Saya menjadi anggota Perhimpunan Indonesia atas keyakinan saya dan saya tidak dapat mengundurkan diri. Karena itu saya memaafkan ayah, apabila ayah memutuskan kiriman uang belanja pada saya,” tulis Arnold Mononutu tegas kepada ayahnya di tahun 1925.

Saat itu Perhimpunan Indonesia di negeri Belanda sudah dicap sebagai organisasi pelajar yang kontra terhadap pemerintah kolonial Belanda. Belanda tidak tinggal diam. Mereka mengancam sejumlah pejabat di jajarannya, yang anaknya ikut organisasi tukang kritik itu. Termasuk orang tua Arnold Mononutu. Ayah Arnold pun menyurati anaknya, agar tidak cari masalah.

Namun, pemuda kelahiran Manado 4 Desember 1896 itu tetap kokoh dengan keyakinannya. Singkat cerita, Arnold tetap aktif di perkumpulan yang mengilhami ide nasionalis Indonesia itu. Sepulangnya ke tanah air, ia pun tetap terlibat dalam perjuangan kaum muda. Namanya tertulis di daftar peserta Kongres Pemuda Indonesia II 1928. Menemani para juniornya di Jong Celebes. Selepas kemerdekaan kita pun mengenal kiprahnya sebagai Menteri Penerangan di tiga kabinet, lalu ditunjuk sebagai rektor pertama Universitas Hasanuddin.

Lain lagi cerita Johanna Tumbuan. Perempuan asal kampung kecil Amurang, Sulawesi Utara itu masih berusia 16 tahun, kala diajak temannya untuk terlibat dalam kegiatan para pelajar Indonesia di tahun 1926. Orang tuanya sempat meminta agar ia hanya berfokus pada studi, bahkan mengancam akan menghentikan pengiriman belanjanya.

Namun, Jo secara diam-diam tetap aktif di Jong Celebes, kemudian bergabung di Indonesia Muda. Tahun 1928, ia turut hadir dalam Kongres Pemuda II yang melahirkan apa yang sekarang disebut sebagai Sumpah Pemuda. Jo kemudian terlibat lebih jauh sebagai relawan kesehatan dan logistik di sejumlah titik perjuangan fisik Indonesia. Ia juga merupakan aktivis paling awal di Palang Merah Indonesia. Sebagai tokoh pergerakan perempuan, namanya banyak diingat sebagai penyusun konsep pembangunan tugu Proklamasi.

BACA JUGA  Pdt. Arliyanus: Sinode GKI dalam Orkestrasi Kebangsaan

Nama dua tokoh ini mungkin kerap terlupakan kala kita membahas Sumpah Pemuda. Kala menyebut tokoh-tokoh Kristiani yang terlibat dalam peristiwa besar itu, barangkali kita hanya mengingat Johannes Leimena dari Jong Ambon atau Amir Sjarifuddin dari Jong Bataks Bond yang juga menjadi bendahara di kepanitian Kongres Pemuda II itu.

Namun, tentu masih banyak pemuda-pemudi Kristiani yang perannya cukup signifikan dalam merancang dan menyepakati kesepakatan anak bangsa itu. Bahkan, sejak Kongres Pemuda I tahun 1926, tokoh-tokoh muda Kristiani ini sudah hadir dan terlibat. Nama Paul Pinontoan dan Jan Toule Soulehuwij sudah menjadi panitia yang mempersiapkan Kongres Pemuda I 1926.

 

Paul merupakan perwakilan dari Pelajar Minahasa, sebagai peserta dan panitia di Kongres Pemuda I 1926. Ia merupakan satu-satunya umat Kristiani yang berpidato pada kongres tersebut. Dalam pidatonya di kongres ini ia menekankan tentang pentingnya toleransi dan kesatuan sebelum mencapai kemerdekaan Indonesia. Pidato Paul, menjadi salah satu dari rangkuman yang dicatat oleh Wage Rudolf Supratman sebagai hal yang menginspirasinya menuliskan syair tentang seruan kesatuan di lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Kongres Pemuda II 1928 yang melahirkan Sumpah Pemuda, dikabarkan dihadiri lebih dari 700 orang. Sayangnya, karena penyitaan yang dilakukan pihak kepolisian Belanda, saat ini kita hanya mendapati 82 nama peserta dan panitia yang turut hadir dalam rapat akbar tersebut. Dari 82 nama di daftari itu pun kita masih dapat mengenali para putri dan putra Kristiani, seperti Rumondor Cornelis Lefrand Senduk, Dien Pantouw dan Nona Tumbel.

RCL Senduk, merupakan perwakilan dari Jong Celebes dan duduk sebagai Pembantu III dalam kepanitian Kongres Pemuda II 1928. Ia adalah seorang dokter yang kemudian aktif dalam perjuangan dan mempolopori berdirinya Palang Merah Indonesia.

BACA JUGA  Martin Luther: Sang Reformator yang Konservatif (1)

Sementara itu Dien Pantouw dan Nona Tumbel merupakan pemudi Minahasa yang juga mewakili Jong Celebes. Sayangnya masih minim catat sejarah tentang dua sosok ini. Dien Pantouw, diketahui kemudian menikah dengan tokoh pergerakan kemerdekaan yang kemudian menjadi diplomat ulung Indonesia, Mr. Soenario Sastrowardojo. Sementara Nona Tumbel kemudian lebih aktif dalam kegiatan sosial di Sulawesi.

Mengangkat nama-nama ini, tentu bukan dengan maksud menegaskan kebanggaan sektarian. Namun sebagai sebuah ingatan akan bagaimana anak bangsa dari berbagai identitas bisa bekerja untuk cita yang sama.

Bagi umat Kristiani pengingatan menjadi semakin penting sebab lewat teladan para tokoh ini kita belajar bagaimana kecintaan akan bangsa bisa ditautkan dengan serasi bersama iman kekristenan sekaligus bagaimana umat Kristiani bisa bahu-membahu bersama umat agama lain untuk membangun bangsanya. **arms

Foto: Museum Sumpah Pemuda