Jelang malam Natal 1914 pasukan Jerman dan Inggris yang berseteru dalam perang bertindak ”gila”. Entah siapa yang memulai, tanpa takut pasukan kedua belah pihak keluar dari parit perlindungan, menanggalkan senjata, lalu berjalan menghampiri musuh sambil menyanyikan lagu Natal. Saat berjumpa, mereka berpelukan, melontarkan senyum, mengucapkan selamat Natal. Api permusuhan padam. Lawan menjadi kawan!

Sayangnya, keakraban Natal itu dinikmati sekejap. Komandan perang kedua pihak marah besar. Mereka mengancam akan menghukum siapa pun yang bersikap ramah kepada musuh.

Sebagai alat politik, perang mencerai-beraikan. Ia adalah penistaan terhadap kemanusiaan, bukan pemuliaan. Para prajurit diperintahkan kembali ke parit perlindungan, lalu melanjutkan perang brutal yang berlangsung lebih dari empat tahun. Mereka saling membinasakan. Jutaan orang menderita dan mati. Segalanya hancur lebur! ”Homo homini lupus,” keluh Plautus.

Memang kita merindukan dunia yang beradab, tetapi kita dan dunia ini sering dikuasai hasrat kebiadaban. Paulus mengakuinya. Ia merintih, ”Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat.” (Roma 7: 19)

Ambiguitas menyertai seluruh sejarah hidup kita. Meski McLuhan berharap pada dunia sebagai sebuah kampung global tempat semua orang bebas berkomunikasi dan menjalin relasi, sesungguhnya kita hidup dalam fractured society, masyarakat yang retak (Lohan).

Ada ketidakpercayaan, saling curiga. Ada diskriminasi etnik, konflik dan perpecahan, karena nafsu berlebihan pada kekuasaan politik.

Terjebak teologi manikean
Dalam era pascakebenaran ini, polarisasi makin melebar karena yang dicari bukan kebenaran, melainkan pembenaran. Kita terjebak dalam teologi manikean yang dualistik dan polaristik.

Dunia dipahami dalam pertentangan yang baik versus jahat, terang vs gelap, murni vs sesat, anak Tuhan vs anak setan. Saingan bukan lagi manusia, melainkan musuh yang dilabel setan .

BACA JUGA  [Merdeka dari Kebencian]: Agama di Pentas Seni

Inilah akar kekerasan suci atau kejahatan kudus (holy criminal). Paradigma dualistik dan polaristik ini ada pada teologi semua agama. Akibatnya, agama berwajah ganda: ramah dan marah!

Menurut Schmit, paradigma dualistik dan polaristik adalah ”ibu” semua ideologi dan politik. Ia menjadi ”implisit teologi” yang mewarnai seluruh ideologi dan politik kita.

Sesungguhnya meningkatnya suhu politik yang menciptakan polarisasi dalam masyarakat kita terjadi karena penyalahgunaan paradigma politik ini. Akibatnya, Pemilu 2019 bukan dilihat sebagai sebuah pesta demokrasi, melainkan sebagai perang Badar atau perang Armagedon.

Dalam perang segalanya dihalalkan. Hoaks berisi kebohongan serta ujaran kebencian pun menari bebas di media sosial kita. Identitas komunal dibentengi. Ideologi kebangsaan yang mempersatukan dimarjinalkan. Agama dinista menjadi instrumen politik! Orang saling mendiskriminasi dan menghancurkan.

Harari benar ketika menyimpulkan bahwa akar segala persoalan dunia adalah politik. Tentu saja ketika politik dimaknai sebagai perebutan akses kekuasaan, bukan pengabdian.

Kita membutuhkan politik yang menyelamatkan, yaitu politik yang mengabdi kepada bangsa dan kemanusiaan demi terciptanya keadilan, perdamaian, dan keutuhan ciptaan!

Serius dengan dunia ini
Dalam konteks tantangan dan persoalan manusia dan dunia inilah Yesus lahir. Ia menghadirkan keselamatan bagi semua. Natal menunjukkan bahwa Allah bukanlah Deus otiosus, Allah yang berpangku tangan dan tidak peduli terhadap manusia dan dunia. Allah serius dengan dunia ini.

Natal adalah peristiwa politik, ketika Sang Mahakuasa menjadi manusia biasa! Ia hadir bukan demi kemuliaan, melainkan demi mengabdi pada kemanusiaan. Politik Yesus adalah politik yang diresapi hikmat Allah yang ditandai cinta dan kerendahan hati.

Yesus menggugat budaya duniawi yang patologis. Budaya ini membuat manusia terbius oleh kekayaannya, menjadi lalim oleh kekuasaannya, menjadi biadab karena nafsunya, dan menjadi garang oleh eksklusifismenya.

BACA JUGA  Uneg-uneg Soal Papua

Apa guna agama tanpa cinta? Paulus menyebut Yesus sebagai hikmat Allah bagi kita (I Kor 1: 24). Yesus memberikan teladan untuk senantiasa memegahkan solidaritas terhadap kemanusiaan dan alam raya di tengah diskriminasi dan eksploitasi.

Menerima kenyataan
Ambiguitas adalah adalah realitas dunia. Pada satu sisi kita ingin hidup aman dan tentram, tetapi kita dipaksa menerima kenyataan bahwa kita hidup di dunia yang rapuh. Berkat dan bencana silih berganti. Kegembiraan dan kesedihan bergiliran.

Tak seorang pun yang sedang berlibur di Pantai Anyer atau yang tinggal di Pandeglang menduga terjangan akan mengubah sejarah hidup mereka. Tsunami mengubah suka menjadi ratap tangis. Indonesia berduka.

Tetapi, ambiguitas kehidupan tidak cukup direspon dengan duka. Harus ada aksi nyata! Natal mengingatkan kita bahwa Allah hadir di tengah ambiguitas dunia.

Natal adalah pesan, Anda tidak pernah sendirian. Ada Tuhan bersamamu. Natal menantang kita untuk bergerak bersama membangun solidaritas kebangsaan dan kemanusiaan.

Dukamu adalah dukaku. Rintihanmu adalah rintihanku. Rintihan kita! Bersama kita hadapi! Inilah semangat Natal. Selamat Natal!

Penulis: Pdt. Albertus Patty (dimuat di Kompas 24 Desember 2018)

Ilustrasi: The Independent