Tolong aku, Santa Anna! Aku akan mau jadi biarawan.” Teriakan ketakutan itu mengubah hidup Martin Luther dan hampir semua sejarah kekristenan Eropa.

Dalam cerita legendaris ini, dikisahkan Luther yang saat itu merupakan mahasiswa jurusan Hukum Universitas Erfurt, Jerman tengah berjalan di tengah hutan saat badai besar melintas. Kilat menyambar tepat di depannya. Pemuda brilian namun pemurung itu pun menyeru nama Santa Anna, ibu dari Bunda Maria, yang dalam tradisi Katolik adalah santa pelindung para penambang sekaligus pelindung para pelaut dari badai.

Luther selamat dari badai itu. Ia pun menganggap seruannya itu adalah sebuah kaul. Meski mengecewakan ayahnya, yang begitu ingin anaknya menjadi ahli hukum, Luther tetap memegang sumpahnya. Ia meninggalkan semua studinya di Erfurt dan masuk menjadi biarawan dalam ordo Agustinian.

Pada perpisahan dengan semua rekannya di kampus Erfurt, Luther amat bersedih serta menukas: “Hari ini kalian semua melihat aku, besok dan seterusnya tidak akan pernah lagi.

**

Cerita ini setidaknya memberi gambaran tentang watak Martin Luther, orang yang kemudian memimpin gerakan reformasi Protestan serta menginspirasi banyak reformator baru. Saat masih muda, ia dikenal sebagai orang yang cukup hati-hati, bertanggung jawab, penuh pemikiran yang mendalam, melankolis, namun juga seorang pembelajar yang setia.

Lahir di Kota Eiselben, pada 10 November 1483, sejak kecil ia telah dididik dalam tradisi intelektual sekaliguis kesalehan. Ayahnya Hans Luder (yang kemudian lebih sering ditulis dengan dana belakang Luther) adalah seorang penambang tembaga yang terbilang berkecukupan. Sementara ibunya Margarethe Liendemann juga merupakan perempuan yang suka belajar.

Luther sendiri mengenyam pendidikan paling favorit saat itu, dalam disiplin kaum awam Katolik Roma yang menekankan pada trivium: tata bahasa, logika dan retorika dengan Bahasa Latin sebagai patokan utama.

BACA JUGA  Pdt. Hendra dan PR Gereja untuk Kolaborasi (1)

Saat menjalani hidup sebagai biarawan pun, Luther menunjukkan pribadi yang sama. Refleksinya yang mendalam soal keselamatan berkali-kali terpancar dalam pergumulan spiritualnya. Ia dengan tekun mengikut berbagai kegiatan spiritual seperti berpuasa, mengaku dosa, berziarah serta banyak laku saleh lainnya. Ia begitu mencemaskan keselamatan, sembari amat setia mengerjakan ritual keagamaan.

Rasanya memang sulit dipercaya, reformasi Protestan yang terbilang radikal itu, dimulai dari sosok yang terbilang tenang seperti Luther. Bahkan saat menelurkan protes dalam apa yang kini dikenal sebagai 95 Dalil Martin Luther itu, ia tidak pernah berniat untuk membuat gerakan di luar Gereja Katolik Roma.

Namun, nampaknya Sang Pemilik Sejarah menggagas hal yang begitu unik. Perubahan terbesar dalam wajah kekristenan di Eropa Barat dan lebih dari setengah dunia, justru dimulai dari pemuda yang terbilang konservatif ini. **arms

Baca juga: Martin Luther: Sang Reformator yang Konservatif (2)
Ilustrasi: Martin Luther dalam lukisan Lucas Cranach the Elder