Nampaknya tidak banyak yang menduga bahwa gerakan sosial semasif Hatopan Kristen Batak (HKB) justru bermula dari salah satu bentuk perkumpulan ibadah gerejawi, yaitu paduan suara Zangvereeniging Hadomuan di Balige. Paduan suara gereja Batak ini beranggotakan para pegawai, guru sekolah pemerintah, sekolah zending dan para pegawai di badan-badan swasta. Paduan suara Hadomuan menjadi mata rantai yang menghubungkan minat orang-orang di bidang kegerejaan dan bidang sosio-politis.

Jelang HKB berdiri pada 1917, kondisi umum Tanah Batak memang digambarkan terbilang berat. Tapanuli Selatan (Angkola-Mandailing) sudah dianeksasi oleh Belanda sejak tahun 1834. Tak lama kemudian, Tapanuli Tengah yang telah ditinggalkan oleh Inggris, sudah memberlakukan pengenaan pajak dan rodi oleh Belanda. Bahkan rakyat dibuat menderita dengan kebijakan “sistem tanam paksa” yang menimbulkan perbudakan yang disebut parhatobanon.

Sistem masyarakat yang dibangun oleh Kolonial Belanda adalah feodalisme. Kaum feodal terdiri dari para kepala negeri dan orang-orang kaya. Mereka memiliki ratusan hatoban (budak) yang berstatus turun-temurun bahkan yang boleh diperjual-belikan. Kepincangan sosial ini menjadi sasaran kritik sosial oleh para pelopor pejuang dari kalangan grass root masyarakat Batak pada awal abad ke-20.

Catatan-catatan harian M.H Manullang, pendiri HKB, menuliskan dengan penekanan bubuhan garis bawah tebal, bahwa pada mulanya tujuan utama organisasi ini ialah untuk menolak concesiejagers dan upaya penghapusan kerja rodi. Seiring pergolakan yang dihadapi, maka tujuan dari perkumpulan Kristen Batak ini semakin substantif untuk memperkokoh persatuan umat Kristen Batak, meningkatkan kesadaran Kristiani, dan memajukan kehidupan sosial masyarakat Batak.

HKB pun menjadi kekuatan besar dalam tubuh gereja Batak. Hal ini tidak dibayangkan sebelumnya oleh para misionaris Eropa. Organisasi perkumpulan paduan suara bertransformasi sebagai kekuatan besar dalam menghancurkan ilusi paternalistik gereja dan pemerintah. Hal tersebut tampak nyata pada kongres-kongres yang diadakan oleh HKB. Lewat gerak organisasi, permasalahan-permasalahan sosial yang dijumpai dalam masyarakat Batak semakin dipercakapkan dalam ranah politik dan kebijakan-kebijakan pemerintah.

BACA JUGA  Seri Gereja Nusantara: HKB dan Gerak Sosio-Politis Kekristenan Batak (1)

Misalnya saja HKB, ketika diketuai oleh Manullang, melakukan lobi kepada Direktur Pemerintahan Dalam Negeri (Carpentier-Alting) agar sekolah dibangun lebih banyak, diadakan pengurangan pajak, pembangunan irigasi, dan perbaikan makanan di penjara (karena orang-orang Batak di penjara mendapat perlakukan diskriminatif). Selanjutnya, ia juga meminta agar kerja rodi dihapus, atau jika tidak, agar rodi juga diberlakukan juga kepada orang non-pribumi, dan tidak ada lagi tanah yang disewakan melalui erfpacht (kepemilikan tuan tanah).

Lebih jauh, HKB pun pernah menuntut agar peradilan pribumi (inheemsche reschtspraak) yang berdasarkan adat, yang memberi terlalu banyak kuasa kepada pegawai pemerintah dan raja, diganti dengan hukum Barat (gouvernementsrechtspraak) yang lebih egaliter. Akan tetapi semua permintaan HKB tidak mendapat janji apa-apa dari Carpentier.

Saat kongres ketiga HKB diadakan di Sipoholon tahun 1919, organisasi ini telah mempunyai sekitar 4.000 anggota. Kongres pun semakin gencar membahas berbagai permasalahan sosial yang ditemukan dalam masyarakat Batak disampaikan untuk dibahas, di antaranya protes atas kebijakan Gubernur Jenderal terhadap tanah di Pansur Batu, subdistrik Tarutung, yang telah diambil alih oleh para pengusaha. HKB juga menyampaikan sikap protes pada penamaan “si Batak” yang diberikan kepada anjing milik seorang pegawai berkebangsaan Eropa, dan juga meneruskan tuntutan dari berbagai daerah agar diberikan status yang lebih baik kepada perempuan dalam adat Batak.

Sikap yang diambil oleh HKB, meski bertentangan dengan gaya bergereja para misionaris Eropa, jelas merupakan refleksi dari keimanan Kristen. Sejak awal didirikan, maupun saat semakin kritis dalam gerakan sosio-politisnya, kekristenan adalah warna yang dominan di HKB.

Disarikan dari: Kekristenan di Tanah Batak: Tinjauan Sosio-Politis di Tanah Batak dan Pergerakan Kemerdekaan Indonesia (Pdt. Jetti Lisantri Samosir)
Ilustrasi: detik