Asia adalah sasaran misi.

Semangat itu begitu mewarnai kekristenan Eropa dan Amerika sejak abad ke-17. Dalam banyak presentasi badan misi saat itu, uraian tentang berbagai suku bangsa Asia yang belum mengenal Injil Kristus begitu mendominasi. Bahkan beberapa ratus tahun sebelumnya misi Gereja Katolik telah menyiratkan upaya yang sama.

Upaya itu memang terlihat hasilnya belakangan ini. Hampir semua gereja-gereja di India, Tiongkok, Jepang, Filipina hingga kepulauan nusantara dan kepulauan Pasifik adalah hasil kerja badan-badan misi itu. Kekristenan hasil taburan misi Barat ini pula yang menjadi wajah utama kekristenan di Asia masa kini.

Tapi sejatinya Kekristenan justru berasal dari sini. Tepatnya di bagian Barat. Sejak abad-abad pertama Masehi kekristenan telah mewarnai wilayah Levantin, Arabia, Persia hingga ke India dan jantung tengahnya. Kita mengenalnya dalam wajah kekristenan Timur, seperti di Gereja Ortodoks, Gereja Assyiria Timur (Nestorian) atau rumpun Gereja-gereja Mar Thoma di Persia dan India. Tapi itu bukanlah wajah yang dominan di masa sekarang, mungkin tak sampai 5% dari total 370 juta orang Kristen di benua terbesar ini.

Wajah Kristen Asia masa kini memang menjadi gambaran unik. Meski jumlahnya terbilang sangat besar, sekitar 13% dari seluruh orang Kristen sedunia, gereja-gereja disini umumnya menjadi minoritas yang signifikan di tiap negaranya. Hanya di di Filipina, Timor Leste, Armenia, Georgia dan Wilayah Asia dari Rusia, kekristenan menjadi agama yang dianut mayoritas penduduk.

Di wilayah ini kekristenan juga hadir di tengah kemajemukan. Nyaris semua agama-agama besar dunia, lahir di benua ini. Kekristenan Asia mengalami tumbuh-kembang bersama Yudaisme, Zoroastrianisme, Mandeanisme, Islam, Hindu, Buddhisme, Konfusianisme, Taoisme, Shinto, hingga Baha’i, serta tak terhitung banyaknya kepercayaan-kepercayaan lokal.

BACA JUGA  Pdt Arliyanus tentang Pendidikan Politik dan Pemilu

Di sisi lain, dalam tubuh kekristenan itu sendiri muncul banyak keragaman. Hampir semua denominasi gereja di dunia telah mewarnai Asia dengan banyak variasi ajaran dan pola pelayanan di tingkat lokal. Gereja Katolik, serta rumpun utama Protestan seperti Komuni Anglikan dan Gereja-gereja Calvinis punya penganut yang cukup banyak, namun hampir tidak ada warna yang dominan.

Selain wilayah Asia Timur dan Barat, umumnya negara-negara lain tergolong ke negara berkembang. Dimana permasalahan sosial menjadi pergumulan tersendiri, berbeda dengan yang dialami rekan-rekannya di Eropa dan Amerika Utara.

Kesemua latar inilah yang belakangan mempengaruhi perkembangan teologi khas. Pendekatan teologis yang berbela rasa pada yang lemah, terbuka pada keberagaman, mengejar keseimbangan dan harmoni, kerendahan hati yang tidak mendominasi, atau pendekatan yang holistik, menekankan pembebasan, menguatkan identitas kebangsaan, kini semakin menonjol saat teolog-teolog Asia mulai mendaraskan landasan teologi khas buat gereja-gerejanya. **arms

Ilustrasi: CCA