Dalam bukunya yang berjudul “Change” Rhenald Kasali menegaskan pentingnya perubahan dengan mengatakan bahwa perubahan adalah satu-satunya bukti kehidupan. Jadi berubah mestinya adalah hal yang biasa bagi manusia.

Namun, Rhenald juga mengingatkan bahwa seringkali banyak orang yang tidak menyadari sesuatu telah berubah,bahkan mendiamkannya, alias tidak meresponnya sama sekali. Mengapa ada orang tidak meresponi bahkan menyangkali perubahan? Ia mengatakan bahwa mereka beranggapan cuma cara merekalah yang benar, dan yang lain salah. Orang-orang ini akan menjadi fanatik dan beranggapan apa yang diketahuinya sebagai segala-galanya, dan apa yang tidak diketahuinya sebagai nothing.

Apa yang terjadi ketika pemikiran seperti itu muncul? Status quo. Kata status quo berasal dari bahasa Latin, artinya ‘keadaan tetap sebagai¬mana keadaan sekarang atau sebagaimana keadaan sebelumnya’. Jadi, mempertahankan status quo berarti mempertahankan keadaan sekarang yang tetap seperti keadaan sebelumnya. Tidak ada perubahan dan tidak mau adanya perubahan.

Hal inilah yang terjadi dengan para pemimpin agama yang hidup pada zaman Yesus. Setelah berabad-abad mengembangkan sistem keagamaan dan ritual yang menitik-beratkan pada sistem kekudusan yang membagi masyarakat dalam kategori kudus (tahir) atau tidak, mereka merasa bahwa itulah satu-satunya cara dalam beragama.

Walaupun label seperti itu sangat tidak adil, khususnya bagi masyarakat umum dan miskin, tapi sepertinya mereka tidak peduli. Pokoknya, apa yang sudah ditetapkan tidak perlu dikaji lagi. Itulah sebabnya, ketika Yesus datang dengan konsep berbeda, yaitu menitik-beratkan pada belaskasihan kepada orang-orang yang dikategorikan tidak kudus, langsung mereka bereaksi sangat keras dan mencap Yesus sebagai pembangkang dan pelanggar hukum agama. Itulah sebabnya Yesus menyindir mereka dengan analogi anggur baru dan kantong baru.

Menurut William Barclay, dalam masyarakat Yahudi waktu itu, yang belum mengembangkan teknologi botol, anggur disimpan di kantong yang terbuat dari kulit. Bila masih baru, kulit itu bersifat lentur; bila sudah lama, kulit itu menjadi keras dan tak dapat meregang. Anggur baru masih meragi, ia menghasilkan gas. Gas ini menekan. Jika kulit masih baru, kantong itu akan meregang seiring dengan tekanan yang ia terima. Namun kulitnya sudah tua, keras dan kering, kantong itu akan pecah sehingga anggur terbuang dan kulitnya rusak.

BACA JUGA  Griya Kesehatan Indonesia Gelar Seminar Peningkatan Kompetensi Dokter

Apa yang mau ditegaskan oleh Yesus melalui analogi tersebut? Yesus meminta adanya elastisitas tertentu dalam pikiran kita berkaitan dengan perubahan. Ia menyerukan perubahan dalam pola pikir dalam menangkap cara kerja Allah yang berbeda pada setiap zaman. Jangan karena sebuah sistem itu sudah menjadi tetap dan mapan dalam cara-caranya, kita tidak lagi mampu menerima kebenaran baru atau memikirkan cara-cara baru di zaman yang baru.

Kalau demikian halnya, kita mungkin secara fisik hidup, tetapi sebenarnya secara mental, kita mati. Karena ciri kehidupan itu tidak pernah statis melainkan selalu dinamis. Dalam setiap zaman dan setiap hal, selalu ada acara-cara baru yang Allah hadirkan untuk melayani-Nya dan melayani dunia yang diciptakan-Nya. Dan, kita perlu mengembangkan elastisitas pemikiran kita untuk menangkap perubahan yang Allah mau hadirkan.

Pertanyaan yang patut kita renungkan berkaitan dengan pelayanan kita: maukah kita belajar berubah menyesuaikan diri dengan cara-cara baru yang Allah mau kita lakukan dalam gerak pelayanan kita? Maukah kita mengembangkan elastisitas berpikir untuk menangkap ide-ide segar dari Allah dalam menghadirkan berkat-Nya bagi dunia ini?

Ingat, gereja yang hidup adalah gereja yang berubah dalam segala dinamikanya. Kalau tidak mau berubah, maka gereja itu sedang menggali lobang kuburnya. Bukankah kita sudah melihat dalam sejarah berapa banyak gereja yang tinggal nama atau terus mengecil karena hanya memelihara tradisi saja dan tidak belajar beradaptasi dengan perubahan yang Allah sedang dan akan kerjakan?

Penulis: Pdt. Samuel Wiratama (GKi Citra Raya)