Ini sebenarnya merupakan bentuk pengakuan dan penebusan dosa,” ujar Aan Anshori lirih. Pegiat Jaringan Islam Anti Diskriminasi (JIAD) itu memulai diskusi dengan agak haru. Di hadapan sekitar lima puluhan peserta bedah buku Ada Aku diantara Tionghoa dan Indonesia yang Senin malam itu (3/12) berkumpul di GKI Maulana Yusuf, Aan menjelaskan kenapa ia menggagas buku itu.

Ini bagian dari kegelisahan saya, karena pernah terjerumus ke dalam kebencian dan prasangka rasial yang tidak adil kepada rekan-rekan yang Tionghoa. Saya sendiri besar di lingkungan yang terbilang homogen dan memelihara kebencian seperti itu. Setelah sadar saya resah, saya pun turut mengajak orang untuk resah bersama lewat proyek buku ini,” papar Aan.

Buku yang berisi tulisan reflektif dari 73 penulis itu memang sarat cerita. Berbagai kisah tentang interaksi dengan komunitas Tionghoa di Indonesia tersaji disana. Ada cerita orang yang mengalami penindasan, serta para pelaku penindasan yang kini sadar, atau pengalaman indah karena bisa hidup dan berbagi bersama. Semua campur-baur di buku itu.

Tak hanya di buku, dalam diskusi pun cukup banyak peserta yang hadir berbagi pengalaman mereka. Ada yang menceritakan kisah bagaimana anaknya mengalami bullying di sekolah umum semata karena warna kulit dan bentuk mata yang berbeda. Ada pula yang berbagi pengalaman pahit yang sempat membuatnya trauma. Namun, tak sedikit juga yang bercerita upaya yang mereka lakukan untuk membuka ruang-ruang perjumpaan.

Saya dengan terbuka memandu sekian banyak orang mengunjungi Klenteng Besar Bandung,” ujar Sugiri, salah seorang peserta. Ia juga menceritakan bagaimana ia selalu memenuhi undangan untuk berbagi penjelasan tentang budaya Tionghoa di Indonesia. “Yang jelas ruang pertemuan itu harus dibuka, tidak bisa dibiarkan terus dalam prasangka,” pungkas Sugiri.

BACA JUGA  Jubileum 50 Tahun GKI Nurdin

Aan sendiri bercerita tentang pengalamannya mempertemukan anak-anak dari SD Kristen dengan Madrasah Ibtidaiyah di Jawa Timur. Menurutnya penjelasan soal menerima keberagaman akan jauh lebih mudah disampaikan lewat pengalaman dan perjumpaan.

Diskusi buku ini merupakan bagian dari rangkaian Bandung Lautan Damai (BALAD) yang dilangsungkan dalam merayakan Hari Toleransi Internasional untuk konteks Bandung. Acara ini digagas oleh GKI Maulana Yusuf, Forum Lintas Agama Deklarasi Sancang (FLADS) dan Jaringan Kerja Antar Umat Beragama (JAKATARUB) untuk kian membuka ruang perjumpaan dan pemahaman toleransi serta narasi kebangsaan.

Dalam sambutannya Pdt. Bernadeth Florenza dari GKI Maulana Yusuf mengapresiasi ruang-ruang diskusi seperti ini untuk terus dilangsungkan. Bagi GKI Maulana Yusuf ini sesuai dengan semangat untuk menjaga serta memperkaya keberagaman Indonesia. **arms