Kita mungkin dengan mudah bisa mengidentikkan wajah kekristenan di Asia dengan negara seperti Filipina. Filipina memang merupakan negara dengan jumlah penganut Kristiani terbanyak di Asia. Saat ini warga Kristiani di Filipina sudah mencapai 93 juta jiwa. Bahkan, jika dilihat dari jumlah penganut Kristiani tiap negara di dunia, Filipina ada di posisi keempat, di bawah Amerika Serikat, Brazil dan Meksiko. Kekristenan, terutama Gereja Katolik Roma, telah lama menjadi salah satu unsur yang begitu mewarnai masyarakat negara kepulauan ini.

Namun, sebagian orang rasanya sulit untuk membayangkan bahwa di Tiongkok dan India juga ada sejumlah besar umat Kristiani. Kedua negara ini bahkan masuk dalam sepuluh besar negara dengan jumlah penganut Protestan terbanyak di dunia, melampaui negara-negara dengan tradisi klasik Protestan seperti Jerman atau Belanda.

Lebih jauh, Tiongkok pun mengalami pertumbuhan kekristenan yang terbilang pesat. Bisa jadi melampaui jumlah umat Kristiani di Filipina pada tahun-tahun mendatang. Jika ini terjadi, maka kita akan melihat warna lain kekristenan, yaitu umat Kristiani dalam jumlah besar, namun bukan di wilayah yang secara tradisional merupakan tradisi dan mayoritas Kristen. Mirip dengan apa yang dialami sebelumnya oleh Gereja Assyiria Timur (Nestorian), yang pernah besar di benua ini sekitar abad ke delapan.

Piramida penduduk Asia sebagian memang masih ada di kategori muda. Ini tentu berimbas pada perkembangan alami jumlah penganut Kristiani. Demikian pula, konversi dari keyakinan lain pada kekristenan masih merupakan fenomena yang biasa terjadi di sejumlah wilayah, meski bukan penyumbang jumlah terbesar. Karenanya, kekristenan hingga saat ini masih ada dalam trend yang bertumbuh.

Wajah yang menunjukkan perkembangan seperti ini membedakannya dengan kekristenan di Eropa, tempat asal hampir semua lembaga misi yang mengembangkan gereja di Asia. Umat Kristiani di Asia masih belum jenuh bergereja. Gereja masih merupakan salah satu penggerak denyut kehidupan. Bahkan di wilayah perkotaan, dimana banyak tradisi kultural tergerus, gereja masih ramai, terutama dalam warna neo-evangelikal.

BACA JUGA  Kebangkitan Nasional dan Cinta Indonesia

Perkembangan ini pula yang turut mendorong kemandirian teologis gereja-gereja di Asia. Teolog-teolog Asia tidak melulu harus menoleh pada rekan Barat-nya untuk menjawab sejumlah tantangan yang tentunya berbeda. Di berbagai aliran, para tokoh Kristen Asia sudah mulai saling melayani, tidak mesti tergantung pada lembaga misi awal mereka dari Eropa. **arms

Ilustrasi: OCA