaisme, Kitab Ratapan biasanya dibacakan pada peringatan kehancuran Bait Suci (Tisha B’Av). Sementara dalam sejumlah tradisi Kristiani, kitab ini biasanya dibacakan di masa-masa akhir Pra-Paskah. Merefleksikan dosa, serta menghayati harapan akan pertolongan Tuhan. **arms