Betapa kita tidak bersyukur bertanah air kaya dan subur;

lautnya luas, gunungnya megah, menghijau padang, bukit dan lembah.

Itu semua berkat karunia Allah yang Agung, Mahakuasa;

Selama Agustus atau momen yang dipakai untuk menghayati kebangsaan, banyak gereja yang memperdengarkan lagu di Kidung Jemaat No 337 ini. Liriknya sederhana, namun sarat makna. Rangkaian nadanya yang pentatonis pun menjadikannya lekat dengan nuansa Nusantara.

Kebanyakan jemaat yang menyanyikan lagu ini mungkin kurang mengetahui sang pengarang sebelumnya telah menggubah lagu lain bertema serupa, dalam bentuk yang lebih umum, bukan lagu yang dipakai di ibadah Kristiani. Lagu nasionalis Suburlah Tanah Airku, salah satu karya di 1950-an yang dianggap sebagai ciptaan berkualitas dan tahan zaman, dihasilkan oleh komponis yang sama.

Namun yang lebih tak terduga, adalah fakta bahwa komponis yang sama juga menggubah lagu ideologis Nasakom Bersatu, yang amat terlarang selepas naiknya pemerintahan Orde Baru.

Komponis yang dimaksud adalah Subronto Kusumo Atmodjo. Ia adalah musikus gemilang yang dipuji banyak seniman sezamannya. Dianggap sebagai sosok yang mahir dalam musik gaya Eropa namun sangat peduli pada pengembangan musik khas Nusantara. Sepanjang kariernya di bidang musik, Subronto telah menciptakan sedikitnya 20 nyanyian tunggal dengan iringan piano, 15 lagu paduan suara, 25 lagu gereja, 3 kantata dan oratoria, sebuah musik untuk sendratari, puluhan aransemen musik, dan sejumlah mars yang tidak pernah terdengar lagi.

Subronto lahir di Margotuhu, Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati, pada 12 Oktober 1929 dan meninggal di Bekasi, pada 12 November 1982. Dia pernah menjadi tahanan politik yang ditempatkan di Pulau Buru karena dianggap terlibat dalam Gerakan 30S/PKI terkait lagu Nasakom Bersatu ciptaannya yang sebenarnya merupakan pesanan pemerintahan Soekarno.

BACA JUGA  Hupomone

Pada 1962 ia berangkat ke Jerman Timur untuk belajar paduan suara dan komposisi di Sekolah Musik Hanns Eisler. Lulus dengan predikat cum laude, Subronto pulang ke tanah air di tahun 1968. Ia langsung ditangkap dan dijadikan tahanan politik karena namanya tercatat sebagai anggota Lekra. Dua tahun kemudian, ia dikirim ke Inrehab, Pulau Buru. Baru pada Desember 1977 ia kembali ke Jakarta.

Selama di Pulau Buru, Subronto banyak menghabiskan waktu untuk refleksi dan menghayati sisi religiusitasnya. Dalam kesaksiannya Subronto mengaku, justru semakin menemukan jalan mengikut Kristus, lewat apa yang ia alami di tahanan. Itu pula yang kemudian membuatnya banyak aktif di Yayasan Musik Gerejawi. Lagu Betapa Kita tidak Bersyukur ini diciptakannya selepas dua tahun dibebaskan dari Pulau Buru, sebagai bentuk syukur karena diberi kesempatan menghirup lagi kayanya alam negeri ini. **arms