Siapakah kita di hadapan Tuhan? Banyak orang Kristen memandang dirinya sebagai “pendosa”, “orang yang tidak layak”, atau “orang yang tidak bisa apa-apa.” Sadar atau tidak, kita sering memberi label negatif terhadap diri sendiri. Alih-alih melihat potensi diri, yang kita lihat melulu kesalahan, kegagalan, dan kelemahan diri.

Rupanya inilah yang mendorong Caesareo Gabarain, seorang pastor dari Spanyol, untuk menggubah nyanyian berjudul Sois La Semilla, yang dalam Bahasa Indonesia menjadi Kaulah Benih yang Terus Bertumbuh. Salah satu lagu kristiani era modern yang terbilang luas dinyanyikan di banyak forum ekumenis.

Pastor Gabarain yang semasa hidupnya menggubah sekitar limaratusan lagu himne ini, sering melayani orang-orang muda di era 1960-1970-an. Ia suka bersepeda bersama mereka, dan banyak syair lagunya terinspirasi dari orang-orang muda yang ia temui.

Dalam Kaulah Benih yang Terus Bertumbuh, Gabarain berusaha memberi semangat kepada orang-orang Kristen dengan memberi mereka label-label positif. Ia mengajarkan bahwa di hadapan Tuhan, mereka bukan sekedar dipandang sebagai “pendosa.” Sebaliknya, mereka seperti benih yang akan bertunas, bintang yang akan menerangi malam, garam yang akan memberi rasa, pelita yang akan membawa terang, api yang akan mengusir gelap, gembala yang mendamaikan, hidup yang menghidupkan, dan yang terpenting: teman yang telah Tuhan pilih untuk mewartakan berita damai dan pengampunan-Nya.

Dengan gambaran diri yang positif ini, di bagian refrain ditegaskan, bahwa orang Kristen diajak Tuhan untuk pergi dan menjadi saksi Tuhan, dengan cara mewujudkan kasih-Nya dan menyampaikan pesan damai dan pengampunan-Nya kepada tiap orang. Refrain ditutup dengan sebuah janji, bahwa Tuhan yang bangkit akan menyertai orang percaya, sementara mereka menunaikan tugas pengutusan itu.

BACA JUGA  Dua Sosok Ibu di Alkitab

Lagu ini mengingatkan kita agar memiliki rasa percaya diri dan bersikap positif terhadap diri sendiri. Bukankah Tuhan pun memandang kita secara positif? Hidup Kristen bukan cuma berisi perjuangan melawan dosa. Janganlah waktu dan energi kita habis hanya untuk memikirkan “aku dan dosaku.” Alih-alih terus melihat ke dalam (inward looking), kita juga perlu melihat ke luar (outward looking).

Hidup Kristen adalah soal berbuat sesuatu yang berguna bagi sesama. Hidup menjadi berkat, mewujudkan kasih, dan mewartakan berita damai bahwa Tuhan itu pengasih dan pengampun. Kalau tema cerita hidup kita melulu berfokus pada dosa, isinya hanyalah rasa bersalah, tidak layak, dan tidak bisa berbuat apa-apa.

Makanya, ubahlah tema cerita hidup kita. Pandanglah diri sendiri sebagai sahabat Tuhan yang telah dipilih dan diperlengkapi untuk menjadi agen pembawa damai dan kasih-Nya. Wujudkan kebaikan Tuhan dalam tindakan-tindakan kecil tiap hari. Jadilah pendamai dan pengampun. Anda akan merasa diri berharga, di hadapan Tuhan dan sesama. Bagaikan benih yang terus bertumbuh!

Sumber: Tim Bina Jemaat GKI Samanhudi
Video: Kolintang Mawar Sharon