Awalnya sih cuma berani lewat tulisan,” ungkap Sellin mengenang bagaimana dulu ia sangat malu untuk berbagi ide. “Aku memang suka menulis sejak SD. Lalu mulai menulis di facebook, satu hari satu tulisan. Sebenarnya tidak sulit, karena itu kan cerita apa yang aku alami,” lanjutnya.

Tak dinyana, ternyata sharing tulisan-tulisan itu memberkati banyak orang. Bahkan kini sudah dibukukan. “Mungkin karena banyak teman facebook yang pendeta GKI. Jadi banyak yang share. Baru kemudian semakin dimotivasi. Kalau bikin buku saja bisa, kenapa nggak kalau membicarakannya di depan banyak orang.”

Yosellin Nathania Yusak Silalahi kini sering tampil berbicara. Refleksi kesehariannya kian memotivasi banyak orang. Di tengah keterbatasan kondisi karena mengalami celebral palsy, Sellin tak kenal lelah menceritakan bagaimana kasih Tuhan menguatkan.

SELISIP menemui perempuan asal Bandung itu di awal tahun ini. Ia mengurai kembali cerita sejak kecil. “Yang jelas semuanya jadi kesaksian bahwa Tuhan itu baik banget,” awalnya membuka runutan kisah.

Bersahabat dengan Celebral Palsy
Terlahir sebagai prematur di usia kandungan delapan bulan, orang tua Sellin sudah mulai melihat tantangan yang akan mereka hadapi. Sellin kecil tidak menangis, ia harus masuk inkubator. Tidak ada yang tahu persis, sampai kelihatan perkembangan motoriknya lambat. Selama bulan-bulan pertumbuhan, ia hanya berbaring. Tidak bisa merangkak, bahkan menjangkau barang saja sangat sulit.

Itu tantangan besar. Karena tahun 1992 informasi soal celebral palsy belum begitu dikenal. Orang tua tidak hanya perlu untuk menyesuaikan diri untuk merawat aku, tapi menyiapkan mental mereka juga,” ujar Sellin lantas mengisahkan tantangan yang dihadapinya di masa kecil dan masa sekolah.

BACA JUGA  Martha Christina Tiahahu: Wanita Muda yang Dipakai Tuhan untuk Indonesia

TK aku sampai empat tahun. Awalnya cuma disekolahkan biar bisa sosialisasi. Tapi, kepala TK Kristen III Paulus Bandung memotivasi Mama, biar aku ke SD. Dan ternyata aku enjoy. Meski ada tantangan di matematika dan menulis, tapi bisa terus naik kelas,” lanjutnya.

Sellin sempat mengalami bullying dan sejumlah tantangan ketika memasuki jenjang SMP dan SMA. “Aku memang gak bisa milih banyak sekolah seperti banyak teman-teman. Harus avaliable dulu, misal kalau bertingkat harus ada lift. Guru dan lingkungannya juga harus mendukung. Tapi tetap paling utama, karena aku pengen tetap di sekolah umum.”

Bullying memang punya dampak berat untuk ditanggung. Sellin ingat ada satu momen di SMA, dimana salah seorang guru menyebutnya tidak layak untuk sekolah. “Rasanya semua kepercayaan diri yang sudah dikumpulkan sejak kecil langsung runtuh,” kenang Sellin. Ia mengaku sampai beberapa bulan tidak datang sekolah karena begitu terpukul atas perundungan itu.

Namun, Sellin berhasil melewatinya. Ia memilih bersahabat dan berjuang dengan kondisinya. Sellin lulus hingga tingkat SMA, bahkan sempat mengambil kuliah teologi sampai lima semester. Namun, karena beban studi yang lumayan berat untuk ditanggung fisiknya, ia memilih untuk menangguhkan perkuliahan. “Padahal saya dari kecil sebenarnya cita-cita saya jadi pendeta loh…” paparnya.

Berbagi dan Terus Berbagi
Sellin mengakui ada tantangan tersendiri yang dialaminya, juga orang-orang dengan kebutuhan khusus. “Kalau tidak diedukasi, seringnya kita merasa jadi pusatnya dunia, kurang bisa berbagi ruang dengan yang lain. Peran orang tua, pengasuh dan lingkungan sangat penting,” akunya.

Hal itu pula yang menjadi alasan warga jemaat GKI Kebonjati ini untuk terus berbagi. Sellin rindu agar gereja semakin terbuka dan mengevaluasi diri untuk menerima dan berkarya bersama yang berkebutuhan khusus. “Mulai dari memperbaiki akses bangunan, kemampuan berbagi ruang dengan yang berkebutuhan khusus, bahkan hingga solusi untuk masa depan mereka.

BACA JUGA  Mengunggah Ide Kreatif di Meet and Greet SELISIP

Bahkan kalau bisa bukan lagi sekedar melayani yang berkebutuhan khusus, misal dengan ibadah bersama yang disabilitas. Tapi harusnya menjadi inklusif, yang berkebutuhan khusus tidak lagi sekedar tempelan, melainkan berkarya bersama gereja. Memang harus mulai menuju kesana,” harap Sellin.

Sejauh ini Sellin memang tidak menjadi pendeta. Tapi perannya dalam berbagi, justru menyemangati banyak pendeta dan warga jemaat untuk mulai peduli. **arms