Konsep tentang “panggilan” (calling) memang tidak bisa dipisahkan dari kekristenan. Dalam ibadah-ibadah kebangunan rohani sering dilakukan altar call, panggilan untuk datang ke altar dan tentunya kepada Tuhan sendiri. Ketika seseorang hendak diminta untuk melayani sebagai penatua, atau pendeta, maka dikatakan bahwa Tuhan yang “memanggil” mereka.

Tetapi benarkah “panggilan” Tuhan hanya berlaku untuk mereka-mereka yang hendak melayani secara khusus sebagai penatua, pendeta, penginjil, atau sejenisnya? Dalam Alkitab memang kita menemukan Tuhan memanggil pribadi-pribadi tertentu untuk menjadi alat-Nya. Abraham, Samuel, Yeremia atau para murid Yesus.

Namun sesungguhnya “panggilan” Tuhan tidak hanya berlaku untuk mereka saja. Dalam banyak ke-sempatan, Tuhan juga menyatakan panggilan-Nya untuk umat, persekutuan. Tuhan memanggil bangsa Israel keluar dari tanah Mesir untuk memasuki Kanaan, tanah perjanjian. Tuhan memanggil umat-Nya dalam persekutuan orang percaya.

Di 1 Petrus 2:9 misalnya, dikatakan “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil (Yunani: kalesantos, akar kata kaleo: “memanggil”, “to call”) kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib.

Tuhan memanggil umat-Nya untuk suatu tugas, misi yang dipercayakan-Nya kepada mereka. Bahkan dari kata kaleo itulah kita kemudian juga mengenal kata ekklesia, yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi kata yang sangat akrab bagi kita: gereja. Mengaku diri sebagai gereja berarti mengaku bahwa kita adalah orang-orang yang juga dipanggil Allah sendiri untuk menjadi alat-Nya, menyatakan karya keselamatan Allah.

Di sisi lain “panggilan” juga tetap merujuk pada ajakan untuk memberikan hidup dalam pelayanan. Dalam bahasa latin misalnya dikenal istilah vocatio, “panggilan khusus” yang dijalani oleh para rohaniwan (pastur, biarawan/biarawati).

BACA JUGA  Ada Apa dengan Tubuh (4)

Namun menariknya dalam teologia reformasi, istilah vocatio tersebut juga mendapatkan pemaknaan yang baru. Martin Luther, bapak Gereja Reformasi, memperluas makna panggilan/vocatio (dalam bahasa Jerman: beruf) tersebut pada semua pekerjaan yang membawa kebaikan sebagai sarana untuk menyatakan kemuliaan Allah.

Setiap profesi, setiap pekerjaan yang baik (bukan hanya menjadi rohaniwan) sesungguhnya adalah cara seseorang untuk dapat menyatakan kemuliaan Allah, menjadikan hidupnya sebagai “panggung kemuliaan Allah” (theatrum gloriam Dei). Kelak kata vocatio dalam penggunaannya memang dapat berarti pekerjaan atau profesi, seperti dalam kata vocational school yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi “sekolah kejuruan.”

Dalam sejumlah warta jemaat di minggu ini Anda mungkin dapat menemukan dua pengumuman tentang panggilan. Yang pertama adalah pewartaan tentang para calon penatua yang akan diteguhkan. Yang kedua adalah tentang proses seleksi calon mahasiwa theologia utusan GKI.

Mari kita doakan agar lewat setiap proses yang terjadi, Tuhan menguatkan, memimpin dan melengkapi saudara-saudara kita yang telah menerima “panggilan” Tuhan tersebut. Tapi juga jangan lupa bahwa kita semua juga sebenarnya telah menerima “panggilan” Tuhan, untuk terus menyat akan kemuliaan Tuhan. Lewat hidup kita pribadi, lewat keluarga kita, lewat pekerjaan kita, bahkan juga lewat Gereja, ekklesia, persekutuan kita bersama.

Penulis: Pdt. Sthira Budhi P (GKI Gading Indah)