Sejak zaman rasul-rasul hingga sekarang, gereja mengenal satu ordo dasar (kerangka dasar) liturgi minggu yang terdiri dari empat langkah, yaitu: berhimpun (gathering), pelayanan firman (word), pelayanan meja (table) dan pengutusan (dismissal).

Liturgi minggu mengalir lancar dan dinamis sejak awal sampai kepada pengutusan. Memenuhi undangan Allah, umat datang berhimpun, lalu membentuk persekutuan untuk merayakan keselamatannya. Di hadapan Allah, umat menyadari dan mengakui keadaannya yang berdosa dan menerima anugerah pengampunan dengan rasa syukur dan sukacita.

Rekonsiliasi ini memungkinkan dialog: umat mendengarkan dan menanggapi Firman Allah dengan perkataan dan perbuatan. Pelayanan Firman mengantar ke pelayanan persembahan: umat merespons dengan membawa persembahan syukur. Kemudian umat diberkati dan diutus untuk melanjutkan pelayanan dalam kehidupan sehari-hari.

Ordo inilah yang mempersatukan gereja di segala abad dan tempat. Menurut Gregory Dix, ”Gereja telah menemukan dalam liturgi suatu rangkuman yang padat dan lengkap dari Injil sebelum keempat kitab Injil ditulis.” Sejak awal gereja tetap memegang ordo ini, walaupun ada masa di mana ordo ini sulit dikenali, karena tertutup berbagai variasi dan ritual tambahan.

Walaupun gereja-gereja termasuk, jemaat-jemaat GKI, menggunakan ordo yang sama, tradisi-tradisi lokal telah mewarnai liturgi ini sehingga mempunyai kekhasan masing-masing. Konvergensi liturgi bukanlah penyeragaman, melainkan merayakan hal yang sama dengan ekspresi konstekstual.

Ini terlihat misalnya di komisi Faith and Order dari Dewan Gereja Sedunia. Di samping menyarankan penggunaan ordo ekumenis yang sama, pertemuan komisi juga menganjurkan pertukaran teks-teks liturgi secara ekumenis, sehingga kesaksian dan pergumulan gereja-gereja lokal bergema di seluruh dunia. Teks yang dipilih hendaknya berlatar belakang Alkitab dan tradisi-tradisi penting gereja.

BACA JUGA  Sifra dan Pua: Bidan yang Membangkang

Di GKI keinginan akan variasi dalam liturgi sudah mulai dibicarakan dalam sidang sinode Am GKI tahun 1971. Dalam lampiran akta sidang Sinode Am 1980 bahkan tercantum anggaran biaya untuk menyusun dan menerbitkan liturgi-liturgi variasi. Jadi, selalu ada kemungkinan untuk menggunakan kekayaan gereja segala abad dan tempat untuk mengembangkan variasi yang berbobot. Karena turut dalam gerakan liturgi oikumenis, GKI pun tidak perlu ragu-ragu meminjam doa-doa dan nyanyian-nyanyian yang relevan dari gereja-gereja lain. Asalkan tetap menggunakan ordo yang sama.

Sumber: Tim Bina Jemaat GKI Kota Wisata