Pada masa-masa awal kekristenan, teks-teks Perjanjian Baru berbahasa Yunani beredar lewat penyalinan dan pengajaran gereja. Peredarannya ada di sekian banyak komunitas jemaat yang berbeda, mulai dari wilayah Palestina, hingga ke Timur (Siria, Arabia dan Persia), Eropa dan Afrika Utara.

Menjadi wajar jika ada variasi yang disebabkan perbedaan dalam penyalinan, pemberian komentar untuk penekanan, atau juga kata yang dipakai saat menyalin/menerjemahkannya ke bahasa atau dialek lokal tertentu.

Variasi itu seringkali berkembang luas, karena satu salinan dengan varian tertentu juga sering dipakai sebagai dasar salinan berikutnya. Ini yang menyebabkan umumnya salinan bervariasi berdasarkan wilayah atau kedekatan para pengajar Kristiani.

Saat studi kritik teks modern terhadap kitab suci mulai berkembang di Eropa, para sarjana Alkitab telah mendaftarkan varian-varian yang ada dari semua manuskrip Perjanjian Baru yang ditemukan (sejauh ini lebih dari 24.000 manuskrip). Penemuan codex Sinaiticus dan sejumlah manuskrip varian Aleksandria yang berasal dari abad paling awal, semakin membuat pembandingan itu lebih akurat, sehingga menghasilkan kodifikasi kritis Critical Text (CT), yang menjadi pembanding terhadap kodifikasi tradisional.

Pembandingan oleh sarjana Alkitab, Kurt dan Barbara Aland misalnya, merunut setidaknya hampir 5.000 ayat dari Perjanjian Baru (lebih 62%), yang disalin tanpa variasi. Varian terbesar umumnya ditemukan dalam keempat Injil, Kisah Para Rasul dan Wahyu, sementara untuk surat-surat rasuliah varian itu terbilang sangat kecil.

Varian yang ada sebagian besar berupa tersalin atau tidaknya satu atau sebagian ayat. Misalnya bagian doksologi pada doa Bapa Kami di Matius 6:13 (karena Engkaulah yang empunya, dst), yang tidak ditemukan dalam sejumlah manuskrip awal. Atau kisah orang Yahudi yang berbeda paham setelah mendengar kesaksian Paulus di Kisah Para Rasul 28:29, yang dalam sejumlah manuskrip tidak dicantumkan. Dalam Alkitab versi Indonesia (LAI-TB), biasanya tambahan-tambahan itu dicantumkan dalam kurung.

BACA JUGA  Cerita dari Empat Filipus (1)

Varian lain dapat berupa satu atau dua variasi kata, semisal di Markus 2:16, orang Yahudi bertanya: “Mengapa Ia (Yesus) makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Yang dalam sejumlah varian memakai kata “makan dan minum.” Dalam variasi seperti ini, biasanya LAI-TB memilih bentuk terjemahan yang lebih dekat dengan CT.

Meski varian yang ditemukan amat beragam, tidak banyak yang merupakan perbedaan besar atau menjadi bahan untuk pengembangan doktrin yang berbeda. Selain pencantuman perikop tentang perempuan yang berzinah dan bagian akhir Injil Markus, hampir semua manuskrip lengkap Perjanjian Baru memuat konten yang sama. Demikian pula, selain penegasan doktrin Trinitas di koma Yohanes, hampir tidak ada varian yang menyentuh perkara doktrinal.

Keberadaan varian-varian ini justru semakin memperlihatkan bahwa pesan utama kekristenan terdistribusi dengan merata, tanpa harus dikontrol oleh satu tangan. Kitab suci Kristiani pun menjadi sangat terbuka untuk diteliti. **arms