Filipus merupakan nama umum di masyarakat zaman Yesus. Sebagai wilayah yang lama terkena pengaruh Hellenisme, tentu cukup banyak warga kitaran Palestina saat itu yang mengadopsi nama Yunani. Arti nama itu pun sangat umum, sebuah konstruk dari kata philos yang berarti teman atau penyayang, serta kata hippos yang berarti kuda, sehingga berarti teman atau penyayang kuda. Sebutan ini terbilang lazim mengingat kuda merupakan salah satu moda transportasi utama.

Perjanjian Baru mencatat setidaknya ada empat orang yang bernama Filipus. Dua diantaranya merupakan anak Herodes Agung dari dua istri yang berbeda: anak Mariamne II (Matius 14:3), yang kemudian dilepas status kebangsawanannya dan anak Cleopatra, yang kemudian menjadi penguasa wilayah Timur Laut Yudea (Lukas 3:1).

Sementara dua Filipus yang lain adalah tokoh penting di gereja mula-mula. Yang merupakan satu dari 12 murid Yesus (Yohanes 12:20-22) dan Filipus sang penginjil yang merupakan satu dari tujuh pelayan di Yerusalem (Kisah Para Rasul 6:5).

Filipus Murid Yesus
Filipus murid Yesus merupakan tokoh penyandang nama ini, yang paling banyak dicatat kemunculannya di Perjanjian Baru. Injil Yohanes menyebut asalnya dari Betsaida, kota yang sama dengan Andreas dan Petrus. Ia bertemu Yesus saat Sang Guru akan berangkat ke Galilea. Ia pun mengajak temannya Natanael untuk bertemu Yesus (Yohanes 1:43-45).

Agaknya rasul yang satu ini memang punya sifat yang praktikal, terbuka serta suka mengajak orang untuk terlibat. Ia pun terlihat mempunyai kedekatan dengan komunitas Yahudi yang berbahasa Yunani. Dalam Yohanes 12, Filipus disebut sebagai penghubung antara orang-orang berbahasa Yunani yang turut dalam perayaan Paskah, untuk bertemu dengan Yesus. Momen yang justru dipakai Yesus untuk menubuatkan kematian dan perjalanan kemuliaan-Nya.

BACA JUGA  Ada Berapa Maria?

Namun, Injil Yohanes juga menyajikan kritik atas sisi praktikal ini. Sesaat sebelum memberi makan 5.000 orang, Yesus menguji Filipus untuk membeli makanan. Namun, pertimbangan praktis Filipus langsung mengatakan itu tidak mungkin (Yohanes 6:7). Demikian pula permintaannya di perjamuan terakhir, agar Yesus menunjukkan Bapa secara langsung (Yohanes 14:8). Yesus mengkritiknya karena tidak bisa mengaitkan keseharian bersama Yesus dengan perjumpaan iman bersama Bapa.

Lewat kisah Filipus kita melihat bagaimana Tuhan menghargai dan menggunakan sisi praktikal dalam pelayanan, namun juga menuntut kita agar bisa melihat keterkaitannya dengan iman percaya serta hal-hal konseptual yang juga penting untuk kita kenali.

Tradisi gereja menyebut sang rasul kemudian menjadi tokoh yang mengabarkan Injil di wilayah Yunani dan Asia Minor. Ia dikisahkan menjadi martir di Hierapolis. **arms



Ilustrasi: St. Philip oleh Peter Paul Rubens (1611) Museo del Prado, Madrid