Pendeta-pendeta harus memiliki kecerdasan kontekstual, dalam arti ia paham konteks ruang dan waktu yang dihadapinya, juga hal-hal global yang mempengaruhinya. Ini sesuai dengan yang dikatakan Yesus soal kemampuan membaca tanda zaman,” Pdt. SAE Nababan mengucapkan hal itu dalam satu wawancara dengan SELISIP akhir Oktober lalu.

Di mata pendeta kelahiran Tarutung 85 tahun silam itu, kepemimpinan gerejawi bukanlah sekedar seremoni jabatan atau sekedar mengulang-ulang tradisi usang. Pemimpin gereja, menurutnya harus dinamis, perlu selalu memperlengkapi diri agar mengetahui apa yang sedang terjadi serta mampu berkolaborasi dengan sekitarnya. Posisi-posisi strategis di gereja maupun lembaga kesatuan gerejawi seyogianya dipakai untuk meneladankan sekaligus menghasilkan kepemimpinan yang demikian.

Tentu saja, pendeta yang biasa disapa dengan akronim namanya SAE itu (nama lengkapnya Soritua Albert Ernst Nababan), tidak sekedar melempar konsep. Kiprahnya yang panjang sebagai pengemban jabatan di sejumlah lembaga gerejawi adalah perwujudan sekaligus evaluasi kritis akan pemikirannya tadi. Sejak muda, SAE memang dikenal cemerlang dalam kemampuan organisasional. Namanya kerap ditemui dalam jajaran pemimpin di gerejanya dan banyak lembaga persatuan gerejawi.

Pdt. SAE Nababan menjabat sebagai sekretaris umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) dalam periode cukup panjang (1967-1984), kemudian menjadi ketua lembaga ini pada 1984-1987. Mengemban fungsi kepemimpinan gereja di tengah puncak kejayaan Orde Baru adalah tantangan tersendiri buatnya dan banyak rekan pendeta saat itu. Meski harus menaati aturan dan bekerjasama dengan pemerintah dalam banyak aspek, gereja juga perlu tetap kritis menyuarakan keadilan dan kemanusiaan.

Lebih jauh, kiprah yang membuatnya cukup dikenal di Indonesia adalah saat menjadi Ephorus di gereja asalnya Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) selama 1987-1998. Periode yang ditandai dengan dualisme kepemimpinan di gereja itu selama 1992-1998, serta sejumlah konflik fisik sebab pemerintahan Orde Baru turut campur tangan dalam perselisihan ini. Di masa-masa ini, SAE Nababan dikenal kritis pada pemerintahan Orde Baru.

BACA JUGA  Yohanes Calvin: Diantara Disiplin dan Polemik (1)

Tantangan dan Solusi Dinamis Ekumenis
SAE meyakini bahwa tugas utama gereja, terutama yang harus diemban para pimpinannya, adalah terus menggumuli dan menghidupi Firman Tuhan di berbagai kondisi zaman.

Tantangan yang saya hadapi waktu dengan yang dihadapi sekarang tentu berbeda. Yang jelas gereja harus bertumbuh dari sekedar kekristenan susu, dalam arti hanya berbicara hal-hal yang mudah dan untuk diri sendiri. Gereja harus mengemban kekristenan makanan keras, mampu menanggapi apa yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Persoalan demokrasi, persoalan keadilan, persoalan perdamaian. Pertumbuhan itu harus tercermin dalam kehidupan jemaat. Siapa yang mengusahakan ke arah sana? Tentu saja pimpinan gereja,” lanjut SAE.

Sedari dulu ia memang menyerukan agar hal ini dikerjakan secara bersama-sama dan dinamis, hingga menyentuh aspek-aspek yang praktis. SAE mencontohkan pembinaan para pengerja gereja sebenarnya bisa dilakukan bersama-sama antar gereja di satu kota.

Tantangan dan kondisi masyarakat yang dialami oleh GKI dan HKBP di Bandung, misalnya, tentu kurang lebih sama. Jadi kenapa harus selalu terpisah-pisah mengerjakannya? Lagipula masyarakat umum tidak terlalu membedakan mana itu GKI, HKBP, GKJ, GPIB, dan lain-lain, mereka hanya tahu kita sebagai umat Kristen. Harus ada yang mulai memprakarasi ke arah ini.

Sebagai orang yang juga sangat aktif dalam forum ekumenis global, SAE menilai inilah tantangan terbesar ekumenisme. Baginya, gereja-gereja yang terlibat dalam gerakan ekumenis tidak boleh hanya puas dengan konsep yang mendalam yang hanya dikenal oleh para pemimpin gereja, lalu lanjut mengerjakan ritual gerejawi seperti biasa.

Masa-masa sekarang adalah masa kritis bagi kekristenan dan kepemimpinan gereja. Namun menurut saya krisis itu tidak selalu berarti kesulitan. Krisis selalu merupakan sebuah kesempatan. Saat saya berkata ada dalam kondisi kritis, itu juga berarti ada kesempatan untuk mengambil pilihan. Apakah para pemimpin gereja akan mengubah diri hingga mampu mengatasi tantangan atau tetap seperti biasa hingga kita menemui jalan buntu,” tegasnya. **arms