Peristiwa perjalanan ke Emaus bukan sekadar perjalan ‘pulang kampung’ kedua murid, melainkan sebuah perjalanan melarikan diri dari realitas. Kabur dari sebuah kenyataan bahwa orang yang mereka kagumi sudah wafat dengan cara yang mengenaskan.

Di dalam kehidupan sehari-hari, kita mungkin pernah mengalami “perjalanan-perjalanan menuju Emaus” ini, yaitu di saat kita tidak sanggup lagi untuk mengisi kehidupan ini dengan semangat baru, karena pengalaman kegagalan dan kepahitan. Kemana kita pergi ketika persoalan itu datang menghampiri kita? Apakah dengan mengunjungi kedai kopi atau café? Apakah melampiaskan dengan video game, novel, atau film terbaru? Apakah melarikan diri dengan cuti panjang? Lalu apakah itu menolong?

Tidak bisa disangkal bahwa ‘kebodohan’ yang dialami mereka pun, juga sering kita alami. Kehadiran Tuhan di dalam kehidupan seringkali tidak bisa kita sadari apalagi dikenali. Semua tertutup dengan segala pemikiran-pemikiran dan prasangka-prasangka negatif.

Padahal sebenarnya kita tahu, bahwa Tuhan Yesus senantiasa hadir dan menyertai setiap langkah perjalanan kita. Melalui banyak orang dan banyak peristiwa, Ia mengajarkan banyak hal. Dalam kesibukan sehari-hari, di tengah aktivitas dan pekerjaan, Tuhan selalu hadir dan menyertai, namun kita tidak selalu menyadari dan memikirkan-Nya. Maka, amat penting bagi kita untuk mau menghentikan langkah sejenak, berhenti dari kesibukan, aktivitas dan pekerjaan kita untuk diam, hening, merenung, berefleksi dari kisah perjalanan ke Emaus ini.

Pertama, perjalanan ke Emaus adalah sebuah ‘perjalanan iman.’ Sebagaimana dua orang tadi berjalan dalam kekecewaan dan kesedihan, demikian pula kita. Perjalanan iman senantiasa diperhadapkan dengan bongkahan-bongkahan kesukaran, kesedihan, kekecewaaan dan pergumulan-pergumulan hidup lainnya. Tidak ada perjalanan iman tanpa kerikil dan hambatan. Iman yang bertumbuh di tengah kesukaran itulah yang menjadi daya, dan kekuatan bagi orang percaya dalam menjalani hidupnya.

BACA JUGA  Bincang-Bincang Pemilu 2019 di GKI Gunung Sahari

Boleh jadi umat datang ke rumah Tuhan dengan hati rapuh, penuh kesedihan, dukacita, mungkin juga kecewa karena harapan-harapan berbeda dengan kenyataan. Itu semua bagian dari naik turunnya perjalanan iman. Penuh kerapuhan, keraguan, ketakutan, tetapi juga terdapat harapan dan optimisme di masa depan.

Kedua, perjalanan ke Emaus adalah sebuah ‘perjumpaan yang mengubahkan.’ Kedua murid tersebut baru benar-benar mengalami perjumpaan dengan Yesus ketika mereka mengundang-Nya untuk bermalam di tempat mereka. Ketika kita mengajak-Nya tinggal dalam hidup dan hati kita, dan terus menyadari keberadaan-Nya, maka di situlah perjumpaan yang mengubahkan terjadi. Kefrustasian dapat berubah menjadi “kobaran semangat” kebangkitan, jika kita berani mengundang Yesus untuk “tinggal” di antara kita, seperti yang dilakukan oleh kedua murid di Emaus itu.

Ketiga, perjalan ke Emaus adalah sebuah ‘komitmen untuk bertindak.’ Setelah mengalami perjumpaan dengan Yesus, kedua orang yang tadinya dipenuhi dukacita dan kekecewaan, kini mengalami sukacita dan kekuatan. Kemudian, mereka tidak tinggal diam, tetapi bersemangat untuk menyampaikan kabar sukacita itu kepada orang lain. Mereka bergegas kembali ke Yerusalem. Ada komitmen yang menggerakan sebuah tindakan untuk meneruskan sukacita itu. Begitu juga seharusnya ketika kita mengalami perjumpaan yang mengubahkan itu.

Peristiwa kebangkitan dan perjumpaan Yesus dengan dua orang dalam perjalanan ke Emaus menolong kita memaknai peristiwa kebangkitan Tuhan Yesus secara khusus. Perjalanan itu menunjukan kepada kita bahwa Tuhan hadir di tengah kehampaan, kekalutan, bahkan ketakutan dan kekurangyakinan kita. Ia menghadirkan diri-Nya di tengah liku-liku perjalan iman umat dan terus berupaya agar kehadiran-Nya itu dapat disadari oleh umat. Seringkali, masalah atau persoalan menghalangi kita untuk menyadari kehadiran Tuhan bukan?

Memaknai perjalanan ke Emaus, kiranya menolong kita menyadari kehadiran Tuhan dalam berbagai peristiwa kehidupan, mengalami perjumpaan yang mengubahkan melalui kehadiran-Nya, lalu perjumpaan yang mengubahkan itu menolong kita menghadirkan Kristus dalam kehidupan.

BACA JUGA  Topeng

Penulis: Pdt. Timothy Setiawan (GKI Kebonjati)