Ketika Yesus memulai karya pelayanan-Nya, ia jauh-jauh hari telah “merekrut” dan mempersiapkan beberapa orang untuk menjadi murid-Nya, tinggal bersama-Nya, dan belajar bersama-Nya. Sekalipun Yesus mampu menuntaskan misi Allah seorang diri, namun Ia berkenan memberi panggilan pada sejumlah orang untuk menjadi murid-murid-Nya.

Dalam kisah Injil Lukas 5:1-11, Yesus memanggil penjala ikan menjadi penjala manusia. Menarik, bagaimana Allah menyatakan panggilan-Nya dan kepada siapa saja panggilan itu dinyatakan? Bagaimana pula “kriteria” yang Allah tetapkan bagi orang-orang yang dirasa cocok untuk menjalani tugas panggilan-Nya?

Bila kita mau cermati, Yesus memiliki strategi untuk memanggil beberapa orang guna menjadi murid-Nya. Ia tidak langsung mengajak orang-orang itu untuk mengikuti-Nya, namun mulai dengan mengenali apa yang menjadi kebutuhan mereka. Sudah semalaman mereka, yakni para nelayan itu berusaha menangkap ikan, tetapi hasilnya nihil. Ia dengan sengaja menyampaikan permintaan, “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan!” (Lukas 5:4).

Tanggapan Simon sangat manusiawi. Ia sedikit keberatan dengan permintaan Yesus, sebab ia sudah bekerja keras semalaman dan tidak mendapat apa-apa. Kalau mau ditambah alasan, bukankah Simon seorang nelayan yang segenap hidupnya telah akrab dan berpengalaman di bidangnya, sementara Yesus hanyalah anak tukang kayu yang tidak tahu-menahu soal menangkap ikan? Bagaimana mungkin seorang anak tukang kayu memberi perintah mengenai hal yang biasa dilakukan oleh seorang nelayan?

Namun karena yang memintanya adalah seorang guru, sekalipun permintaan guru tadi tidak masuk akal, Simon menurut juga dengan berkata, “… tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga,” (ayat 5b).

Sesuatu yang luar biasa terjadi. Jala yang ditebarkan itu penuh dengan ikan-ikan, bahkan penuh sesak, sehingga jala itu mulai koyak (ayat 6). Pengalaman ini membuat Simon tidak lagi mengenali Yesus sebagai guru Yahudi semata, melainkan lebih dari itu, sebagai pribadi yang berkuasa (bahasa Yunani: kyrios). Simon pun mulai menyadari keberdosaan dirinya. Ia merasa tidak layak menerima mujizat tersebut. Simon juga menyesal karena sempat ragu pada permintaan Yesus.

BACA JUGA  Gereja (yang) Menghidupi Kemerdekaan

Bulan Maret ini, beberapa penatua akan diteguhkan untuk memulai karya pelayanan di tengah-tengah dan bersama dengan Jemaat. Beberapa menampakkan wajah baru dan segar, sementara ada juga wajah yang sudah dikenal lama alias sudah turun-naik sebagai penatua berkali-kali. Tidak menjadi masalah, yang penting mereka dapat bekerja sama untuk kepentingan Tuhan, dan bukan untuk menampilkan ego dan perasaan ingin lebih dihormati di tengah-tengah Jemaat.

Perlu kita perhatikan, seiring berjalannya waktu dan lamanya melayani tidaklah menjamin seorang yang melayani sebagai penatua mengalami pertumbuhan spiritualitas bersama Tuhan. Banyaknya rapat (seringkali yang menyita begitu banyak waktu, tenaga, emosi, pikiran), perlawatan, penyusunan program kerja, pembuatan laporan pelaksanaan kegiatan beserta evaluasinya, administrasi dan keuangan gereja, serta berbagai urusan organisasi lainnya dapat saja membuat seorang penatua tidak lagi menyelami panggilan dan berjalan dalam anugerah-Nya sebagai penatua.

Ia pun terjatuh hanya sekedar menjadi pelaksana program atau kewajiban semata. Tanpa disadari, ia telah kehilangan rasa takjub pada anugerah Allah yang telah memilih dirinya sekalipun tak layak sebagai penatua.

Oleh sebab itu, penting rasanya tetap kembali kepada panggilan mula-mula dan memperdalam penghayatan berjalan di dalam anugerah-Nya setiap saat…

Penulis: Pdt. Markus Hadinata (Ketua Bidang Pembinaan BPMK GKI Klasis Cirebon)